قُلْ مَنْ يُّنَجِّيْكُمْ مِّنْ ظُلُمٰتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُوْنَهٗ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۚ لَىِٕنْ اَنْجٰىنَا مِنْ هٰذِهٖ لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الشّٰكِرِيْنَ
Qul may yunajjīkum min ẓulumātil-barri wal-baḥri tad‘ūnahū taḍarru‘aw wa khufyah(tan), la'in anjānā min hāżihī lanakūnanna minasy- syākirīn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang dapat menyelamatkanmu dari berbagai kegelapan (bencana) di darat dan di laut, ketika kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah hati dan dengan suara yang lembut (dengan berkata), ‘Sungguh, jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.’”
Keluasan ilmu Allah telah dijelaskan, kekuasaan Allah yang mutlak telah dipaparkan, kini dijelaskan tentang salah satu sifat negatif manusia yaitu merasa membutuhkan Allah pada saat terdesak. Katakanlah, wahai Nabi Muhammad, “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari kegelapan-kegelapan, yaitu aneka bencana, di darat dan di laut, yang mana saat kejadian itu kamu berdoa secara tulus kepada-Nya dengan rendah hati yaitu menunjukkan dirimu sebagai orang yang amat membutuhkan pertolongan dan dengan suara yang lembut sehingga menimbulkan rasa iba bagi yang mendengarnya, dengan mengatakan secara sungguh-sungguh yang dikuatkan dengan janji, ‘Sekiranya Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang benar-benar mantap bersyukur’?” Itulah tabiat manusia khususnya yang durhaka. Pada saat tertimpa kesulitan yang mengancam keselamatan jiwanya, janji taat kepada Allah pun diucapkan. Namun pada saat situasi kembali normal, maka kedurhakaan pun berulang.
Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar mengatakan kepada orang-orang musyrik bahwa siapakah yang dapat menyelamatkan dan melepaskan mereka dari kegelapan daratan bila mereka tersesat, siapa yang sanggup melepaskan mereka dari kesengsaraan dan penderitaan hidup, siapa yang sanggup melepaskan mereka dari kegelapan lautan bila mereka berlayar di tengahnya, lalu datanglah angin topan disertai ombak yang besar, sehingga mereka tidak mengetahui arah dan tujuan lagi? Yang dapat menyelamatkan manusia dari segala kegelapan dan kesengsaraan itu hanyalah Allah, tidak ada yang lain.
Tabiat manusia adalah bahwa jika mereka dalam keadaan kesulitan dan dalam mara bahaya, mereka ingat kepada Allah, mereka menyerahkan diri, tunduk dan patuh kepada-Nya disertai dengan doa dan memohon pertolongan kepada-Nya. Bahkan dalam keadaan demikian mereka berjanji akan tetap berserah diri kepada Allah dan mensyukuri nikmat-Nya jika kesulitan dan mara bahaya itu dihindarkan dari mereka. Tetapi setelah kesulitan dan mara bahaya itu terhindar, mereka lupa akan janji yang telah mereka ikrarkan bahkan mereka menjadi orang-orang yang zalim dan mempersekutukan Allah.
Keadaan mereka itu dilukiskan dalam firman Allah swt:
هُوَ الَّذِيْ يُسَيِّرُكُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ حَتّٰٓى اِذَا كُنْتُمْ فِىْ الْفُلْكِۚ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيْحٍ طَيِّبَةٍ وَّفَرِحُوْا بِهَا جَاۤءَتْهَا رِيْحٌ عَاصِفٌ وَّجَاۤءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَّظَنُّوْٓا اَنَّهُمْ اُحِيْطَ بِهِمْۙ دَعَوُا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۚ لَىِٕنْ اَنْجَيْتَنَا مِنْ هٰذِهٖ لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الشّٰكِرِيْنَ ٢٢ فَلَمَّآ اَنْجٰىهُمْ اِذَا هُمْ يَبْغُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ....٢٣
Di alah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (dan berlayar) di lautan. Sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, dan meluncurlah (kapal) itu membawa mereka (orang-orang yang ada di dalamnya) dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya; tiba-tiba datanglah badai dan gelombang menimpanya dari segenap penjuru, dan mereka mengira telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa dengan tulus ikhlas kepada Allah semata. (Seraya berkata), “Sekiranya Engkau menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, pasti kami termasuk orang-orang yang bersyukur.” Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka, malah mereka berbuat kezaliman di bumi tanpa (alasan) yang benar… (Yūnus/10: 22-23)
1. Yunajjīkum يُنَجِّيْكُمْ (al-An‘ām/6: 63)
Bentuk muḍari’ dari najjā. Kata ini terambilkan dari kata “an-najwah” artinya tempat yang tinggi. Jika dikatakan “yunajjī” berarti melemparkan sesuatu ketempat yang tinggi, sehingga terhindar dari banjir dan lainnya. Lalu digunakan untuk perihal penyelamatan dari segala mara bahaya.
2. Yalbisakum Syiya’an يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا (al-An‘ām/6: 65)
Yalbisakum bentuk muḍari’ dari labasa yang artinya mencampurkan, membuat sesuatu menjadi tidak jelas. Jika muḍari’nya yalbasu seperti pada kata talbasūnahā (an-Naḥl/16: 14) maka maḍinya labisa yang artinya memakai dan menutupi. Akar kata dari keduanya adalah (ل- ب- س) yang berarti percampuran atau saling merasuki (mukhalaṭah wa mudakhalah). Pakaian dikatakan libas karena benda itu melekat dan bercampur dengan pemakaianya. Malam juga disebut libās (al-Furqān/25: 47) karena kegelapan malam telah meliputi seseorang seperti juga pakaian. Suami atau isteri juga dikatakan libās (al-Baqarah/2: 187) karena keduanya sudah bercampur atau saling menutupi kejelekan masing-masing. Ketakwaan juga disebut libās (al-A‘rāf/7: 26) karena ketakwaan sangat mempengaruhi pribadinya dari seluruh sisi. Ketakutan dan kelaparan juga disebut libās (an-Naḥl/16: 112) karena keduanya telah meliputi kehidupan orang-orang yang ingkar terhadap Allah.
Sedangkan kata syiya’an adalah jamak dari syi’ah yang artinya sekumpulan orang yang mempunyai tujuan yang sama. Kata dasarnya adalah (ش- ي- ع) yang mempunyai dua arti. Pertama, saling memperkuat (mu’aḍadah). Kedua, menyebar (al-baṡṡ).
Dari penjelasan di atas maka ungkapan yalbisakum syiya’an berarti “mencampurkan kamu atau memecah belah kamu dalam golongan (yang saling bertentangan).” Bisa juga diartikan “Dia (Allah) menggelapkan urusanmu, akhirnya kemauanmu saling bertentangan, sedangkan kamu terpecah dalam kelompok-kelompok, maka semakin menjadikan kamu bercerai berai.”
















































