اِنَّ الْاِنْسَانَ لِرَبِّهٖ لَكَنُوْدٌ ۚ
Innal-insāna lirabbihī lakanūd(un).
sesungguhnya manusia itu sangatlah ingkar kepada Tuhannya.
Demi kuda-kuda perang yang demikian sifatnya, sungguh manusia itu enggan bersyukur dan sangat ingkar kepada nikmat Tuhannya. Manusia, kecuali yang dirahmati Allah, malas bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan tidak mau memenuhi kewajiban yang dibebankan kepadanya.
Dalam ayat ini, Allah menerangkan isi sumpah-Nya, yaitu: watak manusia adalah mengingkari kebenaran dan tidak mengakui hal-hal yang menyebabkan mereka harus bersyukur kepada penciptanya, kecuali orang-orang yang mendapat taufik, membiasakan diri berbuat kebajikan dan menjauhkan diri dari kemungkaran.
Hubungan antara ayat 5 yang menggambarkan persoalan kuda dan ayat 6 yang memberi informasi tentang sifat dasar manusia adalah bahwa manusia itu mempunyai potensi menjadi liar seperti kuda yang tidak terkendali, sehingga menyebabkannya ingkar kepada Allah.
Sifat yang terpendam dalam jiwa manusia ini menyebabkan ia tidak mementingkan apa yang terdapat di sekelilingnya, tidak menghiraukan apa yang akan datang, dan lupa apa yang telah lalu. Bila Allah memberikan kepadanya sesuatu nikmat, dia menjadi bingung, hatinya menjadi bengis, dan sikapnya menjadi kasar terhadap hamba-hamba Allah.
Al-‘Ādiyāt الْعَادِيَات (al-‘Ādiyāt/100: 1)
Kata al-‘ādiyāt berarti yang berlari kencang, terambil dari kata ‘adā-ya‘dū-‘adwan wa ‘udwānan, yang berarti berlari kencang. Dalam ayat ini tidak dijelaskan apa atau siapa yang berlari kencang, yang jelas Allah bersumpah dengan yang berlari kencang itu. Ada yang berpendapat bahwa yang berlari kencang adalah kuda dan ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah unta. Kata al-‘ādiyāt hanya satu kali disebutkan dalam Al-Qur’an dan dijadikan sebagai salah satu nama surahnya.












































