وَمَا تَأْتِيْهِمْ مِّنْ اٰيَةٍ مِّنْ اٰيٰتِ رَبِّهِمْ اِلَّا كَانُوْا عَنْهَا مُعْرِضِيْنَ
Wa mā ta'tīhim min āyatim min āyāti rabbihim illā kānū ‘anhā mu‘riḍīn(a).
Tidak satu pun dari tanda-tanda (kebesaran) Tuhan datang kepada mereka, kecuali mereka berpaling darinya.
Dan adapun orang yang ingkar, setiap kali suatu tanda dari tanda-tanda kebesaran dan keesaan Tuhan datang kepada mereka melalui para rasul dan ayat Al-Qur’an, mereka selalu berpaling darinya dengan penuh pengingkaran.
Allah menegaskan bahwa orang-orang yang ingkar itu senantiasa memalingkan muka dari setiap tanda-tanda yang menunjukkan keesaan dan kekuasaan-Nya, serta mengakui kerasulan utusan-Nya. Hati mereka telah buta, walaupun mata kepala mereka dapat melihat dengan terang semua tanda-tanda tersebut.
Mu‘riḍīn مُعْرِضِيْنَ (Yāsīn/36: 46)
Lafal mu‘riḍīn berasal dari fi‘il: a‘raḍa, yu‘riḍu, i‘rāḍ(an) artinya berpaling, menghindar. Bentuk dalam isim fā‘il (orang yang mengerjakan atau melakukan pekerjaan tersebut) yaitu mu‘riḍ, kemudian dalam bentuk jamak menjadi mu‘riḍūn dalam keadaan marfu‘, dan mu‘riḍīn dalam keadaan mansūb atau majrūr. Ungkapan dalam ayat 46 ini ialah: kānū ‘anhā mu‘riḍīn artinya: mereka berpaling darinya. Maksudnya meskipun berbagai peringatan diberikan kepada mereka (orang-orang yang tidak percaya pada Allah dan Hari Akhir) dan ditunjukkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Allah, mereka selalu saja menolak, berpaling, dan menghindar. Hati mereka memang sudah terkunci rapat, sudah tertutup dari kebenaran yang disampaikan Allah kepada mereka, sebagaimana firman Allah dalam Surah al-Baqarah/2: 6 yang artinya: Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.

