كَمَثَلِ الشَّيْطٰنِ اِذْ قَالَ لِلْاِنْسَانِ اكْفُرْۚ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّنْكَ اِنِّيْٓ اَخَافُ اللّٰهَ رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ
Kamaṡalisy-syaiṭāni iż qāla lil-insānikfur, falammā kafara qāla innī barī'um minka innī akhāfullāha rabbal-‘ālamīn(a).
(Perumpamaan bujukan orang-orang munafik kepada kaum Yahudi) seperti setan ketika berkata kepada manusia, “Kufurlah kamu!” Ketika orang itu kufur, ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.”
Bujukan orang-orang munafik kepada Bani Nadir untuk bekerja sama melawan kaum muslim dan berjanji akan menolong Bani Nadir, jika diserang dan diusir seperti bujukan setan ketika ia berkata kepada manusia dengan meyakinkan, “Kafirlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya!” Kemudian ketika manusia itu mengikuti bujukan setan menjadi kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, ia, setan itu, berkata kepada orang-orang yang sudah berhasil dijerumuskan, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, kamu sendiri yang harus mempertanggungjawabkan perbuatan kamu di hadapan Allah di akhirat, karena sesungguhnya aku sendiri sebenarnya takut kepada Allah, terutama saat diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah, Tuhan seluruh alam.”
Ayat ini menjelaskan bahwa perbuatan khianat orang-orang munafik yang berjanji akan menolong Bani Naḍīr bila diserang kaum Muslimin dan ikut mereka bila diusir dari Medinah, adalah seperti perbuatan setan.
Setan selalu merayu manusia agar mengingkari Allah dan tidak mengikuti agama yang telah disampaikan rasul-Nya. Akan tetapi, bila manusia itu memerlukan pertolongan dalam menghadapi kesengsaraan dan malapetaka yang datang kepada mereka, setan berlepas diri dan tidak menepati janjinya. Mereka bahkan berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam.”
Allah menyamakan orang-orang munafik dengan setan untuk menunjukkan bahwa sifat-sifat orang-orang munafik itu sama dengan sifat-sifat setan. Setan yang durhaka mematuhi hukum-hukum Allah, percaya bahwa Allah itu ada, Maha Esa, dan hanya Dia yang berhak disembah. Setan juga percaya bahwa syarat-syarat memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat hanya dengan mengikuti agama Allah. Akan tetapi, mereka adalah kaum yang fasik. Mereka mengetahui kebenaran sesuatu tetapi tidak melaksanakannya. Demikian pula halnya dengan orang-orang munafik, mereka tahu mana yang benar dan mana yang salah, tetapi mereka tidak melaksanakan kebenaran itu. Mereka bahkan melakukan perbuatan-perbuatan menghasut dan terlarang. Allah berfirman:
وَقَالَ الشَّيْطٰنُ لَمَّا قُضِيَ الْاَمْرُ اِنَّ اللّٰهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُّكُم ْ فَاَخْلَفْتُكُ مْۗ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍ اِلَّآ اَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُم ْ لِيْ ۚفَلَا تَلُوْمُوْنِيْ وَلُوْمُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ مَآ اَنَا۠ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَآ اَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّۗ اِنِّيْ كَفَرْتُ بِمَآ اَشْرَكْتُمُوْ نِ مِنْ قَبْلُ ۗاِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٢٢
Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sungguh, orang yang zalim akan mendapat siksaan yang pedih. (Ibrāhīm/14: 22)
Jadi bentuk perumpamaan dalam ayat ini ialah orang-orang munafik diserupakan dengan setan. Orang-orang Yahudi Bani Naḍīr disamakan dengan orang-orang yang teperdaya oleh bujukan setan. Ketakutan mereka kepada kaum Muslimin disamakan dengan ketakutan mereka kepada Allah, bahkan lebih dari itu.
1. Rahbah رَهْبَةٌ (al-Ḥasyr/59: 13)
Kata rahbah merupakan bentuk isim maṣdar dari fi‘il rahiba-yarhabu-rahbatan wa ruhban wa rahaban wa ruhbānan yang artinya takut. Asyaddu rahbah artinya lebih menakutkan atau lebih ditakuti. Pada ayat 13, Allah menerangkan bahwa sesungguhnya dalam hati mereka, orang-orang munafik, benar-benar lebih takut kepada kaum Muslimin daripada Allah, sehingga mereka tidak menepati janji mereka untuk menolong orang Yahudi Bani Naḍīr ketika diusir Nabi Muhammad. Bani Naḍīr diusir oleh Nabi Muhammad dan harus meninggalkan Medinah karena merencanakan pembunuhan terhadap Nabi saw ketika beliau berkunjung bersama para sahabatnya ke perkampungan mereka, tetapi rencana itu gagal. Sebagai hukuman terhadap mereka, seluruh anggota Bani Naḍīr harus keluar dari Medinah (Surah al-Ḥasyr/59: 2), maka mereka pergi ke Najran. Orang-orang munafik yang lebih takut kepada Nabi dan kaum Muslimin daripada kepada Allah, tidak berbuat apa-apa untuk menolong Bani Naḍīr meskipun mereka telah berjanji akan bekerjasama dan saling membantu dengan Bani Naḍīr.
2. Muḥaṣṣanah مُحَصَّنَةٌ (al-Ḥasyr/59: 14)
Kata muḥaṣṣanah merupakan bentuk isim maf‘ūl dari fi‘il ḥaṣṣana-yuḥaṣṣin u-taḥṣīnan artinya memperkuat, membentengi. Muḥaṣṣanah artinya yang diperkuat, yang dibentengi. Pada ayat 14 surah ini, Allah menerangkan sikap orang-orang munafik yaitu mereka tidak akan memerangi kamu secara bersama-sama kecuali di negeri yang berbenteng atau dari balik tembok. Jadi orang-orang munafik itu sebetulnya tidak berani berperang menghadapi kaum Muslimin karena dalam hati mereka telah timbul rasa takut dan gentar menghadapi kaum Muslimin. Mereka hanya berani berperang di balik benteng-benteng yang kuat dan kokoh saja, atau dalam rumah mereka dari balik tembok.













































