يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۗ وَاِلَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُ
Ya‘lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa ilallāhi turja‘ul-umūr(u).
Dia (Allah) mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka. Hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.
Allah tidak hanya Maha Mendengar dan Maha Melihat, tetapi Dia juga mengetahui apa yang di hadapan mereka, yang belum terjadi, karena pengetahuan Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu, dan mengetahui pula apa yang di belakang mereka, yang sudah terjadi di masa silam. Oleh karena itu, manusia harus meyakini dengan penuh keinsafan bahwa hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan, karena sesungguhnya Allah yang mengurus seluruh alam dan seluruh manusia akan kembali menghadap Allah di akhirat.
Allah Maha Mengetahui keadaan para malaikat dan keadaan manusia, baik sebelum mereka diciptakan maupun sesudah mereka diciptakan dan mengetahui pula keadaan mereka sesudah tiada nanti. Allah Maha Mengetahui apa yang akan terjadi, apa yang telah terjadi, dan mengetahui pula akhir segala sesuatu nanti, karena kepada-Nyalah kembalinya urusan segala sesuatu.
1. Yaslubhum يَسْلُبْهُمْ (al-Ḥajj/22:73)
Bentuk muḍari’ dari fi’il māḍy salaba. Akar katanya (س- ل- ب) artinya mengambil sesuatu dengan cara merampasnya (ikhtiṭaf) atau mengambil sesuatu dari orang lain dengan kekuatan (al-Qahr). Ayat ini menggambarkan betapa lemahnya sesembahan selain Allah, yang tidak mampu menciptakan makhluk yang kecil dan lemah, yang kelihatannya tidak berguna seperti lalat. Kemudian jika lalat tadi mengambil sesuatu dari manusia sedikit saja, dengan cara merampas, maka makhluk manapun tidak akan mampu merebutnya kembali dari lalat itu. Menghadapi perlakuan lalat yang kecil saja sesembahan yang berupa patung-patung itu tidak berdaya, begitu juga manusia tidak mampu, apalagi untuk persoalan yang lebih besar lagi.
2. Ḍa’ufaṭṭālibu Wal Maṭlūb ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوْب ِ (al-Ḥajj/22:73)
Ḍa’uf a artinya lemah. Aṭ-Ṭālib artinya yang mencari, maksudnya ialah penyembah berhala. Mereka meyakini bahwa sesembahan tersebut bisa mendatangkan kemanfaatan dan menolak kemudaratan. Oleh karena itu mereka meminta kepada sesembahan tersebut. Penyembah dikatakan lemah karena ketidaktahuannya meminta sesuatu kepada sesembahan yang tidak mempunyai apa apa. Perbuatan ini jelas salah arah. Al-Maṭlūb maksudnya adalah sesembahan selain Allah. Dia lemah karena tidak mampu mengambil kembali apa yang diambil oleh lalat yang menghinggapinya dan mengambil sesuatu darinya.
Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud aṭ-ṭālib adalah lalat, al-Maṭlūb ialah sesembahan. Lalat adalah makhluk yang lemah. Begitu juga sesembahan. Ada yang berpendapat bahwa aṭ-ṭālib adalah sesembahan, al-maṭlūb adalah lalat. Artinya jika sesembahan itu ingin menciptakan lalat dia tidak akan mampu.














































