فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ الَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًا ۗقَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ
Falammā janna ‘alaihil-lailu ra'ā kaukabā(n), qāla hāżā rabbī, falammā afala qāla lā uḥibbul-āfilīn(a).
Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”251)
Ayat ini dan juga selanjutnya adalah gambaran bagaimana Nabi Ibrahim dalam mengajarkan tauhid. Ketika malam telah menjadi gelap, dia, Ibrahim, melihat sebuah bintang yang memancarkan cahaya dengan terang lalu dia berkata, “Inilah dia Tuhanku yang selalu aku cari.” Maka ketika bintang itu terbenam dan tidak tampak lagi, dia berkata, “Aku tidak suka menyembah dan bertuhan kepada yang terbenam yang pada akhirnya akan lenyap.”
Allah menjelaskan proses pengenalan Ibrahim secara terperinci. Pengamatan pertama Nabi Ibrahim tertuju pada bintang-bintang, yaitu pada saat bintang nampak bercahaya dan pada saat bintang itu tidak bercahaya, dilihatnya sebuah bintang yang bercahaya paling terang. (Yaitu planet Yupiter (Musyatari) dan ada pula yang mengatakan planet Venus (Zahrah) yang dianggap sebagai dewa oleh pemuja bintang yang biasa dilakukan oleh orang-orang Yunani dan Romawi kuno, sedang kaum Ibrahim juga termasuk pemujanya).
Maka timbullah pertanyaan dalam hatinya. “Inikah Tuhanku?” Pertanyaan ini adalah merupakan pengingkaran terhadap anggapan kaumnya, agar mereka tersentak untuk memperhatikan alasan-alasan pengingkaran yang akan dikemukakan.
Tetapi, setelah bintang itu tenggelam dan sirna dari pandangannya, timbul keyakinan bahwa yang tenggelam dan menghilang tidak bisa dianggap sebagai Tuhan.
Ini sebagai alasan Nabi Ibrahim untuk mematahkan keyakinan kaumnya, bahwa semua yang mengalami perubahan itu tidak pantas dianggap sebagai Tuhan. Kesimpulan Ibrahim itu merupakan hasil pemikiran dan pengamatan yang benar dan sesuai dengan fitrah. Siapa yang melakukan pengamatan serupa itu, niscaya akan berkesimpulan yang sama. Sementara itu sebagian mufassir seperti Ibnu Kaṡir mengatakan bahwa pengamatan Nabi Ibrahim terhadap bintang, bulan dan matahari bukanlah pengamatan pertama, tetapi merupakan taktik Nabi Ibrahim untuk mengajak kaumnya agar tidak menyembah sesuatu benda yang timbul tenggelam. Akan tetapi hendaklah mereka menyembah Zat Yang Kekal dan Abadi yaitu Allah.
1. Al-Mūqinīn اَلْمُوْقِنِيْ نَ(al-An‘ām/6: 75)
Isim fa’il dari ayqana. Kata dasarnya adalah yaqin. Yaqin adalah pengetahuan yang didapatkan setelah merenung dan memikirkan. Yaqin
dihasilkan setelah adanya syubhat atau keraguan. Dalam menghadapi satu persoalan seseorang biasanya merasa ragu, tapi setelah dia mendapatkan banyak dalil atau petunjuk, keraguan itu sedikit demi sedikit akan sirna, digantikan oleh perasaan tenang dan tenteram.
2. Janna جَنَّ (al-An‘ām/6: 76)
Asal katanya (ج- ن- ن) artinya tertutup dari pandangan. Jin dikatakan demikian karena makhluk ini tidak dapat dilihat atau tertutup dari pandangan mata kita. Jannah atau kebun karena banyaknya pepohonan sehingga orang yang berada di dalamnya tertutup dan tidak dapat dilihat. Majnūn atau orang gila, karena akalnya tertutup. Janan artinya hati, karena hati berada di dalam dada yang tertutup oleh pandangan. Janīn artinya bayi dalam kandungan, karena tertutup oleh perut. Dengan demikian kata janna pada ayat tersebut bisa diartikan dengan “ketika dia (Ibrahim) tertutupi oleh gelapnya malam.”













































