وَاِنْ يُّكَذِّبُوْكَ فَقَدْ كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوْحٍ وَّعَادٌ وَّثَمُوْدُ ۙ
Wa iy yukażżibūka faqad każżabat qablahum qaumu nūḥiw wa ‘āduw wa ṡamūd(u).
Jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan engkau (Nabi Muhammad), sungguh, sebelum mereka, kaum (Nabi) Nuh, ‘Ad, dan Samud telah mendustakan (para rasul).
Dan jika mereka, orang-orang musyrik yang kaya dan berkuasa di Mekah, mendustakan ajaran engkau, Muhammad, yang bersumber dari wahyu Allah,maka sungguh begitulah sikap kaum sebelum mereka, mendustakan ajaran yang dibawa oleh para nabi mereka seperti kaum Nuh, ‘Ad, dan Samud, dan demikian juga sifat dan karakter kaum Ibrahim dan kaum Lut yang secara terbuka menantang dan mendustakan ajaran para nabi yang diutus kepada mereka.
Ayat-ayat ini merupakan penawar hati Nabi Muhammad saw dan hati para sahabat yang sedang susah dan gundah akibat tindakan sewenang-wenang yang dilakukan orang-orang musyrik Mekah terhadap mereka. Seakan-akan Allah mengatakan kepada Nabi Muhammad, hai Muhammad jika orang-orang musyrik Mekah mendustakanmu, tidak mengindahkanmu, bahkan menentang seruan engkau, berbuat kerusakan di muka bumi, menyakiti dan menyiksa para sahabatmu dengan cara yang beraneka ragam, janganlah kamu bersedih hati, janganlah putus asa dan kuatkanlah hatimu dalam menghadapi mereka, karena umat-umat dahulu pun telah men-dustakan para rasul yang diutus kepada mereka, tetapi Aku memberikan pertolongan kepada mereka, sehingga kemenangan berada pada mereka.
Allah berfirman:
حَتّٰٓى اِذَا اسْتَيْـَٔسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوْٓا اَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوْا جَاۤءَهُمْ نَصْرُنَاۙ فَنُجِّيَ مَنْ نَّشَاۤءُ ۗوَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْن َ ١١٠
Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka (para rasul) itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang yang Kami kehendaki. Dan siksa Kami tidak dapat ditolak dari orang yang berdosa. (Yūsuf/12: 110)
Demikianlah Nuh as telah didustakan oleh kaumnya, mereka mengancam dan mendurhakainya, termasuk anaknya sendiri. Nabi Hud as telah didustakan oleh kaumnya, yaitu kaum ‘Ād, Nabi Saleh oleh kaumnya, yaitu kaum Samūd, begitu pula Ibrahim, Lut, Syu’aib. Semuanya didustakan oleh kaumnya, disakiti dan disiksa, tetapi mereka tetap tabah dan sabar. Semakin keras siksa dan penentangan dari kaumnya, semakin bertambah kuat iman mereka. Akhirnya kemenangan berada di pihak mereka.
Musa telah didustakan oleh Fir‘aun dan kaumnya, mereka tidak mempercayai semua mukjizat yang diperlihatkan Musa, sekalipun mereka tidak dapat mengalahkan Musa as atau mendatangkan mukjizat seperti mukjizat Nabi Musa itu. Karena mereka tetap ingkar, maka sunnah Allah berlaku bagi mereka, yaitu Allah menolong orang-orang yang beriman dan menghancurkan semua orang kafir yang durhaka kepada-Nya, pada saat yang ditentukan-Nya.
Perhatikanl ah sejarah umat-umat dahulu yang menentang para rasul yang diutus kepada mereka, akhirnya semua ditimpa malapetaka yang dahsyat, sehingga kesombongan, kegembiraan dan kesenangan yang ada pada mereka beralih seketika menjadi kesedihan dan kesengsaraan yang tiada taranya. Kemudian setelah mengalami malapetaka yang dahsyat itu, di akhirat mereka akan ditimpa azab yang pedih. Mengubah suatu kemewahan dan kesenangan menjadi suatu kesengsaraan dan penderitaan, suatu kemenangan berubah menjadi suatu kekalahan dalam waktu yang sangat singkat amatlah mudah bagi Allah Yang Mahakuasa dan Maha Bijaksana melakukannya.
Allah berfirman:
اِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيْدٌ ۗ ١٢
Sungguh, azab Tuhanmu sangat keras. (al-Burūj/85: 12)
Dan firman Allah:
وَكَذٰلِكَ اَخْذُ رَبِّكَ اِذَآ اَخَذَ الْقُرٰى وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۗاِنَّ اَخْذَهٗٓ اَلِيْمٌ شَدِيْدٌ ١٠٢
Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat. (Hūd/11: 102)
1. Bi’r Mu’aṭṭalah بِئْرٍ مُعَطَّلَةٍ (al-Ḥajj/22:45)
Artinya sumur yang sudah ditinggalkan. Kata mu’aṭṭalah, akar katanya adalah ع- ط- ل)) menunjukkan arti kosong (khuluw-farag). Dari pengertian asal ini muncul pengertian lain seperti tidak diperhatikan, dibiarkan, dan lain sebagainya terkait dengan konteksnya. Seperti unta yang ditinggalkan dan dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya. Firman Allah ( واذا العشار عطلت ) (at-Takwīr/81:4) artinya “Dan ketika unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan).” Sumur yang sudah tidak digunakan dan tidak dipakai lagi, juga disebut dengan bi’r mu’aṭṭalah sebagaimana pada ayat ini. Baik unta maupun sumur adalah dua kekayaan yang sangat berharga bagi orang arab atau orang yang mendiami padang pasir. Jika kedua hal tersebut sudah tidak diperhatikan lagi atau ditinggalkan, berarti pasti ada hal yang sangat menyibukkan penghuninya sehingga tidak memperdulikannya lagi, apakah mereka lari seperti pada surah at-Takwīr, atau mati seperti pada ayat ini.
2.Qaṣr Masyīd قَصْرٍ مَشِيْدٍ (Al-Hajj/22:45)
Artinya Istana yang tinggi. Kata qaṣr akar katanya adalah ق- ص- ر)) yang mempunyai dua pengertian. Pertama, tidak tercapainya sesuatu pada puncaknya. Salat yang diqasr adalah salat yang tidak disempurnakan. Seperti empat rakaat menjadi dua rakaat. Qaṣr juga lawan dari ṭūl (tinggi). At-taqṣir ialah lalai, lengah, karena tidak dikerjakan dengan sebenarnya. Kedua, tertahan. Allah menggambarkan bidadari surga yang pandangan matanya tidak diarahkan kecuali kepada suaminya sendiri dengan firman-Nya: (قاصرات الطرف ) ar-Raḥmān/55: 56. Begitu juga bidadari yang dipingit dalam rumah/kemah disebutnya sebagai (حور مقصورات فى الخيام) (ar-Raḥmān/55:72). Satu ruangan dalam mesjid, biasanya didekat mihrab, seperti kerangkeng yang diperuntukkan untuk orang penting disebut “maqṣūrah.”
Istana disebut dengan qaṣr karena bangunan istana mengepung orang yang berada didalamnya, sehingga orang yang ada didalamnya seperti tertahan.
Masyīd berakar kata (ش-ي- د) yang berarti tingginya sesuatu. Asy-Syīd الشيد adalah juga berarti benda untuk melabur dinding atau benda campuran untuk membangun. Al-Isyadah adalah mengangkat citra seseorang. Dengan demikian maka ungkapan Qaṣr Masyid bisa berarti istana yang dibangun, didirikan atau ditinggikan.
Sekali lagi qaṣr adalah tempat yang sangat berharga bagi penghuninya. Tapi dosa yang dilakukan oleh mereka menyebabkan mereka dibinasakan oleh Allah. Semua harta peninggalan mereka termasuk qaṣr ditinggal.













































