وَعَجِبُوْٓا اَنْ جَاۤءَهُمْ مُّنْذِرٌ مِّنْهُمْ ۖوَقَالَ الْكٰفِرُوْنَ هٰذَا سٰحِرٌ كَذَّابٌۚ
Wa ‘ajibū an jā'ahum munżirum minhum, wa qālal-kāfirūna hāżā sāḥirun każżāb(un).
Mereka heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka. Orang-orang kafir berkata, “Orang ini adalah penyihir yang banyak berdusta.
Kami utus Nabi Muhammad kepada penduduk Mekah dan mereka yang ingkar merasa heran karena mereka kedatangan seorang rasul pemberi peringatan yang tidak lain berasal dari kalangan mereka sendiri; dan karena keingkaran yang begitu dalam kepada Rasulullah, orang-orang kafir berkata, “Orang ini adalah penyihir yang banyak berdusta.” Mereka berkata demikian karena apa yang disampaikan oleh Nabi tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Ayat ini mengungkapkan keadaan orang-orang kafir Mekah yang sangat heran ketika nabi yang datang kepada mereka ternyata manusia biasa dari kalangan mereka juga. Menurut mereka, Muhammad yang mengaku dirinya diangkat menjadi rasul itu tidak mempunyai keistimewaan, baik keistimewaan jasmani maupun rohani, padahal kedudukan rasul itu tinggi. Dengan demikian, tidak mungkin Muhammad menduduki kedudukan yang tinggi. Itulah sebabnya maka mereka mengatakan bahwa Muhammad hanyalah tukang sihir. Dia penipu dan pendusta. Apa yang disampaikan baik berupa perintah atau pun larangan yang dikatakan dari Allah adalah dusta. Firman Allah:
اَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا اَنْ اَوْحَيْنَآ اِلٰى رَجُلٍ مِّنْهُمْ اَنْ اَنْذِرِ النَّاسَ وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ قَالَ الْكٰفِرُوْنَ اِنَّ هٰذَا لَسٰحِرٌ مُّبِيْنٌ ٢
Pantaskah manusia menjadi heran bahwa Kami memberi wahyu kepada seorang laki-laki di antara mereka, “Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan.” Orang-orang kafir berkata, “Orang ini (Muhammad) benar-benar pesihir.” (Yūnus/10: 2)
1. Manāṣ مَنَــاص (Ṣād/38: 3)
Kata manāṣ terambil dari kata nāṣa-yanūṣu-manīṣan -wa manāṣan yang berarti berlindung dari sesuatu. Sebagian yang lain terutama masyarakat jahiliah Arab menggunakan kata ini sebagai istilah untuk berlari mundur ke belakang ketika terjadi kepanikan dan kekalutan dalam peperangan. Kata ini pada awalnya digunakan untuk menggambarkan sesuatu gerakan yang tidak tentu baik ke depan atau ke belakang untuk mencari sebuah perlindungan, akan tetapi gerakan maju mundur ini disertai dengan perasaan panik yang tidak menentu. Sebagian mengartikan bergerak dan pergi. Intāṣat asy-syams artinya matahari telah bergerak dan terbenam. An-Nauṣ berarti melarikan diri. Nāṣa al-faras berarti kuda itu berlari dan bergerak. Kata ini juga mengandung arti keterlambatan, yang pasti kata ini menunjukkan kepada arti gerakan yang tidak menentu dan pasti.
Pada ayat ini, Allah menjelaskan tentang kisah umat terdahulu sebagai iktibar untuk kaum kafir Mekah. Dijelaskan oleh Allah bahwa umat-umat sebelum mereka karena kesombongan dan keangkuhannya, maka Allah membinasakan mereka dan menurunkan azab yang hebat. Pada saat azab ditimpakan, mereka meminta pertolongan kepada Allah padahal saat itu bukanlah waktu untuk meminta pertolongan, tidak ada gunanya lagi walaupun mengiba sepenuh hati. Mereka tidak akan bisa melepaskan diri dari siksa tersebut (Walāta ḥīna manāṣ).
2. ‘Ujāb عُجَــاب (Ṣād/38: 5)
Kata ‘Ujāb menggunakan pola wazan fu‘āl dengan ḍammah di awalnya untuk menunjukkan arti mubalagah (melebihkan makna), terambil dari akar kata ‘ajiba-ya‘jabu-‘ajaban yang berarti sesuatu yang sangat mengherankan karena tidak terbiasa atau karena sangat sedikit kejadiannya. Bentuk jamaknya adalah a‘jāb. Sedangkan isti‘jab adalah ungkapan yang menunjukkan pada ketakjuban dan keheranan yang luar biasa. Pola ini mengindikasikan adanya makna kemantapan sifat tersebut. Kata ini dengan berbagai derivasinya terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 27 kali. Kesemuanya menunjukkan pada sifat aneh, takjub, ajaib, heran, dan kagum. Sifat ini mustahil dinisbahkan kepada Allah, karena bagi-Nya tidak tersembunyi sesuatu yang aneh. Kendati dinisbahkan seperti bunyi hadis “ajiba rabbuka min qaum yuqāduna ila al-jannah fi as-salāsil”,yang artinya” Tuhanmu merasa heran terhadap satu kaum yang digiring menuju surga dalam keadaan terbelenggu”. Maka itu adalah bentuk kiasan (majaz). Ungkapan ini juga memiliki arti kesombongan.
Pada ayat ini dijelaskan tentang sikap orang-orang kafir yang merasa aneh dan heran (ta‘ajub) akan ajakan Rasulullah. Orang-orang kafir heran, mengapa Muhammad menjadikan Tuhan hanya satu, padahal sejak dahulu mereka dan nenek moyangnya berkeyakinan bahwa Tuhan itu banyak. Mereka menganggap apa yang diseru oleh Muhammad adalah sesuatu yang mengherankan dan bertentangan dengan keyakinan nenek moyang mereka (inna hāżā lasyai’un ‘ujāb). As-Sulami membacanya dengan menggunakan tasydid pada huruf jim untuk mubalagah pada rasa ta‘ajjub. Untuk itu, mereka tidak mau mengikuti ajakan Muhammad bahkan mereka meng-anggap Muhammad adalah seorang pendusta dan pembohong.















































