Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 6 - Surat Al-Ḥijr (Hijr)
الحجر
Ayat 6 / 99 •  Surat 15 / 114 •  Halaman 262 •  Quarter Hizb 27 •  Juz 14 •  Manzil 3 • Makkiyah

وَقَالُوْا يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْ نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ اِنَّكَ لَمَجْنُوْنٌ ۗ

Wa qālū yā ayyuhal-lażī nuzzila ‘alaihiż-żikru innaka lamajnūn(un).

Mereka berkata, “Wahai orang yang kepadanya diturunkan Al-Qur’an, sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) benar-benar orang gila.392)

Makna Surat Al-Hijr Ayat 6
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan tidak hanya melakukan perbuatan buruk, orang kafir juga mengucapkan perkataan yang menyakiti Nabi Muhammad. Mereka berkata, “Wahai orang yang kepadanya diturunkan al-Qur'an, sesungguhnya engkau, wahai Muhammad, benar-benar orang gila karena mengakui apa yang kausampaikan bersumber dari Allah.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan perkataan dan ejekan orang-orang kafir Mekah kepada Nabi Muhammad saw ketika ayat-ayat Al-Qur’an disampaikan kepada mereka. Mereka mengatakan, “Hai Muhammad, engkau yang mengaku sebagai nabi dan rasul Allah dan telah diturunkan Al-Qur’an kepadamu. Sebenarnya ucapan dan dakwahmu itu menunjukkan bahwa kamu sesungguhnya adalah orang yang gila atau ada tanda-tanda gila pada dirimu, karena Al-Qur’an tidak mempunyai arti dan makna sedikit pun, bertentangan dengan pendapat kami, dan menyalahi kepercayaan yang telah diwariskan nenek moyang kami. Apakah mungkin kami menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan pikiran dan tidak disukai pula oleh cerdik-pandai dan para ulama kami.”

Dari ucapan orang-orang kafir itu, tampak jelas sikap mereka yang sebenarnya terhadap Al-Qur’an dan Nabi Muhammad saw. Mereka membantah Al-Qur’an tanpa memikirkan dan merenungkan bukti-bukti dan dalil-dalil yang tersebut di dalamnya yang menjelaskan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah yang ada pada diri mereka, pada hewan ternak yang mereka pelihara, pada tanaman-tanaman yang mereka tanam untuk memenuhi kebutuhan mereka, pada bumi tempat mereka bertempat tinggal, pada alam semesta, dan sebagainya. Semuanya itu mereka ingkari dan dustakan tanpa merenungkan dan memikirkan terlebih dahulu.

Sikap mereka yang demikian itu timbul karena kesesatan hati, keras kepala, dan fanatik kepada nenek moyang yang telah terhunjam dalam diri mereka, sebagaimana firman Allah swt:

مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ ذِكْرٍ مِّنْ رَّبِّهِمْ مُّحْدَثٍ اِلَّا اسْتَمَعُوْهُ وَهُمْ يَلْعَبُوْنَ ۙ ٢ لَاهِيَةً قُلُوْبُهُمْۗ وَاَسَرُّوا النَّجْوَىۖ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْاۖ هَلْ هٰذَآ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْۚ اَفَتَأْتُوْنَ السِّحْرَ وَاَنْتُمْ تُبْصِرُوْنَ ٣

Setiap diturunkan kepada mereka ayat-ayat yang baru dari Tuhan, mereka mendengarkannya sambil bermain-main. Hati mereka dalam keadaan lalai. Dan orang-orang yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka, ”(Orang) ini (Muhammad) tidak lain hanyalah seorang manusia (juga) seperti kamu. Apakah kamu menerimanya (sihir itu) padahal kamu menyaksikannya?” (al-Anbiyā’/21: 2-3)

Karena sikap tidak mau memperhatikan dan rasa fanatik yang mendalam, mereka mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah swt:

وَمَا تَأْتِيْهِمْ مِّنْ اٰيَةٍ مِّنْ اٰيٰتِ رَبِّهِمْ اِلَّا كَانُوْا عَنْهَا مُعْرِضِيْنَ ٤

Dan setiap ayat dari ayat-ayat Tuhan yang sampai kepada mereka (orang kafir), semuanya selalu diingkarinya. (al-An‘ām/6: 4)

Sikap mereka yang demikian menimbulkan sifat sombong dan takabur pada diri mereka, sebagaimana firman Allah swt:

وَقَالَ الَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ لِقَاۤءَنَا لَوْلَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا الْمَلٰۤىِٕكَة ُ اَوْ نَرٰى رَبَّنَا ۗ لَقَدِ اسْتَكْبَرُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ وَعَتَوْ عُتُوًّا كَبِيْرًا ٢١

Dan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (di akhirat) berkata, ”Mengapa bukan para malaikat yang diturunkan kepada kita atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sungguh, mereka telah menyombongkan diri mereka dan benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan kezaliman). (al-Furqān/25: 21)

Isi Kandungan Kosakata

Lamajnūn لَمَجْنُوْنٌ (al-Ḥijr/15: 6)

Terambil dari kata janna, yaitu menutup sesuatu sehingga tidak terpantau, tidak diketahui lagi. Dari kata itu terambil kata jinn yaitu makhluk yang tertutup bagi manusia sehingga manusia tidak merasakan atau mengetahuinya. Majnūn adalah orang yang tertutup akalnya sehingga tidak merasakan dan menyadari perbuatannya. Hal itu bisa juga disebabkan oleh jin. Terjemahannya adalah “gila”.

Dalam Al-Qur’an, kata itu terulang sebelas kali, dan yang dimaksudkan adalah para nabi. Mereka, sebagaimana diinformasikan dalam Surah aż-Żāriyāt/51: 52, bila tidak dituduh tukang sihir, dituduh gila oleh umatnya. Nabi Muhammad sering dituduh demikian oleh kafir Quraisy, sekaligus dituduh sebagai seorang yang pernah diajar orang lain (ad-Dukhān/44: 14) dan seorang dukun (aṭ-Ṭūr/52: 29). Padahal Nabi Muhammad itu sudah terbukti manusia agung. Dia tidak pernah memperoleh pengajaran dari orang lain, atau memperolehnya dari membaca, karena beliau buta huruf. Beliau memperoleh semuanya dari wahyu Allah.

Dalam Surah aż-Żāriyāt/51: 39, Fir‘aun menuduh Nabi Musa tukang sihir atau gila, padahal terbukti kemudian bahwa beliau adalah pemimpin dan nabi. Nabi Nuh juga mendapat perlakuan demikian, bahkan kemudian beliau dibentak dan diancam agar tidak melakukan dakwah lagi (al-Qamar/54: 9). Adapun lamajnūn, la yang ditambahkan pada awal kata itu bermakna “sungguh-sungguh”. Yang dimaksud sungguh-sungguh gila oleh orang-orang kafir Quraisy adalah Nabi Muhammad (al-Ḥijr/15: 6) dan Nabi Musa oleh Fir‘aun (asy-Syu’arā’/26: 27).

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto