Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 7 - Surat Al-Ḥijr (Hijr)
الحجر
Ayat 7 / 99 •  Surat 15 / 114 •  Halaman 262 •  Quarter Hizb 27 •  Juz 14 •  Manzil 3 • Makkiyah

لَوْمَا تَأْتِيْنَا بِالْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ

Lau mā ta'tīnā bil-malā'ikati in kunta minaṣ-ṣādiqīn(a).

Mengapa engkau tidak mendatangkan malaikat kepada kami, jika engkau termasuk orang-orang yang benar?”

Makna Surat Al-Hijr Ayat 7
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Tidak hanya mengolok Nabi Muhammad, mereka juga meminta beliau mendatangkan malaikat. Mereka berkata, “Mengapa engkau tidak mendatangkan malaikat dalam bentuk aslinya kepada kami, supaya menjadi bukti kebenaran pengakuanmu sebagai rasul, agar mereka menyampaikan pesan-pesan Allah kepada kami secara langsung, atau agar mereka menyiksa kami dengan azab dari Tuhanmu, jika engkau termasuk orang yang benar?”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Selanjutnya orang-orang kafir mengatakan, “Seandainya engkau hai Muhammad benar-benar percaya atas kebenaran apa yang engkau sampaikan dan percaya bahwa engkau benar-benar nabi dan rasul Allah, yang diutus kepada kami, tentulah engkau dapat meminta kepada-Nya agar bersama engkau diutus pula seorang malaikat dari langit, yang dapat menguatkan dan membuktikan kenabian dan kerasulanmu itu kepada kami.”

Dari permintaan mereka itu, tergambarlah jalan pikiran mereka tentang kenabian dan kerasulan. Menurut mereka, jika diutus seorang nabi atau rasul, mesti ada malaikat yang mendampinginya, sehingga malaikat dapat menguatkan kenabian dan kerasulannya, memudahkan manusia menerima risalahnya, atau nabi itu cukup berupa malaikat saja. Menurut jalan pikiran mereka, yang membawa ayat-ayat Allah hanyalah makhluk rohani, sedangkan manusia adalah makhluk jasmani (dapat dilihat). Manusia, sekalipun mempunyai kekuatan yang tinggi, tetap tidak mungkin menjadi nabi dan rasul, disebabkan mereka masih bergaul dengan manusia, berada di tengah-tengah mereka, dan masih memiliki kebutuhan jasmani, seperti makan, minum, berpakaian, ingin kekuasaan, ingin mengumpulkan harta, tertarik dengan kehidupan duniawi, dan sebagainya. Karena itu mustahil seorang manusia menjadi nabi dan rasul, kecuali jika pengangkatan kenabian dan kerasulan itu dikuatkan atau dikukuhkan dengan keberadaan malaikat sebagai pendamping.

Kepercayaan orang-orang musyrik Mekah ini seperti kepercayaan Fir‘aun dan para pengikutnya tentang rasul dan nabi. Menurut mereka, seharusnya semua rasul yang diutus Allah diangkat dengan upacara yang penuh keagungan dan kebesaran, seperti pengangkatan raja-raja mereka, dengan memakai perhiasan gelang dan kalung yang terbuat dari emas dan pakaian kebesaran, atau rasul itu datang dengan diiringi oleh para malaikat, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah swt:

فَلَوْلَآ اُلْقِيَ عَلَيْهِ اَسْوِرَةٌ مِّنْ ذَهَبٍ اَوْ جَاۤءَ مَعَهُ الْمَلٰۤىِٕكَة ُ مُقْتَرِنِيْنَ ٥٣ فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهٗ فَاَطَاعُوْهُ ۗاِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمًا فٰسِقِيْنَ ٥٤

“Maka mengapa dia (Musa) tidak dipakaikan gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?” Maka (Fir‘aun) dengan perkataan itu telah mempengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik. (az-Zukhruf/43: 53-54)

Isi Kandungan Kosakata

Lamajnūn لَمَجْنُوْنٌ (al-Ḥijr/15: 6)

Terambil dari kata janna, yaitu menutup sesuatu sehingga tidak terpantau, tidak diketahui lagi. Dari kata itu terambil kata jinn yaitu makhluk yang tertutup bagi manusia sehingga manusia tidak merasakan atau mengetahuinya. Majnūn adalah orang yang tertutup akalnya sehingga tidak merasakan dan menyadari perbuatannya. Hal itu bisa juga disebabkan oleh jin. Terjemahannya adalah “gila”.

Dalam Al-Qur’an, kata itu terulang sebelas kali, dan yang dimaksudkan adalah para nabi. Mereka, sebagaimana diinformasikan dalam Surah aż-Żāriyāt/51: 52, bila tidak dituduh tukang sihir, dituduh gila oleh umatnya. Nabi Muhammad sering dituduh demikian oleh kafir Quraisy, sekaligus dituduh sebagai seorang yang pernah diajar orang lain (ad-Dukhān/44: 14) dan seorang dukun (aṭ-Ṭūr/52: 29). Padahal Nabi Muhammad itu sudah terbukti manusia agung. Dia tidak pernah memperoleh pengajaran dari orang lain, atau memperolehnya dari membaca, karena beliau buta huruf. Beliau memperoleh semuanya dari wahyu Allah.

Dalam Surah aż-Żāriyāt/51: 39, Fir‘aun menuduh Nabi Musa tukang sihir atau gila, padahal terbukti kemudian bahwa beliau adalah pemimpin dan nabi. Nabi Nuh juga mendapat perlakuan demikian, bahkan kemudian beliau dibentak dan diancam agar tidak melakukan dakwah lagi (al-Qamar/54: 9). Adapun lamajnūn, la yang ditambahkan pada awal kata itu bermakna “sungguh-sungguh”. Yang dimaksud sungguh-sungguh gila oleh orang-orang kafir Quraisy adalah Nabi Muhammad (al-Ḥijr/15: 6) dan Nabi Musa oleh Fir‘aun (asy-Syu’arā’/26: 27).

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto