اِعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يُحْيِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَاۗ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ
I‘lamū annallāha yuḥyil-arḍa ba‘da mautihā, qad bayyannā lakumul-āyāti la‘allakum ta‘qilūn(a).
Ketahuilah bahwa Allah menghidupkan bumi setelah matinya (kering). Sungguh, telah Kami jelaskan kepadamu tanda-tanda (kebesaran Kami) agar kamu mengerti.
Wahai orang yang beriman, ketahuilah bahwa Allah berkuasa menghidupkan bumi setelah mati dan kering-nya dengan menurunkan hujan sehingga bumi menjadi subur dan menjadi media tumbuh tanaman. Sungguh, telah Kami jelaskan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami, baik yang ada di alam semesta atau pada dirimu sendiri, agar kamu mengerti.
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia yang menghidupkan bumi sesudah mati. Allah melembutkan hati yang keras, memberi petunjuk manusia yang sesat, menghilangkan kesukaran dengan penjelasan dan petunjuk Al-Qur’an dengan nasihat dan pengajaran yang dapat melembutkan batu yang keras yakni hati yang kotor, sebagaimana menghidupkan dan menyuburkan tanah yang gersang membatu dengan hujan yang lebat.
Demikianlah Allah telah menjelaskan agar manusia itu dapat memikir-kan dan mempergunakan akalnya dengan sebaik-baiknya.
1. Alam Ya’ni أَلمَ ْيَأْنِ (al-Ḥadīd/57: 16)
Ya’ni adalah fi‘il muḍāri‘ dari kata anā-ya'nī yang berarti dekat waktunya. Kalimat anā ar-raḥīlu berarti telah dekat waktunya kebe-rangkatan. Menurut al-Anbari, kata al-anā′ berarti sampainya sesuatu ke batas akhirnya. Kalimat anā al-mā'u berarti air itu telah mencapai puncak didihnya. Kata ḥamīmun ān berarti air yang berada dalam puncak didih, sebagaimana di dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air mendidih yang memuncak panasnya.” (ar-Raḥmān/55: 44) Darinya diambil kata ‘ainun aniyah yang berarti sumber yang sangat panas, sebagaimana dalam firman Allah, “Diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas.” (al-Gāsyiyah/88: 5) Dan yang dimaksud dengan kata alam ya'ni di sini adalah tidakkah telah tiba waktunya.
2. Al-Amad الأَمَدُ (al-Ḥadīd/57: 16)
Kata al-amadu berarti batas waktu. Di dalam kalimat Arab disebutkan, mā amaduka? berarti, ‘Kapan kamu lahir?’ Hal itu karena manusia memiliki batas waktu. Yang pertama adalah permulaan dari penciptaannya yang berhenti pada kelahirannya. Dan yang kedua adalah kematian. Jadi, yang dimaksud dengan kata al-amad di sini adalah masa. Dan maksud dari ayat ini adalah Allah melarang orang-orang mukmin untuk berserupa dengan Ahli Kitab sebelum mereka. Mereka tidak menjaga keimanan, sehingga lambat laun iman mereka terkikis oleh waktu, lalu mereka mengubah Kitab Allah, menukarnya dengan keuntungan yang sedikit, serta mengikuti ber-agam pendapat manusia yang menyimpang. Setelah itu, hati mereka men-jadi keras sehingga tidak menerima nasihat.










































