اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى
Ar- raḥmānu ‘alal-‘arsyistawā.
(Dialah Allah) Yang Maha Pengasih (dan) bersemayam di atas ʻArasy.466)
Tuhan yang menurunkan Al-Qur’an ini adalah Yang Maha Pengasih terhadap semua makhuk tanpa terkecuali; yang bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur semua urusan makhluk-Nya.
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Pencipta langit dan bumi itu, adalah Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy. Allah bersemayam di atas ‘Arsy, janganlah sekali-kali digambarkan seperti halnya seorang raja yang duduk di atas singgasananya, karena menggambarkan yang seperti itu, berarti telah menyerupakan Khaliq dengan makhluk-Nya. Anggapan seperti ini, tidak dibenarkan sama sekali oleh ajaran Islam, sesuai dengan firman Allah:
لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Tida k ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. (asy-Syūrā/42: 11)
Ibnu Kasir berkata di dalam kitab tafsirnya, bahwa cara yang paling baik dalam memahami ayat ini ialah cara yang telah ditempuh oleh Ulama Salaf, yaitu mempercayai ungkapan sebagaimana tercantum di atas ‘Arsy (duduk di atas tahta) tetapi cara atau kaifiatnya (duduk di atas tahta) tidak boleh disamakan dengan cara duduknya makhluk, seperti seseorang yang duduk di atas kursi. Hal itu sepenuhnya adalah wewenang Allah semata-mata, manusia tidak dapat mengetahui hakikatnya.
Ṭāhā طه (Ṭāhā/20: 1)
Ṭāhā, para mufasir sepakat, bahwa kata ini terdiri atas dua huruf singkatan Ṭā dan Hā seperti huruf-huruf singkatan (al-muqattaat) yang lain, Yā-Sīn, Alif Lām Mīm, Ḥā Mīm dan lain-lain seperti yang terdapat dalam beberapa surah. Ṭā merupakan huruf yang ke-16 dan hā’ huruf yang ke-26 hija’iyah (alfabet). Para mufasir menguraikan asal dan arti kata ini panjang lebar dari berbagai sumber. Umumnya mereka mengutip beberapa pendapat, antara lain dari sahabat-sahabat Nabi dan para tabiin (tabi’in), bahwa huruf-huruf ini bukan sekadar singkatan, tetapi juga mengandung arti “Hai laki-laki” (ya rajul) yang ditujukan kepada Nabi. Kosakata ini dari bahasa Nabatea, Suryani (Aram) atau Abisinia yang semua itu masih serumpun dan salah satu cabang bahasa Arab; ada juga yang mengatakan itu bahasa ‘Akk, salah satu dialek di Yaman, yang juga sama dengan dialek Quraisy.
2. Aṡ-Ṡarā اَلثَّرَى (Ṭāhā/20: 6)
الثّرى (aṡ-ṡarā) artinya adalah tanah, baik tanah secara mutlak maupun yang dimaksud adalah tanah yang basah. Sedangkan yang dimaksud dengan kata الثّرى تحت (taḥtaṡ-ṡarā) adalah apa-apa yang ada di perut bumi seperti minyak, alumunium, fosfor, batu-batu mulia, biji besi, dan lain-lain. Ayat ini menegaskan bahwa semua yang ada di langit, di bumi dan di antara keduanya bahkan di perut bumi adalah milik Allah. Kata ṡarā hanya disebutkan satu kali dalam Al-Qur’an yaitu pada ayat ini.
























