اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
Innamā amruhū iżā arāda syai'an ay yaqūla lahū kun fa yakūn(u).
Sesungguhnya ketetapan-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah (sesuatu) itu.
Sesungguhnya urusan-Nya menciptakan segala sesuatu sangatlah mudah bagi-Nya. Apabila Dia menghendaki untuk menciptakan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka dengan serta-merta jadilah sesuatu yang dikehendaki-Nya itu.
Allah menerangkan betapa mudah bagi-Nya menciptakan sesuatu. Apabila Ia menghendaki untuk menciptakan suatu makhluk, cukuplah Allah berfirman, “Jadilah,” maka dengan serta-merta terwujudlah makhluk itu.
Mengingat kekuasaan-Nya yang demikian besar, maka adanya hari kebangkitan itu, di mana manusia dihidupkan-Nya kembali sesudah terjadinya kehancuran di hari Kiamat, bukanlah suatu hal yang mustahil, dan tidak patut diingkari.
1. Khaṣīm Mubīn خَصِيْمٌ مُبِيْنٌ (Yāsīn/36: 77)
Khaṣīm mubīn artinya: penentang atau musuh yang jelas. Berasal dari fi‘il khaṣima - yakhṣumu - khaṣman artinya: menentang, melawan, memusuhi, dan mau mengalahkan. Pada ayat 77 ini, Allah mengingatkan kita semua manusia dengan kalimat pernyataan yang bergaya satire atau ejekan, yaitu apakah manusia tidak memperhatikan kenyataan bahwa Allah telah menciptakannya dari setetes air mani, tetapi kemudian ternyata “fa’iżā huwa khaṣīm(un) mubīn(un)”, artinya ia kemudian menjadi penentang yang terang-terangan. Manusia banyak yang tidak beriman kepada Allah, tidak mengakui kekuasaan-Nya, tidak tunduk pada aturan dan ketentuan-Nya, bahkan tidak taat pada perintah dan larangan-Nya. Memang manusia yang diciptakan Allah menjadi makhluk yang paling baik bentuknya dan paling berkuasa di muka bumi, kemudian banyak yang lupa pada penciptanya dan bahkan melawan kehendak-Nya. Menentang pencipta, pemelihara, dan pengatur alam ini tentu berakibat kerugian yang sangat besar, padahal Allah telah menunjukkan jalan yang baik dan benar supaya manusia selamat di dunia maupun akhirat.
2. Malakūt مَلَكُوْتُ (Yāsīn/36: 83)
Malakūt artinya kekuasaan, kemuliaan, kerajaan besar. Berasal dari fi‘il malaka – yamliku – malakan - wamalakatan artinya: memiliki, menguasai, memerintah. Pada ayat terakhir Surah Yāsīn ini Allah menegaskan dengan firman-Nya, “biyadihī malakūtu kulli syai'in wa ilaihi turja‘ūn,” artinya: hanya di tangan-Nya kekuasaan dan kemuliaan atas segala sesuatu dan hanya kepada-Nyalah kamu semua akan dikembalikan. Maksudnya hanya Allah pencipta, pemelihara, dan pengatur alam raya ini, dan juga hanya kepada Allah kita dan semua makhluk akan dikembalikan. Jadi tidak benar jika ada pembagian tugas seperti adanya penguasa yang mencipta alam ini, kemudian ada penguasa lain yang memelihara dan mengaturnya, serta ada penguasa yang lain lagi yang akan menghancurkannya. Allah adalah Maha Esa dan Mahakuasa, di tangan Allahlah semua kekuasaan dan kerajaan besar ini, dan tidak ada sekutu bagi Allah, Mahasuci Allah dari segala kekurangan dan kelemahan seperti yang disifatkan oleh orang-orang kafir dan musyrik.













































