اِنِّيْٓ اِذًا لَّفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
Innī iżal lafī ḍalālim mubīn(in).
Sesungguhnya aku (jika berbuat) begitu, pasti berada dalam kesesatan yang nyata.
Sesungguhnya jika aku (berbuat) begitu yakni menyembah tuhan selain Allah, pasti aku berada dalam kesesatan yang nyata, karena tidak ada yang dapat memberikan manfaat dan menolak mudarat melainkan Allah semata.
Ia lalu memperoleh jawaban yang benar atas pertanyaan itu, yaitu tidak patut sama sekali baginya menghamba kepada selain Allah. Hanya Allah sajalah Tuhan yang sebenarnya. Dan jika ia menyembah kepada selain Allah, pastilah ia berada dalam kesesatan yang nyata.
Khāmidūn خَامِدُوْنَ (Yāsīn/36: 29)
Kata yang terdiri dari huruf kha', mim, dan dal tersebut, dalam Al-Qur’an disebut dua kali, yaitu dalam ayat ini dan dalam Surah al-Anbiyā'/21 ayat 15: khāmidīn. Kata ini merupakan kata sifat berasal dari khamada–yakhmidu-khamd(an) yang artinya mayyitun (mati) atau seperti kata Ibnu Jarīr aṭ-Ṭabarī, hālikūn(a) (binasa). Maksudnya, satu kali teriakan keras malaikat Jibril, pada saat penghancuran nanti, semua manusia mati dan binasa karenanya, bagaikan abu yang sudah padam bara apinya (ka hai’at al-ramad al-khamid).











































