لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِۗ
Likullimri'im minhum yauma'iżin sya'nuy yugnīh(i).
Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.
maka setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. Semua ingin menyelamatkan diri sendiri tanpa menghiraukan orang lain. Mereka takut dan cemas atas apa yang terjadi di hadapan mereka dan khawatir akan nasib mereka.
Setiap manusia pada hari Kiamat yang dahsyat itu mempunyai urusan masing-masing yang cukup menyibukkannya sehingga tidak sempat memperhatikan orang lain. Ketika masih di dunia, mereka saling memberikan pertolongan sampai menebus dengan harta bilamana diperlukan, apalagi jika bersangkutan dengan keselamatan anak-anaknya sendiri yang akan meneruskan generasinya yang akan datang atau mengenai kehormatan istrinya, orang yang paling dekat dan paling setia kepadanya.
Akan tetapi pada hari akhirat nanti, tidak ada kesempatan lagi untuk memperhatikan anggota-anggota keluarganya itu karena kedahsyatan pada hari Kiamat yang sangat menyibukkan itu.
Pada hari itu manusia terbagi dua golongan: yang bahagia dan yang celaka, dan terhadap golongan yang pertama dinyatakan dalam ayat berikut ini.
1. Aṣ-Ṣākhkhah الصَّاخَّةُ (‘Abasa/80: 33)
Kata aṣ-ṣākhkhah secara kebahasaan artinya bunyi menggelegar yang keras sekali. Berasal dari fi‘il ṣakhkha-yaṣukhkhu-ṣakh khan artinya bunyi benturan besi dengan besi yang keras sekali. Kata aṣ-ṣākhkhah juga berarti bencana atau malapetaka yang sangat besar, juga berarti hari Kiamat. Pada ayat 33 digambarkan tentang kedahsyatan hari Kiamat, yaitu ketika suara yang memekakkan telinga terdengar, sebagai tanda datangnya hari Kiamat, semua orang pada berlarian ke sana kemari. Semua orang pada hari itu seperti mempunyai urusan yang sangat penting dan harus selesai pada hari itu juga. Berbagai urusan yang menyibukkan semua orang itu, ada sebagian orang yang senang, tetapi banyak pula yang kelihatan sedih dan penuh ketakutan. Demikianlah peristiwa hari Kiamat yang sangat dahsyat, sungguh sangat luar biasa sehingga dalam Surah Luqmān/31: 33 dikatakan pada saat itu, ayah tidak dapat menolong anaknya, juga anak tidak ada yang dapat menolong orang tuanya, semuanya harus dapat mengatasi dirinya sendiri.
2. Qatarah قَتَرَةٌ (‘Abasa/80: 41)
Kata qatarah artinya kegelapan, kehinaan, dan kesusahan. Berasal dari fi‘il qatara-yaqtiru-qatran wa qutūran artinya kikir. Kata al-qatarah juga berarti al-gabarah yang berarti debu. Ayat 42 yang berbunyi tarhaquhā qatarah artinya wajah-wajah itu dibohongi atau ditutup debu, dalam kegelapan atau kehinaan. Maksudnya orang-orang kafir ketika di dunia tertipu oleh kemewahan dunia, hanya mengejar debu di atas bumi, maka di akhirat nanti wajah-wajah mereka juga penuh debu, serba tertutup oleh kegelapan dan kehinaan, serta menderita berbagai kesedihan dan kesusahan. Itulah keadaan orang-orang kafir yang banyak berbuat durhaka dan selalu menolak dan mengingkari kebenaran dan petunjuk agama. Hal ini dikemukakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk menjadi pelajaran bagi kita semua, supaya kita tidak tertipu oleh kemewahan dunia, tetapi memperhatikan petunjuk agama, beriman, dan melaksanakan amal saleh.














































