اِذَا رَاَتْهُمْ مِّنْ مَّكَانٍۢ بَعِيْدٍ سَمِعُوْا لَهَا تَغَيُّظًا وَّزَفِيْرًا
Iżā ra'athum mim makānim ba‘īdin sami‘ū lahā tagayyuẓaw wa zafīrā(n).
Apabila ia (neraka) melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar darinya suara gemuruh karena marah dan geram.
Neraka yang Allah sediakan bagi para pendusta hari Kiamat amat mengerikan. Apabila neraka melihat para pendurhaka dari tempat yang jauh, meski para pendurhaka itu tidak melihatnya, mereka mendengar suaranya yang gemuruh bagai air mendidih yang siap menyambut mereka karena kemarahannya yang meluap-luap.
Apabila orang-orang kafir itu telah digiring ke neraka, seakan-akan neraka melihat mereka dari jauh, terdengarlah suaranya yang gemuruh karena kemarahan melihat orang-orang kafir itu, seakan-akan neraka itu seekor singa yang lapar melihat mangsanya mendekatinya. Ibnu Munzir dan Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ubaid bin Umair berkata, “Sesungguhnya Jahanam itu bergemuruh suaranya sehingga para malaikat dan nabi-nabi gemetar persendiannya mendengar suara itu, sehingga Nabi Ibrahim jatuh berlutut dan berkata, “Ya Tuhanku tidak ada yang aku mohonkan hari ini kecuali keselamatan diriku.” Dapatlah dibayangkan bagaimana seramnya keadaan di waktu itu dan bagaimana dahsyatnya siksa yang akan diterima oleh mereka dan bagaimana beratnya penderitaan yang akan mereka rasakan pada waktu itu.
1. Tagayyuẓan wa zafīran تَغَيُّظًا وَزَفِيْرًا (al-Furqān/25: 12)
Tagayyuẓan artinya kegeraman, terambil dari kata al-gaiẓ yang berarti memuncaknya kemarahan dari seseorang. Sering juga dikatakan jika orang sedang marah darahnya mendidih. Tagayyuẓ berarti memperlihatkan kemarahan. Terkadang disertai juga dengan suara yang meledak-ledak.Dari sini muncul arti “geram”.
Zafīr akar katanya (ز- ف- ر) yang mempunyai dua arti. Pertama, muatan, beban, dan bawaan (ḥiml). Seorang lelaki disebut zufar karena dia membawa muatan berupa harta benda. Sungai yang besar juga disebut demikian karena membawa air yang banyak. Kedua, suara. Pengertian kedua inilah yang tepat dengan ayat ini. Pada mulanya zafīr adalah untuk nafas yang terengah-engah (taraddudun nafas) atau nafas yang panjang sehingga tulang rusuknya membesar. Dari sini muncul arti “nyala”.
Tagayyuẓ dan zafīr adalah gambaran penghuni neraka yang mengeluarkan suara geram dan nyala. Dengan dua gambaran ini saja sudah cukup bisa membayangkan situasi kejiwaan mereka yang diliputi oleh seribu macam kekalutan dan kemarahan dan lain sebagainya.
2. Ṡubūran ثُبُوْرًا (al-Furqān/25: 13)
Akar kata dari (ث - ب- ر) mempunyai tiga arti. Pertama, kemudahan. Kedua, kerusakan atau kecelakaan. Ketiga, menekuni satu pekerjaan secara terus menerus. Dari ketiga arti ini, arti kedua lah yang dimaksud oleh ayat ini.















































