اِلَّا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَۗ اِنَّ فَضْلَهٗ كَانَ عَلَيْكَ كَبِيْرًا
Illā raḥmatam mir rabbik(a), inna faḍalahū kāna ‘alaika kabīrā(n).
Akan tetapi, (Kami tetap mengabadikan Al-Qur’an) karena rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya karunia-Nya atasmu (Nabi Muhammad) sangat besar.
Kecuali karena rahmat dari Tuhanmu yang dicurahkan kepadamu dan semua makhluk-Nya. Sungguh, karunia-Nya atasmu, wahai Nabi Muhammad, yang Aku cintai dan Aku pilih sebagai utusan-Ku, sangat besar.
Akan tetapi, Allah tidak bermaksud menghapus Al-Qur’an dari hati Nabi dan mushaf-mushaf, karena rahmat-Nya yang besar yang dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya. Al-Qur’an adalah nikmat yang paling besar yang diberikan Allah kepada manusia. Dia menetapkan Al-Qur’an dalam hati manusia serta menjaganya dari campur tangan mereka.
Menurut ar-Rāzī, ada dua macam nikmat besar yang diberikan Allah kepada ulama: pertama, memudahkan mereka memperoleh ilmu, dan kedua, tetapnya ilmu dalam pikiran dan ingatan mereka. Dengan kedua macam nikmat itu, maka manusia mudah mencerna kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dan kemudian melaksanakan yang diperintahkan-Nya dan menghentikan yang dilarang-Nya. Dengan demikian, terjagalah mereka dari kehancuran di dunia dan azab neraka di akhirat.
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa keutamaan yang diberikan-Nya kepada Nabi Muhammad sangat besar sehingga Allah tidak menginginkan terhapusnya wahyu yang telah diturunkan kepadanya. Wahyu ini merupakan nikmat Allah yang terbesar kepada Rasulullah dan orang-orang beriman karena berisi hidayah dan penyembuh dari berbagai penyakit.
Ṣarrafnā صَرَّفْنَا (al-Isrā’/17: 89)
Ṣarrafnā adalah fi’il māḍī dengan fā’il naḥnu (kita) dari fi’il: ṣarrafa-yuṣarrifu-taṣr īfan yang berarti menyerahkan, mengalirkan, memindahkan, dan mengedarkan. Pada ayat 89 Surah al-Isrā’ ini ungkapan: laqad ṣarrafnā berarti sungguh Kami telah menjelaskan berulang-ulang, maksudnya Allah telah seringkali menerangkan kepada manusia dengan berbagai perumpama-an di dalam Al-Qur’an, sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak mengerti dan tidak menerima kebenarannya kecuali karena tidak dapat memperoleh hidayah dari Allah. Al-Qur’an merupakan firman dan petunjuk Allah kepada semua manusia yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui Malaikat Jibril. Telah jelas tidak seorang pun dapat meniru atau membuat seperti Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah mukjizat abadi Nabi Muhammad saw sebagai nabi terakhir, dan tidak ada nabi lagi setelah beliau. Berbagai kisah nabi-nabi terdahulu juga diterangkan dalam Al-Qur’an secara berulang-ulang, juga beberapa kisah umat terdahulu baik yang tunduk mengikuti nabi mereka, maupun yang mengingkari dan menolaknya serta akibat selanjutnya.














































