وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ
Wal-qamara qaddarnāhu manāzila ḥattā ‘āda kal-‘urjūnil-qadīm(i).
(Begitu juga) bulan, Kami tetapkan bagi(-nya) tempat-tempat peredaran sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir,) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.641)
Dan telah Kami tetapkan pula jarak-jarak tertentu sebagai tempat peredaran bagi bulan, sehingga setiap saat jarak tersebut mengalami perubahan. Sesampainya ke tempat peredaran yang terakhir, kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. Mula-mula penampakan bulan muncul dalam keadaan kecil dan cahaya yang lemah, beralih menjadi bulan sabit dengan sinar yang terang, berubah menjadi bulan purnama, kemudian perlahan kembali mengecil dan kembali ke bentuk semula.
Allah telah menetapkan jarak-jarak tertentu bagi peredaran bulan, sehingga pada setiap jarak tersebut ia mengalami perubahan, baik dalam bentuk dan ukurannya, maupun dalam kekuatan sinarnya. Mula-mula bulan itu timbul dalam keadaan kecil dan cahaya yang lemah. Kemudian ia menjadi bulan sabit dengan bentuk melengkung serta sinar yang semakin terang. Selanjutnya bentuknya semakin sempurna bundarnya, sehingga menjadi bulan purnama dengan cahaya yang amat terang. Tetapi kemudian makin menyusut, sehingga pada akhirnya ia menyerupai sebuah tandan kering yang berbentuk melengkung dengan cahaya yang semakin pudar, kembali kepada keadaan semula.
Jika diperhatikan pula benda-benda angkasa lainnya yang bermiliar-miliar banyaknya, dengan jarak dan besar yang berbeda-beda, serta kecepatan gerak yang berlainan pula, semua berjalan dengan teratur rapi, semua itu akan menambah keyakinan kita tentang tak terbatasnya ruang alam ini dan betapa besarnya kekuasaan Allah yang menciptakan dan mengatur makhluk-Nya.
Dengan memperhatikan semua itu, tak akan ada kata-kata lain yang ke luar dari mulut orang yang beriman, selain ucapan “Allāhu Akbar, Allah Mahabesar, lagi Mahabesar kekuasaan-Nya.”
1. Tajrī تَجْرِي (Yāsīn/36: 38)
Kata tajrī merupakan fi‘il muḍāri‘ (kata kerja berkelanjutan) dari kata jarā-yajrī-jaryan-jiryān( an), yang artinya “pergi”, “berjalan”, “beredar”, atau “mengalir”. Karena subjeknya di sini adalah matahari, maka maknanya yang tepat adalah “beredar”, dalam arti bahwa matahari itu beredar/bergerak menuju tempat pemberhentiannya. Matahari yang merupakan sebuah bintang yang besar yang bertetangga dengan planet bumi sebenarnya tidaklah berdiam saja di suatu tempat melainkan bergerak dan beredar pada garis edarnya, dan terus beredar sepanjang masa sampai hari Kiamat. Menurut Ibnu Jauzī, matahari itu beredar selamanya, dan tidak menetap pada suatu tempat (annahā tajrī abadan la taṡbutu fi makān(in) wāhid).
2. Al-‘Urjūn الْعُرْجُوْن (Yāsīn/36: 39)
Kata al-‘urjūn disebut hanya sekali dalam Al-Qur’an, yaitu dalam ayat ini. Ia ber-wazan fu‘lūn, diduga berasal dari kata al-in‘irāj, yang artinya “menjadi bengkok.” Menurut para mufasir, tempat beredar bulan selama satu bulan berjumlah 28 (dua puluh delapan) manāzil, yang dilaluinya sejak awal bulan sampai akhirnya. Apabila rembulan memasuki garis edarnya pada akhir-akhir peredarannya, maka ia tampak seperti sesuatu yang bengkok, mirip seperti pada saat ia memasuki awal-awal peredarannya pada awal bulan. Secara tradisional, kata ka al-‘urjūn al-qadīm diartikan “seperti tandan kering yang tua”.
3. Yasbaḥūn يَسْبَحُوْنَ (Yāsīn/36: 40)
Kata yasbaḥūn yang berhubungan dengan penggambaran fenomena alam, disebutkan dua kali dalam Al-Qur’an, dalam Surah al-Anbiyā' ayat 33 dan dalam ayat Surah Yāsīn ini. Kata ini dari sabaḥa-yasbaḥu-sibaḥat an yang secara harfiah artinya mengapung atau berenang. Seperti halnya orang yang berenang dalam keadaan mengapung di atas air, demikian pula benda-benda alam di langit juga berenang mengapung ditopang secara kokoh oleh sesuatu yang ada di sekelilingnya. Mengapungnya benda-benda alam di langit pada orbitnya masing-masing adalah pernyataan di luar ilmu pengetahuan orang Arab lima belas abad yang lampau. Al-Qur’an adalah kitab yang berisi petunjuk bagi hati dan rohani manusia, tetapi ia juga banyak membuka rahasia kebenaran ilmu pengetahuan yang belum diketahui oleh manusia pada waktu Al-Qur’an diturunkan.

