Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 62 - Surat Al-Anfāl (Rampasan Perang)
الانفال
Ayat 62 / 75 •  Surat 8 / 114 •  Halaman 185 •  Quarter Hizb 19.25 •  Juz 10 •  Manzil 2 • Madaniyah

وَاِنْ يُّرِيْدُوْٓا اَنْ يَّخْدَعُوْكَ فَاِنَّ حَسْبَكَ اللّٰهُ ۗهُوَ الَّذِيْٓ اَيَّدَكَ بِنَصْرِهٖ وَبِالْمُؤْمِنِيْنَۙ

Wa iy yurīdū ay yakhda‘ūka fa inna ḥasbakallāh(u), huwal-lażī ayyadaka binaṣrihī wa bil-mu'minīn(a).

Jika mereka hendak menipumu, sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu. Dialah yang memperkuat kamu dengan pertolongan-Nya dan dengan (dukungan) orang-orang mukmin.

Makna Surat Al-Anfal Ayat 62
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan jika mereka, orang-orang kafir, hendak menipumu dengan bersikap baik dan seolah-olah cenderung kepada perdamaian, maka sesungguhnya cukuplah Allah menjadi pelindung bagimu. Dialah satu-satu-Nya yang memberikan kekuatan kepadamu dengan pertolongan-Nya, baik melalui cara yang wajar maupun yang tidak disadari dan dengan dukungan orang-orang mukmin, yaitu dari kaum Muhajirin dan Ansar.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Bila kaum Yahudi dan kaum musyrikin hendak menipu atau hendak mencari kesempatan untuk menyerang dengan adanya perdamaian, maka Allah memberikan jaminan kepada Nabi Muhammad saw bahwa hal itu tidak akan membahayakan kaum Muslimin. Cukuplah Allah (sebagai pelindung), Allah senantiasa melindungi Rasul-Nya dan melindungi umat Islam dan akan memberikan kemenangan kepada mereka bila musuh-musuh itu menyerang kembali. Allah telah memperkuat kedudukan Rasul-Nya dengan pertolongan yang diberikan-Nya kepada kaum Muslimin di masa-masa yang lalu seperti yang terjadi pada Perang Badar, di mana kaum Muslimin dalam keadaan lemah dan sedikit jumlahnya. Mereka dapat mengalahkan kaum musyrikin yang berlipat ganda dan lengkap per-senjataannya. Allah telah mempersatukan hati kaum Muslimin sehingga mereka hidup rukun dan damai, cinta mencintai, dan saling menolong, sehingga mereka merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, padahal mereka sebelumnya hidup bersuku-suku dan bermusuhan antara satu golongan dengan golongan yang lain. Mereka pada mulanya terdiri dari kaum Muslimin yang datang ke Medinah dan kaum Anṣar penduduk Medinah yang menyambut kedatangan kaum Muslimin itu. Kaum Anṣar sendiri dahulunya terpecah-belah terdiri dari suku Aus dan Khazraj. Antara kedua suku ini senantiasa terjadi permusuhan dan peperangan. Tetapi dengan kehendak Allah mereka semuanya menjadi umat yang bersatu di bawah panji-panji iman, bersedia mengorbankan harta dan jiwa untuk menegakkan kalimah Allah. Ini adalah satu karunia dari Allah yang tidak ternilai harganya yang tidak dapat dicapai walaupun dengan mengorbankan semua harta dan kekayaan. Kesatuan hati, kesatuan tekad dan kesatuan cita-cita dan ideologi adalah hal yang amat penting dan berharga untuk mencapai satu cita-cita. Inilah karunia Allah yang telah dimiliki oleh kaum Muslimin pada masa itu. Karena pentingnya karunia itu dan amat tinggi nilainya Allah mengingatkan mereka agar selalu mengingat Allah dengan firman-Nya:

وَاذْكُ ُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ

Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Āli ‘Imrān/3: 103)

Maka dengan pertolongan Allah dan persatuan kaum Muslimin serta rasa cinta, kasih sayang yang terjalin antara sesama mereka, betapa pun kesulitan dan bagaimana pun besar bahaya yang akan menimpa tentu akan dapat ditanggulangi dan diatasi. Allah memperingatkan pula dalam ayat ini bagaimana tingginya nilai persatuan itu, sehingga bila Nabi Muhammad sendiri menghabiskan semua kekayaan yang ada di bumi untuk mencapainya pasti dia tidak akan berhasil. Tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka dengan iman yang kuat dan rasa kasih-sayang yang tinggi. Ini adalah satu tanda bahwa Allah meridai kaum Muslimin dan merestui perjuangan mereka dan mereka tidak perlu merasa khawatir sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Isi Kandungan Kosakata

Allafa أَلَّفَ (al-Anfāl/8: 63)

Kata allafa adalah bentuk fi’il maḍi, allafa-yuallifu-allif-ta’l ifan, artinya: menjinakkan, menyusun, mempersatukan, merukunkan. Allafa bayna qulūbihim artinya menyatukan hati mereka atau merukunkan mereka. Dalam ayat 63 ini fā’ilnya atau yang menyatukan hati mereka dan merukunkan mereka adalah Allah. Sebelum Nabi hijrah ke Yaṡrib yang kemudian menjadi Medinah, kabilah Arab yang terbesar di sana yaitu Aus dan Khazraj yang hampir sama besar kekuatannya. Keduanya adalah bermata pencaharian sebagai petani. Kedua suku ini selalu berselisih, bertengkar dan tidak pernah damai, sehingga mereka dikuasai oleh orang-orang Yahudi yang menjadi pedagang dan tengkulak barang-barang hasil bumi orang Arab. Kehidupan orang-orang suku Aus dan Khazraj sangat tergantung pada orang-orang Yahudi tersebut, karena mereka sudah terjerat hutang yang terlalu besar. Orang-orang Arab ini harus menjual hasil pertanian mereka kepada Yahudi dengan harga yang telah ditentukan oleh Yahudi karena perjanjian dalam hutang piutang mereka. Setelah Nabi hijrah ke Medinah orang-orang Arab yang telah masuk Islam dipersatukan oleh Agama, mereka menjadi sahabat Nabi yang disebut Anṣar (penolong). Dengan bantuan orang-orang Muhājirīn yaitu orang-orang Islam yang datang dari Mekah, hutang orang-orang Anṣar kepada Yahudi dapat dilunasi, sehingga mereka tidak terikat lagi dengan perjanjian hutang piutang dengan orang-orang Yahudi. Selanjutnya mereka melakukan perdagangan hasil pertanian mereka dengan orang-orang Muhājirīn yang juga pedagang dari Mekah. Sejak saat itu mereka bersatu dalam Islam dengan sahabat Muhājirīn, bersatu dalam perjuangan membela agama Islam dari berbagai serangan musuh-musuh agama. Pada tahun 8 H orang-orang Islam di bawah pimpinan Nabi dapat menguasai kota Mekah pada peristiwa bersejarah yang disebut Fatḥu Makkah artinya pembukaan kota Mekah.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto