Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 131 - Surat Ṭāhā (Taha)
طٰهٰ
Ayat 131 / 135 •  Surat 20 / 114 •  Halaman 321 •  Quarter Hizb 32.75 •  Juz 16 •  Manzil 4 • Makkiyah

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ەۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ ۗوَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى

Wa lā tamuddanna ‘ainaika ilā mā matta‘nā bihī azwājam minhum zahratal-ḥayātid-dun-yā, linaftinahum fīh(i), wa rizqu rabbika khairuw wa abqā.

Janganlah sekali-kali engkau tujukan pandangan matamu pada kenikmatan yang telah Kami anugerahkan kepada beberapa golongan dari mereka (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.

Makna Surat Taha Ayat 131
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Banyak orang kafir yang mendapat rezeki dan kenikmatan duniawi berlimpah. Allah mengingatkan kaum mukmin untuk tergiur dengan hal tersebut. Wahai orang beriman, janganlah kamu terpesona oleh apa yang orang kafir itu peroleh dan janganlah pula kamu tujukan kedua matamu dengan antusias dan penuh harap kepada apa yang telah Kami berikan, berupa kenikmatan duniawi, kepada golongan-golongan dari mereka. Sungguh, semua itu tidak lain sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya, dan ketahuilan bahwa karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal dari segala sisinya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menjelaskan bahwa untuk menguatkan hati Rasulullah dan meneguhkan pendiriannya dalam menghadapi perjuangan menegakkan kalimah Allah, Allah mengamanatkan kepadanya agar dia jangan mengalihkan perhatiannya kepada kesenangan, kemewahan dan kekayaan yang dinikmati oleh sebagian orang kafir karena hal itu akan melemahkan semangatnya bila matanya telah disilaukan oleh kilauan perhiasan dunia dan ingin mempunyai apa yang dimiliki orang-orang kaya. Semua nikmat yang diberikan kepada orang-orang kafir hanyalah sementara, ibarat bunga yang sedang berkembang, tetapi tak lama kemudian bunga yang harum semerbak itu akan layu dan berguguran daunnya satu persatu dan hilanglah segala keindahan dan daya tariknya. Nikmat kekayaan yang diberikan kepada orang-orang kafir itu hanyalah buat sementara saja sebagai ujian bagi mereka, apakah dengan nikmat Tuhan itu mereka akan bersyukur kepada-Nya dengan beriman dan mempergunakannya untuk mencapai keridaan-Nya ataukah mereka akan tetap kafir dan bertambah tenggelam dalam kesesatan, sehingga harta benda itu menjadi sebab kecelakaan mereka sendiri. Allah telah menganugerahkan kepada Nabi sebagai ganti nikmat lahiriyah itu nikmat yang lebih baik yaitu ketenangan hati dan kebahagiaan yang berupa keridaan Ilahi.

Diriwayatkan oleh Abu Rafì’, seorang tamu datang mengunjungi Rasulullah, sedang di rumahnya tidak ada yang patut disuguhkan kepada tamu itu. Rasulullah menyuruh saya meminjam sedikit tepung gandum kepada orang Yahudi dan akan dibayar nanti pada bulan Rajab. Orang Yahudi itu tidak mau meminjamkan kecuali dengan jaminan. Aku kembali kepada Rasulullah memberitakan hal itu. Rasulullah berkata:

وَاللّٰهِ اِنِّي لَاَمِيْنٌ فِى اَهْلِ السَّمَاءِ أَمِيْنٌ فِى اَهْلِ اْلاَرْضِ وَلَوْ اَسْلَفَنِي اَوْ بَاعَنِى 8öيْتُ اِلَيْهِ اِذْهَبْ بِدِرْعِى. (رواه البزار)

“Demi Allah, saya adalah orang yang dapat dipercaya di antara penghuni langit dan orang yang dapat dipercaya di antara penghuni bumi. Seandainya ia meminjami atau menjual padaku, tentu aku membayarnya. Bawalah baju perangku ini. (Riwayat al-Bazzār).

Kemudian turunlah ayat ini (Ṭāhā/20: 131).

Isi Kandungan Kosakata

1. Lizāmā لِزَامًا (Ṭāhā/20: 129)

Lizām akar katanya adalah lazama yang berarti “menempati dalam waktu lama” artinya “memastikan” “memaksakan”. Dalam Hūd/11:28 Nabi Nuh berkata kepada kaumnya yang kafir, “Apakah kami akan memaksakan kalian padanya padahal kalian tidak mau? Maksudnya adalah bahwa Nabi Nuh a.s. dan pengikutnya yang beriman tidak akan memaksa mereka yang tidak beriman bila mereka tidak mau. Persoalannya ia serahkan kepada Allah. Allahlah yang akan memutuskan kekafiran mereka itu.

Lizāmā mengandung arti “mutlak,” “pasti “. Dalam Ṭāhā/20:129 Allah menegaskan bahwa seandainya bukanlah karena Allah sudah memberikan ketetapan sebelumnya dan waktu yang sudah digariskan-Nya pula bahwa Ia tidak akan menjatuhkan azab-Nya sebelum waktunya itu, maka orang-orang kafir itu sudah dimusnahkan-Nya, sebagaimana Ia sudah memusnahkan umat-umat terdahulu. Tetapi Allah tidak mau memusnahkan mereka sekarang ini di dunia ini. Oleh karena itu Nabi Muhammad s.a.w. harus bersabar menghadapi pembangkangan mereka. Di akhirat nanti barulah pembangkangan itu lizāmā, yaitu pasti menemukan pembalasannya.

2. Lā tamuddanna ‘ainaika لاَتَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ (Ṭāhā/20: 131)

Kata pertama dalam klausa ini adalah lā tamuddanna, terambil dari kata madda artinya “memanjangkan”, “menjulurkan”, “memberi”, dan kata kedua, ‘ainaika artinya “kedua matamu” (Ṭāhā/20: 131). Maksudnya: Nabi Muhammad diminta Allah agar tidak memanjangkan kedua matanya, yaitu memberikan perhatiannya yang seksama, kepada kekayaan yang berlimpah yang dimiliki penentang-penentang agama Allah. Itu hanyalah harta benda duniawi, dan diberikan sebagai ujian bagi mereka. Sedangkan balasan yang akan diberikan Allah kepada Nabi Muhammad, dan mereka yang beriman, akan jauh lebih baik dan abadi. Ayat ini diriwayatkan turun berkenaan peristiwa Nabi s.a.w meminjam sedikit pangan dari seorang Yahudi, tetapi orang itu tidak mau meminjamkannya kalau tidak ada jaminan/agunannya. Kata madda itu bisa digunakan pada umumnya untuk arti positif, seperti ayat, “Kami beri mereka buah-buahan dan daging yang mereka sukai,” aṭ-Ṭūr/52:22. Dan ada pula yang digunakan untuk makna negatif, seperti, “Kami beri mereka azab dengan sebenar-benar memberi,” (Maryam/19:79).

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto