يَغْشَى النَّاسَۗ هٰذَا عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Yagsyan-nās(a), hāżā ‘ażābun alīm(un).
(yang) meliputi manusia (durhaka). Ini adalah azab yang sangat pedih.
yang meliputi manusia sehingga mereka tidak dapat melihat apa pun di sekitar mereka dan melindungi diri mereka. Inilah azab yang pedih bagi orang-orang yang melakukan perbuatan dosa.
Allah menerangkan bahwa ketika kabut tebal itu meliputi mereka, mereka berkata, “Ini adalah siksaan yang amat menggelisahkan sehingga kami tidak bisa tidur dan apabila siksaan ini berlangsung terus-menerus, tentu kami akan mati.
Dukhān دُخَانٌ (ad-Dukhān/44: 10)
Kata ini berasal dari kata dakhana yang artinya adalah mengeluarkan asap atau kabut. Bentuk jamaknya adalah adkhinah, dawākhin. Dakhanat an-nār artinya mengepulkan asap. Merokok disebut dengan tadkhīn karena dia mengeluarkan asap dari mulutnya. Dakhana asy-syai′ artinya sesuatu itu berwarna seperti asap. Dukhān juga berarti debu yang beterbangan dari tanah akibat kekeringan yang berkepanjangan. Dakhn berarti sesuatu yang berwarna hitam dan gelap, lailat dakhnānah malam yang sangat panas dan pekat.
Pengertian ayat ini: Langit membawa kabut karena langit adalah sesuatu yang berada di atas kita dan menjadi tempat debu berkumpul. Rasulullah pernah mendoakan kaum musyrikin yang terus membangkang agar terjadi paceklik sebagaimana yang dialami kaum Nabi Yusuf. Karena kesulitan dan kelaparan yang mereka derita, sehingga langit nampak oleh kaum musyrikin bagaikan dipenuhi oleh asap atau kabut. Ulama lain berpendapat dukhān di sini adalah debu-debu yang berterbangan ke atas akibat banyaknya kuda-kuda yang berlari dalam Perang Badar. Menurut Sayyid Qutub kabut ini akan menutupi angkasa selama 40 hari. Masa paceklik seperti yang dikatakan pendapat pertama itu terjadi beberapa saat setelah Nabi Muhammad melakukan hijrah. Ketika hal itu terjadi kaum musyrikin mengutus Abu Sufyan kepada Nabi memohon agar bencana itu segera diangkat.














































