ذٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْكُمْ وَاَنَّ اللّٰهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِۙ
Żālika bimā qaddamat aidīkum wa annallāha laisa biẓallāmil lil-‘abīd(i).
Yang demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu (sendiri) dan sesungguhnya Allah (sama sekali) tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.
Azab Allah yang demikian dahsyat itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri. Dan sesungguhnya Allah sama sekali tidak menzalimi masing-masing dari hamba-hamba-Nya. Sebab, turunnya azab Allah sebagai akibat perilaku manusia merupakan perwujudan dari keadilan-Nya.
Azab yang mereka rasakan itu adalah sebagai akibat perbuatan tangan mereka sendiri, yaitu kekafiran dan kezalimannya, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Disebut “tangan” yang mengadakan perbuatan, padahal suatu perbuatan kadang-kadang dilaksanakan dengan tangan atau kaki, panca indra atau akal, oleh karena menurut kebiasaan sebagian besar amal perbuatan manusia itu dilaksanakan dengan tangan. Allah tidak akan menyiksa seorang pun, kecuali disebabkan dosa-dosa dan pelanggaran yang dibuatnya sendiri.
إِنَّ اللّٰهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: يَا عِبَادِيْ إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلاَ تُظَالِمُوْا. ياَ عِبَادِيْ، إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ اُحْصِيْهَا لَكُمْ، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمِدِ اللّٰهَ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ. (رواه مسلم عن أبى ذر)
Sesungguhnya Allah berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku sendiri dan telah mengharamkan pula kezaliman itu di antara kamu. Oleh karena itu kamu jangan sekali-kali berbuat zalim. Wahai hamba-hamba-Ku sesungguh-nya amal-amalmu saja yang akan Aku perhitungkan bagimu. Barang siapa yang mendapat kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah dan barang siapa yang mendapat kejelekan, maka janganlah dia mencela, kecuali dirinya sendiri.” (Riwayat Muslim dari Abu żar)
Ni’mah نِعْمَة (al-Anfāl/8: 52)
Kata ni’mah merupakan maṣdar atau kata jadian dari kata na’ima, yan’amu-ni’mah, yang memiliki akar makna senang, bahagia, dan baik. Kata na’imar-rajulu berarti laki-laki itu senang. Kata an’ama berarti memberi kesenangan dan kebahagiaan, atau dengan kata lain memberi anugerah. Kata na’mah berarti kemewahan, seperti yang terdapat dalam al-Muzzammil/73: 11. Binatang ternak dalam bahasa Arab disebut na’amun dan bentuk jamaknya adalah An‘ām, karena bagi masyarakat Arab binatang ternak merupakan nikmat materi yang paling besar. Namun terkadang kata na’amun juga berarti binatang buruan, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an (Al-Mā’idah/5: 1). Dari kata itu juga diambil kata ni’ma yang berarti ‘sebaik-baik…’ dan kata na’am yang berarti jawaban ‘ya’.
Di dalam Al-Qur’an, kata An‘ām disebut sebanyak 32 kali. Kata ni’ma disebut sebanyak 16 kali. Kata na’am (ya) disebut sebanyak 4 kali. Dan kata-kata yang terambil dari kata ni’mah yang berarti nikmat, kesenangan dan kebahagiaan disebut sebanyak 90 kali.

















































