وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تُؤْمِنَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يَعْقِلُوْنَ
Wa mā kāna linafsin an tu'mina illā bi'iżnillāh(i), wa yaj‘alur-rijsa ‘alal-lażīna lā ya‘qilūn(a).
Tidak seorang pun akan beriman, kecuali dengan izin Allah dan Dia menimpakan azab kepada orang-orang yang tidak mau mengerti.
Keimanan tidak bisa dipaksakan, tetapi harus atas dasar kerelaan, dan tidak seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan azab, yakni berupa kekufuran yang berakibat pada kekotoran jiwa dan kegoncangan hati kepada orang yang tidak mengerti, yakni tidak mempergunakan akalnya untuk memikirkan petunjuk-Nya, sehingga tidak bisa melihat dan menerima kebenaran.
Segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah atas kehendak Allah. Tidak ada sesuatupun yang terjadi di luar kehendak-Nya. Allah menunjuki dan memudahkan seseorang beriman, bila orang itu mau memahami dan mengamalkan ayat-ayat yang telah disampaikan kepada para rasul-Nya dan Dia memandang hina dan mengazab setiap orang yang tidak mau memahami dan mengamalkan ayat-ayat-Nya karena hal itu berarti mereka menampik ajakan rasul untuk mengikuti jalan yang lurus yang telah dibentangkannya.
Matta’nāhum مَتَّعْنَاهُمْ (Yūnus/10: 98)
Kata dasarnya adalah matta’a yang berarti “terhampar dan tersedia”. Dari kata itu terambil kata matā’ yaitu terhampar dan tersedianya kesempatan untuk menikmati kesenangan untuk jangka waktu tertentu. Kata tamatta’u dalam Al-Qur’an mengandung ancaman, yaitu mempersilahkan manusia yang ingkar untuk menikmati kesenangan sementara, tetapi setelah itu Allah akan mengazab mereka.
Kata matta’nāhum di atas terdapat dalam Yūnus/10: 98. Ayat itu meng-ungkapkan pertanyaan Allah mengapa tidak ada satu negeri pun pada zaman lampau yang beriman, padahal iman itulah yang akan menghindarkan mereka dari azab Allah. Yang beriman hanya umat Nabi Yunus, karena itulah Allah menghindarkan mereka dari azab-Nya dan memberi mereka kesenangan sampai waktu tertentu.








































