Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
User Photo Profile
Al-Quran
Ayat 5 - Surat Ṣād (Ṣād )
صۤ
Ayat 5 / 88 •  Surat 38 / 114 •  Halaman 453 •  Quarter Hizb 46 •  Juz 23 •  Manzil 6 • Makkiyah

اَجَعَلَ الْاٰلِهَةَ اِلٰهًا وَّاحِدًا ۖاِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

Aja‘alal-ālihata ilāhaw wāḥidā(n), inna hāżā lasyai'un ‘ujāb(un).

Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.”

Makna Surat Sad Ayat 5
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Ketika Nabi mengajak mereka menyembah dan mengesakan Allah, mereka menjawab dengan penuh keingkaran, “Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan. Kami, kabilah-kabilah Arab, mempunyai tuhan masing-masing.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Sebab nuzul ayat ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarīr aṭ-Ṭabarī dari Ibnu ‘Abbās yang menyatakan bahwa setelah Abū Ṭalib sakit, masuklah serombongan orang-orang Quraisy, di antara mereka terdapat Abū Jahal. Mereka berkata, “Sesungguhnya kemenakanmu mencaci-maki tuhan-tuhan kami. Ia betul-betul berbuat dan mengatakannya. Alangkah baiknya kalau engkau mengutus seseorang untuk melarangnya.” Maka Abū Ṭalib pun mengutus utusan kepadanya. Lalu Nabi pun datang dan masuk ke rumahnya, sedangkan jarak antara orang-orang Quraisy dengan Abū Ṭalib dekat sekali sekadar tempat duduk yang cukup untuk seorang. Ibnu ‘Abbās mengatakan bahwa Abū Jahal khawatir kalau-kalau Nabi duduk di samping Abū Ṭalib. Lalu ia menjadi bersikap lunak. Ia lalu melompat dan duduk di tempat yang belum diduduki di sisi Abū Ṭalib. Dengan demikian Rasulullah tidak mendapatkan tempat duduk di dekat pamannya. Beliau duduk di dekat pintu. Lalu Abū Ṭalib berkata kepada beliau, “Hai kemenakanku, mengapa kaummu mengadukan engkau. Mereka menuduh engkau memaki tuhan-tuhan mereka dan engkau pun mengatakan begini-begitu.” Ibnu ‘Abbas melanjutkan bahwa orang-orang Quraisy banyak sekali berbicara dengan Abū Ṭalib.

Kemudian Rasulullah berkata, “Hai Pamanku. Sesungguhnya saya ingin agar mereka itu menyatakan kalimat yang satu saja, yang dengan kalimat itu orang-orang Arab tunduk kepada mereka, dan orang-orang ‘Ajam (selain Arab) membayar jizyah (pajak kepala) kepada mereka.” Maka mereka pun senang akan kalimat (yang diusulkan itu) dan senang pula akan perkataan Rasul. Lalu kaum Quraisy itu bertanya, “Apakah kalimat itu? Demi Ayahmu, tentu kami memberi balasan kepadamu sepuluh kali lipat.” Rasulullah pun bersabda, “Lā ilāha ilallāh.” Maka mereka pun bangkit dengan gemetar, sambil menyingsingkan lengan bajunya dan berkata, “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang mengherankan.” Maka turunlah ayat ini.

Allah menjelaskan keheranan kaum musyrik akan seruan rasul. Mereka heran mengapa Muhammad menjadikan Tuhan hanya satu saja, ini bertentangan dengan kepercayaan nenek moyang mereka. Ketika Rasulullah mengajak mereka agar meninggalkan sembahan-sembahan mereka yang banyak itu dan menggantinya dengan menyembah Allah Yang Maha Esa, maka mereka menganggap bahwa seruan Muhammad itu bukan masalah yang remeh, akan tetapi benar-benar suatu yang mengherankan. Mereka mengingkari seruan itu karena yakin bahwa tidak mungkin nenek moyang mereka menganut keyakinan yang salah, tetapi Muhammad adalah seorang pendusta yang mengaku dirinya benar.

Isi Kandungan Kosakata

1. Manāṣ مَنَــاص (Ṣād/38: 3)

Kata manāṣ terambil dari kata nāṣa-yanūṣu-manīṣan -wa manāṣan yang berarti berlindung dari sesuatu. Sebagian yang lain terutama masyarakat jahiliah Arab menggunakan kata ini sebagai istilah untuk berlari mundur ke belakang ketika terjadi kepanikan dan kekalutan dalam peperangan. Kata ini pada awalnya digunakan untuk menggambarkan sesuatu gerakan yang tidak tentu baik ke depan atau ke belakang untuk mencari sebuah perlindungan, akan tetapi gerakan maju mundur ini disertai dengan perasaan panik yang tidak menentu. Sebagian mengartikan bergerak dan pergi. Intāṣat asy-syams artinya matahari telah bergerak dan terbenam. An-Nauṣ berarti melarikan diri. Nāṣa al-faras berarti kuda itu berlari dan bergerak. Kata ini juga mengandung arti keterlambatan, yang pasti kata ini menunjukkan kepada arti gerakan yang tidak menentu dan pasti.

Pada ayat ini, Allah menjelaskan tentang kisah umat terdahulu sebagai iktibar untuk kaum kafir Mekah. Dijelaskan oleh Allah bahwa umat-umat sebelum mereka karena kesombongan dan keangkuhannya, maka Allah membinasakan mereka dan menurunkan azab yang hebat. Pada saat azab ditimpakan, mereka meminta pertolongan kepada Allah padahal saat itu bukanlah waktu untuk meminta pertolongan, tidak ada gunanya lagi walaupun mengiba sepenuh hati. Mereka tidak akan bisa melepaskan diri dari siksa tersebut (Walāta ḥīna manāṣ).

2. ‘Ujāb عُجَــاب (Ṣād/38: 5)

Kata ‘Ujāb menggunakan pola wazan fu‘āl dengan ḍammah di awalnya untuk menunjukkan arti mubalagah (melebihkan makna), terambil dari akar kata ‘ajiba-ya‘jabu-‘ajaban yang berarti sesuatu yang sangat mengherankan karena tidak terbiasa atau karena sangat sedikit kejadiannya. Bentuk jamaknya adalah a‘jāb. Sedangkan isti‘jab adalah ungkapan yang menunjukkan pada ketakjuban dan keheranan yang luar biasa. Pola ini mengindikasikan adanya makna kemantapan sifat tersebut. Kata ini dengan berbagai derivasinya terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 27 kali. Kesemuanya menunjukkan pada sifat aneh, takjub, ajaib, heran, dan kagum. Sifat ini mustahil dinisbahkan kepada Allah, karena bagi-Nya tidak tersembunyi sesuatu yang aneh. Kendati dinisbahkan seperti bunyi hadis “ajiba rabbuka min qaum yuqāduna ila al-jannah fi as-salāsil”,yang artinya” Tuhanmu merasa heran terhadap satu kaum yang digiring menuju surga dalam keadaan terbelenggu”. Maka itu adalah bentuk kiasan (majaz). Ungkapan ini juga memiliki arti kesombongan.

Pada ayat ini dijelaskan tentang sikap orang-orang kafir yang merasa aneh dan heran (ta‘ajub) akan ajakan Rasulullah. Orang-orang kafir heran, mengapa Muhammad menjadikan Tuhan hanya satu, padahal sejak dahulu mereka dan nenek moyangnya berkeyakinan bahwa Tuhan itu banyak. Mereka menganggap apa yang diseru oleh Muhammad adalah sesuatu yang mengherankan dan bertentangan dengan keyakinan nenek moyang mereka (inna hāżā lasyai’un ‘ujāb). As-Sulami membacanya dengan menggunakan tasydid pada huruf jim untuk mubalagah pada rasa ta‘ajjub. Untuk itu, mereka tidak mau mengikuti ajakan Muhammad bahkan mereka meng-anggap Muhammad adalah seorang pendusta dan pembohong.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto