رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ اِنَّا مُؤْمِنُوْنَ
Rabbanaksyif ‘annal-‘ażāba innā mu'minūn(a).
(Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, lenyapkanlah azab itu dari kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang mukmin.”
Ketika azab kabut itu turun kepada mereka, mereka berdoa, "Ya Tuhan kami, Pencipta dan Pemelihara kami, lenyapkanlah azab yang Engkau turunkan itu dari kami. Sungguh, kami akan beriman secara mantap jika Engkau melepaskan dari kami azab ini.”
Allah menerangkan bahwa mereka berjanji kepada Rasulullah saw akan beriman kepada Allah apabila siksa yang menimpa mereka itu dilenyapkan oleh Allah. Itulah watak manusia pada umumnya apabila mereka dalam kesusahan; mereka berjanji akan bertobat dan menahan diri mereka dari hal-hal yang menyebabkan timbulnya kesusahan itu, tetapi apabila kesusahan mereka berakhir atau kesusahan mereka itu hilang lenyap, mereka kembali melakukan hal-hal yang menyebabkan adanya kesusahan itu. Diriwayatkan bahwa ketika kemarau yang menimpa kaum Quraisy begitu hebatnya. Abu Sufyan berkunjung kepada Rasulullah saw dan meminta belas kasihan darinya, serta berjanji akan beriman apabila Muhammad saw mendoakan mereka agar lepas dari kesusahan itu sehingga berakhirlah kesusahan mereka.
Dukhān دُخَانٌ (ad-Dukhān/44: 10)
Kata ini berasal dari kata dakhana yang artinya adalah mengeluarkan asap atau kabut. Bentuk jamaknya adalah adkhinah, dawākhin. Dakhanat an-nār artinya mengepulkan asap. Merokok disebut dengan tadkhīn karena dia mengeluarkan asap dari mulutnya. Dakhana asy-syai′ artinya sesuatu itu berwarna seperti asap. Dukhān juga berarti debu yang beterbangan dari tanah akibat kekeringan yang berkepanjangan. Dakhn berarti sesuatu yang berwarna hitam dan gelap, lailat dakhnānah malam yang sangat panas dan pekat.
Pengertian ayat ini: Langit membawa kabut karena langit adalah sesuatu yang berada di atas kita dan menjadi tempat debu berkumpul. Rasulullah pernah mendoakan kaum musyrikin yang terus membangkang agar terjadi paceklik sebagaimana yang dialami kaum Nabi Yusuf. Karena kesulitan dan kelaparan yang mereka derita, sehingga langit nampak oleh kaum musyrikin bagaikan dipenuhi oleh asap atau kabut. Ulama lain berpendapat dukhān di sini adalah debu-debu yang berterbangan ke atas akibat banyaknya kuda-kuda yang berlari dalam Perang Badar. Menurut Sayyid Qutub kabut ini akan menutupi angkasa selama 40 hari. Masa paceklik seperti yang dikatakan pendapat pertama itu terjadi beberapa saat setelah Nabi Muhammad melakukan hijrah. Ketika hal itu terjadi kaum musyrikin mengutus Abu Sufyan kepada Nabi memohon agar bencana itu segera diangkat.















































