Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 99 - Surat Al-Anbiyā' (Para Nabi)
الانبياۤء
Ayat 99 / 112 •  Surat 21 / 114 •  Halaman 330 •  Quarter Hizb 33.75 •  Juz 17 •  Manzil 4 • Makkiyah

لَوْ كَانَ هٰٓؤُلَاۤءِ اٰلِهَةً مَّا وَرَدُوْهَاۗ وَكُلٌّ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Lau kāna hā'ulā'i ālihatam mā waradūhā, wa kullun fīhā khālidūn(a).

Seandainya (berhala-berhala) itu tuhan, tentu mereka tidak akan memasukinya (neraka). Semuanya akan kekal di dalamnya.

Makna Surat Al-Anbiya' Ayat 99
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Seandainya benar keyakinan mereka bahwa berhala-berhala yang disembah itu tuhan, tentu berhala-berhala itu tidak akan memasuki neraka. Akan tetapi, karena keyakinan sesat, mereka semuanya, baik yang menyembah maupun yang disembah akan kekal di dalamnya, karena Allah mengekalkannya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan seandainya sembahan-sembahan yang disembah orang-orang musyrik itu benar tuhan di samping Allah sebagaimana kepercayaan mereka, tentulah sembahan itu akan selamat bersama-sama mereka, karena jika ia tuhan tentulah ia mahakuasa dan perkasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat menyiksanya, bahkan ia sendirilah yang akan menyiksa orang-orang yang durhaka padanya. Akan tetapi yang terjadi ialah bahwa semuanya itu baik penyembah-penyembah berhala, maupun sembahan-sembahan yang disembah akan kekal di dalam neraka.

Isi Kandungan Kosakata

1. ḥaṣabu Jahannam حَصَبُ جَهَنَّمَ (al-Anbiyā’/21: 98)

Istilah ḥaṣabu jahannam terdiri dari dua kata, yaitu ḥaṣab dan jahannam. Yang pertama (ḥaṣab) berasal dari kata kerja ḥaṣaba-yaḥṣibu/yaḥ ṣubu, yang artinya melempar dengan kerikil. ḥaṣab sendiri artinya adalah sesuatu yang dilempar ke dalam api sebagai bahan bakarnya, seperti kayu dan lainnya. Dalam ayat ini ḥaṣab diartikan sebagai apa yang dilempar ke dalam api untuk bahan bakar agar gejolak apinya bertambah. Yang kedua (jahannam) adalah tempat penyiksaan yang terdapat di akhirat, atau yang biasa disebut neraka. Dengan demikian, ḥaṣabu jahannam maksudnya adalah bahan bakar neraka yang menjadi tempat penyiksaan di akhirat bagi orang-orang yang berbuat maksiat. Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa orang yang beribadah kepada selain Allah dan yang disembah akan mendapat balasan yang pedih, yaitu dijadikan sebagai bahan bakar neraka jahannam. Dijadikannya sesembahan kaum musyrikin sebagai bahan bakar neraka merupakan siksaan tersendiri bagi para penyembah itu, karena mereka menyaksikan sendiri apa yang sepenuhnya bertentangan dengan kepercayaan mereka.

2. Khālidūn خَالِدُوْنَ(al-An biyā’/21: 99)

Khālidūn merupakan bentuk jamak mużakar salim dari khālid yang merupakan bentuk ism fā’il dari kata kerja khalada-yakhludu yang maknanya kekal atau abadi. Dengan demikian khālidūn berarti mereka menjadi kekal. Namun perlu diingat bahwa satu-satunya yang kekal itu hanya Allah. Sedangkan mahluk pada dasarnya tidak kekal, hanya saja mereka dikekalkan Allah dengan tujuan agar mereka dapat merasakan balasan dari perbuatan yang telah dilakukan. Karenanya, Allah itu kekal dengan sendiri-Nya (bi nafsihi), sedang mahluk kekal karena dikekalkan Allah (bi gairihi).

3. Zafīr زَفِيْر (al-Anbiyā’/21: 100)

Zafīr merupakan bentuk maṣdar dari kata kerja zafara-yazfiru, yang artinya suara gejolak, suara tarikan nafas panjang, suara lenguhan keledai yang pertama. Dalam ayat ini, zafīr diartikan sebagai suara rintihan nafas dari seseorang yang disertai rasa sakit yang kadang-kadang terdengar seperti orang yang tercekik karena nafas yang sesak. Dalam ayat ini, zafīr dimaksudkan untuk menggambarkan rintihan orang musyrik ketika menarik nafas pada saat disiksa akibat perilaku syirik, yaitu menyembah kepada selain Allah.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto