Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 8 - Surat Al-Fatḥ (Kemenangan)
الفتح
Ayat 8 / 29 •  Surat 48 / 114 •  Halaman 511 •  Quarter Hizb 51.75 •  Juz 26 •  Manzil 6 • Madaniyah

اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ شَاهِدًا وَّمُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًاۙ

Innā arsalnāka syāhidaw wa mubasysyiraw wa nażīrā(n).

Sesungguhnya Kami mengutus engkau (Nabi Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan

Makna Surat Al-Fath Ayat 8
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Sungguh Kami mengutus engkau wahai Nabi Muhammad sebagai saksi atas kebenaran, pembawa berita gembira bahwa mereka akan memperoleh surga apabila mereka beriman dan pemberi peringatan bahwa mereka akan disiksa apabila mereka membangkang.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah menyatakan bahwa sesungguhnya Dia mengutus Muhammad sebagai saksi atas umatnya mengenai kebenaran Islam dan keberhasilan dakwah yang beliau kerjakan. Nabi bertugas menyampaikan agama Allah kepada semua manusia, serta menyampaikan kabar gembira kepada orang- orang yang mau mengikuti agama yang disampaikannya. Mereka yang mengikuti ajakan Rasul akan diberi pahala yang berlipat ganda berupa surga di akhirat. Nabi juga bertugas memberikan peringatan kepada orang-orang yang mengingkari seruannya untuk mengikuti agama Allah bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam neraka sebagai akibat dari keingkaran itu.

Isi Kandungan Kosakata

1. Yubāyi‘ūnaka يُبَايِعُوْنَك َ (al-Fatḥ/48: 10)

Kata yubāyi‘ūnaka adalah fi‘il muḍāri‘ dalam bentuk jamak dari kata bai‘ yang dapat dipakai dalam arti “tukar-menukar atau transfer keuangan,” atau dalam arti “perjanjian, kesepakatan”. Dalam bentuk kata kerja bāya‘a, berarti “berikrar, menyatakan ikrar setia.” Dalam ayat ini dipakai arti yang kedua, “berikrar, menyatakan ikrar setia.” Baiat dalam bahasa Indonesia mengalami sedikit pergeseran makna, yakni pengakuan dan pengucapan setia kepada organisasi dan pemimpinnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) baiat diartikan “pengucapan sumpah setia kepada imam (pemimpin).”

2. ‘Alaihu عَلَيْهُ (al-Fatḥ/48: 10)

Pada kalimat ini, Imam Hafṣ perawi Imam ‘Āṣim, yaitu salah seorang Imam Qira‘at Tujuh yang masyhur, membaca ha'-nya dengan ḍammah, sementara perawi Imam ‘Aṣim lainnya yaitu Syu‘bah, begitu juga Imam lainnya dari Imam Tujuh atau Imam Sepuluh dari Imam Qira'at yang termasyhur membacanya dengan kasrah. Alasannya membaca ha' dengan ḍammah karena dari segi ketatabahasaan dan ilmu aṣwat (bunyi), huruf ha' adalah huruf yang lemah dari segi sifat atau karakteristiknya. Oleh karena itu, perlu diperkuat dengan harakat ḍammah yang relatif lebih kuat daripada harakat kasrah.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto