وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا
Wa lillāhi junūdus-samāwāti wal-arḍ(i), wa kānallāhu ‘azīzan ḥakīmā(n).
Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, yang terdiri dari para malaikat, jin dan manusia, tanda-tanda alam seperti petir dan gempa yang jika Allah memerintahkan mereka untuk membinasakan musuh-musuh Allah niscaya mereka patuh melaksanakan perintah-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui keadaan makhluk-Nya, Mahabijaksana dalam pengaturan dan perbuatan-Nya.
Diriwayatkan bahwa setelah Perjanjian Hudaibiyyah, Ibnu Ubay berkata, “Apakah Muhammad mengira bahwa setelah terjadi perdamaian Hudaibiyyah, ia tidak mempunyai musuh lagi? Bukankah masih ada kera-jaan Persia dan Romawi?” Maka turunlah ayat ini yang menerangkan bahwa Allah mempunyai tentara langit dan bumi, yang dapat mengalahkan tentara atau kekuatan apa pun jika Dia menghendakinya.
Orang-orang munafik dan orang-orang musyrik tidak akan dapat menantang kekuasaan dan kehendak Allah karena Dia mempunyai tentara yang kuat di langit dan di bumi, yang terdiri dari malaikat, jin, manusia, petir yang dahsyat, angin kencang, banjir, gempa yang dahsyat, dan sebagainya. Semuanya itu dapat dikerahkan Allah kapan saja Dia kehendaki untuk menghancurkan orang-orang yang ingkar kepada-Nya.
Dalam ayat 4 telah diterangkan pula bahwa Allah mempunyai tentara di langit dan di bumi. Dalam ayat ini diulang lagi perkataan tersebut. Fungsinya ialah untuk menjelaskan bahwa Allah mempunyai tentara untuk menyampaikan rahmat dan menurunkan azab-Nya. Ayat 4 menerangkan tentara yang menyampaikan nikmat, sedangkan ayat ini menerangkan tentara yang menurunkan azab.
Pada akhir ayat ini diterangkan bahwa Allah Mahaperkasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan dan menandingi-Nya. Dia Maha-bijaksana melakukan segala macam tindakan sesuai dengan faedah dan manfaatnya.
1. As-Sakīnah السَّكِيْنَة (al-Fatḥ/48: 4)
As-Sakīnah berasal dari tiga huruf, sin-kaf-nun, artinya tenang sesudah aktif bergerak atau lawan dari gerak dan guncang. Berbagai arti kata yang lain dari tiga huruf ini semuanya merujuk pada makna ketenangan, seperti maskan yang berarti rumah tempat penghuninya memperoleh ketenangan. Kemudian as-sikkīn (pisau) adalah alat yang menghasilkan ketenangan pada hewan setelah disembelih. Ketenangan yang disebut dalam ayat ini merupakan penghormatan bagi para sahabat untuk mengobati kekecewaan hati mereka terhadap hasil Perjanjian Hudaibiyyah yang menyebabkan mereka gagal melaksanakan umrah. Setelah Rasul menjelaskan berbagai kemaslahatan yang diperoleh kaum Muslimin dengan isi perjanjian itu, maka jiwa mereka menjadi tenang dan mantap. Mereka yakin bahwa kemenangan akan selalu berpihak pada mereka, selama mereka menaati Allah dan Rasul-Nya.
2. Junūd جُنُوْد (al-Fatḥ/48: 7)
Al-Junūd artinya bala tentara, bentuk jamak dari al-jund. Kata al-jund pada awalnya bermakna tanah yang keras, padat, dan berbatu-batu. Dari kata ini lahir kata baru yang sesuai dengan konteksnya, sehingga kata jund bermakna sekelompok orang yang memiliki sikap tegas dan bersama-sama berkumpul untuk mencapai tujuan yang diperjuangkan. Bala tentara Allah itu banyak di langit dan di bumi, baik yang terlihat maupun yang tidak (at-Taubah/9:40), yang diketahui maupun yang tidak bisa diketahui (al-Muddaṡṡir/74:31). Namun bala tentara Allah tetap berada dalam kekuasaan-Nya dan melaksanakan perintah-Nya untuk melaksanakan sesuatu sesuai kehendak Allah. Di antara bala tentara Allah di langit adalah malaikat dan hujan yang Allah turunkan pada Perang Badar, angin yang dikirim ketika terjadi Perang Ahzab (Khandaq). Sedangkan bala tentara Allah di bumi adalah kaum Muslimin yang terdiri dari berbagai kabilah, yang memenuhi panggilan Nabi Muhammad untuk berjihad sehingga tercapai pembebasan Mekah.






































