اِنِّيْٓ اَنَا۠ رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَۚ اِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى ۗ
Innī ana rabbuka fakhla‘ na‘laika innaka bil-wādil-muqaddasi ṭuwā(n).
Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu. Lepaskanlah kedua terompahmu karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, yaitu Tuwa.
“Sungguh, Aku yang memanggilmu adalah Tuhanmu yang memelihara dan membimbingmu. Maka, sebagai penghormatan, hendaknya engkau lepaskan kedua terompahmu karena saat ini sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Tuwa.”
Mendengar panggilan itu, Musa terkejut dan ragu, dari mana datangnya suara itu. Suara panggilan itu disusul kemudian dengan suara, yang menyatakan bahwa Allah adalah Tuhan yang telah menciptakan manusia dengan sempurna, kemudian suara itu memintanya agar Musa menanggalkan kedua alas kakinya karena ia berada di suatu lembah bernama “Ṭuwa”, lembah yang suci dan sangat dihormati.
1. Al-Wādil-Muqaddas اَلْوَادِى الْمُقَدَّسِ (Ṭāhā/20: 12)
Wādī, berarti lembah dan muqaddas, yang suci dan disucikan. Letak lembah ini di kaki Gunung Sinai, tempat Nabi Musa kemudian menerima Taurat. Allah memerintahkan kepada Musa agar melepaskan alas kakinya sebagai tanda penghormatan pada tempat ini, dan kata ṭuwā sesudah itu, umumnya kata ini diartikan sebagai nama lembah itu, kendati ada juga yang mengatakan, bahwa ṭuwā adalah kosakata yang berarti dua kali, yakni lembah itu dua kali disucikan, atau Musa dua kali dipanggil.
2. li Żikrī لِذِكْرِيْ (Ṭāhā/20: 12)
Żikrī artinya mengingat, baik mengingat sesuatu yang terlupa atau mengingat sesuatu agar tidak terlupa.
Menurut Quraish Shihab dalam tafsir al-Mishbah, ulama berbeda pendapat tentang makna li żikrī pada ayat ini dan juga pada huruf lam yang mendahului kata żikri. Kata żikr ada yang memahaminya dalam arti zikir dengan ucapan, ada juga yang mengartikan zikir dengan qalbu.
Sedang huruf lam ada yang memahaminya dalam arti ‘agar supaya’ sehingga arti kata li żikrī adalah perintah melaksanakan salat agar dengan salat seseorang selalu mengingat kehadiran Allah. Salat yang benar-benar khusyu’ bisa mengajak seseorang untuk selalu mengingat Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Makna yang dikandung kata li żikrī adalah isyarat kepada hikmah dibalik perintah salat.






























