وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى
Wa'mur ahlaka biṣ-ṣalāti waṣṭabir ‘alaihā, lā nas'aluka rizqā(n), naḥnu narzuquk(a), wal-‘āqibatu lit-taqwā.
Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Kesudahan (yang baik di dunia dan akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.
Setelah memahami apa yang akan terjadi pada orang musyrik dan kafir, maka taatlah kepada-Nya dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Wahai nabi Muhammad, Kami tidak meminta rezeki kepadamu, melainkan Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Orang yang taat akan mendapat pahala, dan akibat yang baik itu adalah balasan yang paling layak bagi orang yang bertakwa.
Ayat ini menjelaskan amanat berikutnya yang tidak kurang pentingnya dari perintah sebelumnya ialah perintah Allah kepada Nabi saw menyuruh untuk keluarganya mengerjakan salat dan sabar dalam melaksanakan salat dengan menjaga waktu dan kesinambungannya. Perintah itu diiringi dengan perintah yang kedua yaitu dengan peringatan bahwa Allah tidak minta rezeki kepada Nabi, sebaliknya Allah yang akan memberi rezeki kepadanya, sehingga Nabi tidak perlu memikirkan soal rezeki keluarganya. Oleh sebab itu keluarganya agar jangan terpengaruh atau menjadi silau matanya melihat kekayaan dan kenikmatan yang dimiliki oleh istri-istri orang kafir itu. Demikianlah amanat Allah kepada Rasul-Nya sebagai bekal untuk menghadapi perjuangan berat, yang patut menjadi contoh teladan bagi setiap pejuang yang ingin menegakkan kebenaran di muka bumi. Mereka harus lebih dahulu menjalin hubungan yang erat dengan Khaliknya yaitu dengan tetap mengerjakan salat dan memperkokoh batinnya dengan sifat tabah dan sabar. Di samping itu haruslah seisi rumah tangganya mempunyai sifat seperti yang dimilikinya. Dengan demikian ia akan tabah berjuang tidak diombangambingkan oleh perhiasan kehidupan dunia seperti kekayaan, pangkat dan kedudukan.
Amanat-amanat inilah yang dipraktekkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya sehingga mereka benar-benar sukses dalam perjuangan mereka sehingga dalam masa kurang lebih 23 tahun saja Islam telah berkembang dengan pesatnya di seluruh jazirah Arab dan jadilah kalimah Allah kalimah yang paling tinggi dan mulia.
Jika Rasul dan keluarganya menghadapi berbagai kesuliltan, beliau mengajak keluarganya untuk salat, sebagaimana diriwayatkan dari Ṡābit, ia berkata :
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا اَصَابَتْ اَهْلَهُ خَصَاصَةٌ نَادَى أَهْلَهُ بِالصَّلاَةِ (صَلُّوْا صَلُّوْا) قَالَ ثَابِتٌ: وَكَانَ اْلاَنْبِيَاءُ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ اِذَا نَزَلَ بِهِمْ اَمْرٌ فَزَعُوْا اِلَى الصَّلَاةِ. (رواه ابن ابى حاتم)
Apabila keluarga Nabi ditimpa kesusahan, beliau memerintahkan mereka, “Ayo salatlah, salatlah,” Ṡābit berkata, “Para nabi jika tertimpa kesusahan mereka segera menunaikan salat.” (Riwayat Ibnu Abī Ḥātim).
1. Lizāmā لِزَامًا (Ṭāhā/20: 129)
Lizām akar katanya adalah lazama yang berarti “menempati dalam waktu lama” artinya “memastikan” “memaksakan”. Dalam Hūd/11:28 Nabi Nuh berkata kepada kaumnya yang kafir, “Apakah kami akan memaksakan kalian padanya padahal kalian tidak mau? Maksudnya adalah bahwa Nabi Nuh a.s. dan pengikutnya yang beriman tidak akan memaksa mereka yang tidak beriman bila mereka tidak mau. Persoalannya ia serahkan kepada Allah. Allahlah yang akan memutuskan kekafiran mereka itu.
Lizāmā mengandung arti “mutlak,” “pasti “. Dalam Ṭāhā/20:129 Allah menegaskan bahwa seandainya bukanlah karena Allah sudah memberikan ketetapan sebelumnya dan waktu yang sudah digariskan-Nya pula bahwa Ia tidak akan menjatuhkan azab-Nya sebelum waktunya itu, maka orang-orang kafir itu sudah dimusnahkan-Nya, sebagaimana Ia sudah memusnahkan umat-umat terdahulu. Tetapi Allah tidak mau memusnahkan mereka sekarang ini di dunia ini. Oleh karena itu Nabi Muhammad s.a.w. harus bersabar menghadapi pembangkangan mereka. Di akhirat nanti barulah pembangkangan itu lizāmā, yaitu pasti menemukan pembalasannya.
2. Lā tamuddanna ‘ainaika لاَتَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ (Ṭāhā/20: 131)
Kata pertama dalam klausa ini adalah lā tamuddanna, terambil dari kata madda artinya “memanjangkan”, “menjulurkan”, “memberi”, dan kata kedua, ‘ainaika artinya “kedua matamu” (Ṭāhā/20: 131). Maksudnya: Nabi Muhammad diminta Allah agar tidak memanjangkan kedua matanya, yaitu memberikan perhatiannya yang seksama, kepada kekayaan yang berlimpah yang dimiliki penentang-penentang agama Allah. Itu hanyalah harta benda duniawi, dan diberikan sebagai ujian bagi mereka. Sedangkan balasan yang akan diberikan Allah kepada Nabi Muhammad, dan mereka yang beriman, akan jauh lebih baik dan abadi. Ayat ini diriwayatkan turun berkenaan peristiwa Nabi s.a.w meminjam sedikit pangan dari seorang Yahudi, tetapi orang itu tidak mau meminjamkannya kalau tidak ada jaminan/agunannya. Kata madda itu bisa digunakan pada umumnya untuk arti positif, seperti ayat, “Kami beri mereka buah-buahan dan daging yang mereka sukai,” aṭ-Ṭūr/52:22. Dan ada pula yang digunakan untuk makna negatif, seperti, “Kami beri mereka azab dengan sebenar-benar memberi,” (Maryam/19:79).
















