وَاتَّبِعْ مَا يُوْحٰىٓ اِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتّٰى يَحْكُمَ اللّٰهُ ۚوَهُوَ خَيْرُ الْحٰكِمِيْنَ ࣖ
Wattabi‘ mā yūḥā ilaika waṣbir ḥattā yaḥkumallāh(u), wa huwa khairul-ḥākimīn(a).
Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan. Dia adalah pemberi putusan yang terbaik.
Dan ikutilah wahai Nabi Muhammad, apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah dalam menyampaikan wahyu walau banyak cobaan dan rintangan, hingga Allah memberi keputusan. Dialah hakim yang terbaik dalam setiap keputusan yang ditetapkan. []
Allah dalam ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad saw supaya dia tetap mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya, dan bekerja menurut wahyu itu dan mengajarkannya kepada umat manusia, walaupun mereka tidak beriman kepadanya. Rasul saw juga diminta bersabar menghadapi segala macam gangguan dan penghinaan dalam menjalankan tugas tablig dan dakwah itu. Pada saatnya, keputusan Allah pasti akan datang sebagai hukuman terhadap para musuh agama itu, dan kemenangan atas Rasul dan umatnya sesuai dengan janji Allah kepada orang-orang mukmin. Allah adalah Hakim yang Maha Adil karena Dia memutuskan dengan alasan yang benar. Rasul saw menaati perintah-perintah ini dan dengan penuh kesabaran menunggu keputusan Allah. Ayat-ayat ini merupakan janji Allah yang menyenangkan Rasul dan orang-orang mukmin.
Saatnya akan datang di mana Rasul dan kaum mukmin memperoleh kemenangan dan kaum musyrikin mengalami kehancuran. Allah mewariskan dunia kepada orang-orang Islam, mereka menjadi penguasa-penguasa di bumi, dengan syarat mereka tetap menegakkan agamanya.
Ḍall ضَلّ (Yūnus/10: 108)
Arti dasarnya adalah hilang, terbenam, dan lain-lain. Dalam satu hadis disebutkan bahwa “al-hikmah ḍallatul mu’min” (ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang hilang dari seorang mukmin). Orang yang tersesat jalan berarti telah kehilangan arah yang benar atau tidak berada di jalan yang benar, sedikit atau banyak, sengaja atau tidak sengaja. Itu karena “jalan yang benar” itu diperoleh dengan usaha dan karena itu sulit diperoleh, tetapi mereka tidak cukup berusaha. Dalam Al-Qur’an “sesat” umumnya dinisbahkan kepada orang kafir. “Sesat” itu dua aspek pertama, “sesat” dalam hal pengetahuan spekulatif, seperti tidak mengenal Tuhan, misalnya, al-Nisā’/4: 136, “Siapa yang mengingkari Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasulnya, dan Hari Kemudian, maka ia benar-benar sesat.” Dan kedua, “sesat” yang berkenaan dengan pengetahuan praktis, seperti buta hukum-hukum agama.
Dalam Al-Qur’an, aḍ-ḍall dalam pengertian leksikalnya dinisbahkan pula kepada nabi-nabi. Misalnya kepada Nabi Muhammad, sebelum beliau jadi nabi, dalam arti “bingung belum memperoleh kenabian” (al-Ḍuḥa/93: 7), dan kepada Nabi Ya’kub yang diucapkan oleh anak-anaknya karena ia selalu saja teringat Yusuf (Yūsuf/12: 95). Lawan kata ḍall adalah hidāyah (menemukan kebenaran).












































