فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا وَّلَا تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
Fal-yauma lā tuẓlamu nafsun syai'aw wa lā tujzauna illā mā kuntum ta‘malūn(a).
Pada hari itu tidak ada sama sekali orang yang dirugikan sedikit pun. Kamu tidak akan diberi balasan, kecuali atas apa yang telah kamu kerjakan.
Maka pada hari kebangkitan itu seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dalam menerima imbalan atau balasan dari Allah atas amal perbuatan mereka, dan kamu tidak akan diberi balasan berupa siksa atau pahala kecuali sesuai dengan apa yang telah kamu kerjakan di dunia.
Kemudian Allah menerangkan bahwa pada hari Kiamat itu, setiap manusia akan menerima balasan semua perbuatan yang telah dilakukannya selama hidup di dunia, perbuatan baik dibalas dengan pahala yang berlipat ganda dan perbuatan buruk dan jahat akan dibalas dengan siksa yang seimbang dengan perbuatan itu. Sebagaimana sifat Allah yang memberikan keputusan dengan adil maka pada hari itu pun Dia memberi keputusan dengan adil. Oleh karena itu, seseorang tidak akan menerima pahala kebaikan yang dikerjakan orang lain, sebaliknya seseorang tidak akan menerima azab karena perbuatan jahat yang dilakukan orang lain.
Marqadinā مَرْقَدِنَا (Yāsīn/36: 52)
Marqadinā artinya tempat tidur kami. Berasal dari fi‘il raqada-yarqudu-ruqūdan artinya tidur atau berbaring. Marqad adalah isim makan (kata benda yang menunjukkan tempat terjadi atau berlakunya perbuatan tersebut), kemudian diberi ḍamīr (kata ganti) orang pertama jamak yang menunjukkan kepunyaan, menjadi marqadinā artinya tempat tidur atau tempat berbaring kami. Al-Qur’an menggunakan kata ini untuk ungkapan kehidupan alam kubur dalam rangka menjelaskan bahwa kehidupan di alam kubur laksana tidur, begitu cepat hal itu berlalu. Pada ayat 52 digambarkan sikap terkejut orang-orang kafir yang tidak percaya pada hari akhir dan hari kebangkitan, yaitu ketika ditiup sangkakala kedua yang membangunkan semua manusia dari kubur masing-masing, maka orang-orang kafir dengan sangat terkejut dan masih tidak percaya berkata, “Aduh celaka kami, siapa yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami? Padahal sebetulnya peristiwa inilah yang dijanjikan Allah yang Maha Pengasih sebagaimana telah diberitakan oleh para rasul, dan benarlah para rasul yang telah diutus Allah itu, tetapi dulu mereka tidak mau percaya. Kini mereka baru sadar tetapi sudah terlambat.

