لَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ فِيْهَا وَلَدَيْنَا مَزِيْدٌ
Lahum mā yasyā'ūna fīhā wa ladainā mazīd(un).
Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki dan pada Kami masih ada lagi tambahan (nikmat).
Mereka di dalamnya, yakni di dalam surga, memperoleh apa yang me-reka kehendaki, berupa segala macam kenikmatan dan pada Kami ada tambahannya, kenikmatan yang tidak ada taranya yang tidak pernah terlintas oleh pikiran.
Ayat ini mengungkapkan bahwa bagi mereka di dalam surga itu disediakan kenikmatan apa saja yang mereka ingini, kenikmatan yang belum pernah mereka lihat dengan mata, belum pernah mereka dengar dengan telinga dan belum pernah mereka bayangkan dalam hati, dan di samping kenikmatan yang tidak terkira itu, ada lagi tambahan dari Allah yaitu dapat melihat wajah Allah yang merupakan puncak dari segala kenikmatan seperti dalam firman-Nya:
لِلَّذِ ْنَ اَحْسَنُوا الْحُسْنٰى وَزِيَادَةٌ
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). (Yūnus/10: 26)
1. Wa Uzlifat وَأُزْلِفَتْ (Qāf/50: 31)
Kata uzlifat adalah fi‘il māḍī (kata kerja lampau) yang mengikuti pola majhūl (pasif). Pola aktifnya adalah azlafa-yuzlifu. Kata azlafa terbentuk dari kata zalafa yang berarti maju dan mendekat. Lalu kata ini ditambah hamzah qaṭ‘i di awal menjadi azlafa. Penambahan ini mengubahnya dari intransitif menjadi transitif (membutuhkan objek), dan artinya adalah mendekatkan. Darinya diambil kata zulfah yang berarti kedudukan. Darinya diambil kata zulafan yang berarti bagian permulaan, sebagaimana dalam firman Allah, “Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam.” (Hūd/11: 114) Maksud kata uzlifat di sini adalah didekatkan.
2. Bi-qalbin Munībin بِقَلْبٍ مُنِيْبٍ (Qāf/50: 33)
Kata qalb berarti hati, sedangkan kata munīb adalah isim fā‘il dari kata anāba-yunību-inābatan. Kata dasarnya adalah nāba-yanūbu-nauban yang memiliki beberapa akar makna, yaitu turun atau terjadi, kembali, dan menggantikan. Kata naibah berarti berbagai kebutuhan dan kejadian yang terjadi pada manusia. Hujan yang lebat disebut al-munīb. Lebah juga disebut an-nūbu karena ia selalu kembali ke sarangnya. Kalimat nābanī fulān berarti fulan menggantikan kedudukanku. Dan yang menjadi akar makna dari kata munīb di sini adalah kembali. Di dalam Al-Qur’an kata anāba dengan berbagai bentuk derivasinya disebut sebanyak delapan belas kali, dan keseluruhannya bermakna ‘kembali kepada Allah dengan bertobat’.
















































