Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 1 - Surat Al-Mumtaḥanah (Wanita Yang Diuji)
الممتحنة
Ayat 1 / 13 •  Surat 60 / 114 •  Halaman 549 •  Quarter Hizb 55.5 •  Juz 28 •  Manzil 7 • Madaniyah

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا عَدُوِّيْ وَعَدُوَّكُمْ اَوْلِيَاۤءَ تُلْقُوْنَ اِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوْا بِمَا جَاۤءَكُمْ مِّنَ الْحَقِّۚ يُخْرِجُوْنَ الرَّسُوْلَ وَاِيَّاكُمْ اَنْ تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ رَبِّكُمْۗ اِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِيْ سَبِيْلِيْ وَابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِيْ تُسِرُّوْنَ اِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَاَنَا۠ اَعْلَمُ بِمَآ اَخْفَيْتُمْ وَمَآ اَعْلَنْتُمْۗ وَمَنْ يَّفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ

Yā ayyuhal-lażīna āmanū lā tattakhiżū ‘aduwwī wa ‘aduwwakum auliyā'a tulqūna ilaihim bil-mawaddati wa qad kafarū bimā jā'akum minal-ḥaqq(i), yukhrijūnar-rasūla wa iyyākum an tu'minū billāhi rabbikum, in kuntum kharajtum jihādan fī sabīlī wabtigā'a marḍātī tusirrūna ilaihim bil-mawaddah(ti), wa ana a‘lamu bimā akhfaitum wa mā a‘lantum, wa may yaf‘alhu minkum faqad ḍalla sawā'as-sabīl(i).

Wahai orang-orang yang beriman. Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman setia. Kamu sampaikan kepada mereka (hal-hal yang seharusnya dirahasiakan) karena rasa kasih sayang (kamu kepada mereka). Padahal, mereka telah mengingkari kebenaran yang datang kepadamu. Mereka mengusir Rasul dan kamu (dari Makkah) karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku, (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (hal-hal yang seharusnya dirahasiakan) kepada mereka karena rasa kasih sayang. Aku lebih tahu tentang apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Siapa di antara kamu yang melakukannya sungguh telah tersesat dari jalan yang lurus.

Makna Surat Al-Mumtahanah Ayat 1
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Wahai orang-orang yang beriman di mana pun dan kapan pun kamu hidup! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku, yaitu mereka yang menolak ajaran-Ku, dan musuhmu yang membenci, menganiaya, berencana membunuh dan mengusir kamu dari tanah kelahiran kamu hanya karena kamu beriman kepada-Ku sebagai teman setia sehingga kamu merasa perlu menyampaikan kepada mereka informasi tentang Nabi Muhammad yang membahayakan Islam dan kaum muslim, karena kasih sayang kamu kepada mereka, padahal mereka telah ingkar kepada kebenaran, menolak beriman kepada Al-Qur’an yang disampaikan kepada kamu melalui Rasulullah. Mereka mengusir Rasul dan kamu sendiri, ketika kamu bersama Rasulullah berada di Mekah sebelum hijrah ke Madinah, tanpa ada alasan apa pun hanya karena kamu beriman kepada Allah, Tuhan kamu, yang memelihara kamu dan seluruh jagat raya. Janganlah kamu berbuat demikan, bersahabat dengan orang-orang kafir dan membocorkan rahasia kepada mereka, jika kamu benar-benar keluar dari kota kelahiran kamu, Mekah dan berhijrah ke Madinah bersama Rasul untuk berjihad pada jalan-Ku guna mengharumkan Islam dan kaum muslim. Kamu benar-benar pengkhianat, karena kamu memberitahukan secara rahasia informasi-informasi tentang Nabi Muhammad kepada mereka, yang membahayakan Islam dan kaum muslim serta keamanan Negara Madinah, karena kecintaan kamu kepada mereka, dan Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dari Rasul dan kaum muslim dan apa yang kamu nyatakan secara terbuka di hadapan publik. Dan barang siapa di antara kamu, wahai orang-orang beriman, melakukannya, membocorkan rahasia kepada orang-orang kafir, maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus hingga bertobat dan kembali setia kepada ajaran Islam.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini memperingatkan kaum Muslimin agar tidak mengadakan hubungan kasih sayang dengan kaum musyrik yang menjadi musuh Allah dan kaum Muslimin. Sebab, dengan adanya hubungan yang demikian itu, tanpa disadari mereka telah membukakan rahasia-rahasia kaum Muslimin, menyampaikan sesuatu yang akan dilaksanakan Rasulullah saw kepada mereka dalam usaha menegakkan kalimat Allah. Oleh karena itu, kaum Muslimin dilarang melakukan yang demikian sekalipun kepada kaum kerabatnya.

Menjadikan orang-orang kafir yang memusuhi kaum Muslimin sebagai teman setia dan penolong adalah suatu hal yang dilarang. Hal ini tidak boleh dilakukan selama orang-orang kafir itu ingin menghancurkan agama Islam dan kaum Muslimin.

Allah kemudian menjelaskan penyebab larangan menjadikan orang-orang kafir sebagai teman setia, yaitu:

1. Mereka menyangkal dan tidak membenarkan semua yang dibawa Rasulullah. Mereka ingkar kepada Allah, Rasul-Nya, dan Al-Qur’an. Mungkinkah orang yang seperti itu dijadikan penolong-penolong dan teman setia? Kemudian disampaikan kepada mereka rahasia-rahasia yang bermanfaat bagi mereka dan menimbulkan bahaya bagi kaum Muslimin?

2. Mereka telah mengusir Rasulullah saw dan orang-orang Muhajirin dari kampung halaman mereka karena beriman kepada Allah, bukan karena sebab yang lain.

Ayat ini sama maksudnya dengan firman Allah:

وَمَا نَقَمُوْا مِنْهُمْ اِلَّآ اَنْ يُّؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِۙ ٨

Dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu hanya karena (orang-orang mukmin itu) beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji. (al-Burūj/85: 8)

Dan firman Allah:

الَّذِيْنَ اُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ اِلَّآ اَنْ يَّقُوْلُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ۗوَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَّصَلَوٰتٌ وَّمَسٰجِدُ يُذْكَرُ فِيْهَا اسْمُ اللّٰهِ كَثِيْرًاۗ وَلَيَنْصُرَنّ َ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِيٌّ عَزِيْزٌ ٤٠

(Yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa. (al-Ḥajj/22: 40)

Allah memperingatkan kaum Muslimin bahwa jika mereka keluar dari kampung halaman atau terusir karena berjihad di jalan Allah dan mencari keridaan-Nya, maka janganlah sekali-kali menjadikan orang-orang kafir itu sebagai teman setia dan penolong-penolong mereka. Cukuplah kaum Muslimin menderita akibat tindakan-tindakan mereka, dan jangan sekali-kali memberi kesempatan kepada mereka menambah penderitaan kaum Muslimin. Bagaimana mungkin ada di antara kaum Muslimin melakukan seperti yang dilakukan Ḥāṭib yang menyampaikan kepada orang-orang kafir langkah-langkah yang akan diambil Rasulullah dalam menghadapi orang-orang kafir?

Allah Mahatahu segala yang dilakukan hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, Dia menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah, sehingga beliau segera dapat mengambil tindakan. Dengan demikian, kaum Muslimin tidak dirugikan.

Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa barang siapa yang berkasih-kasihan dengan musuh Islam dan menjadikan mereka penolong-penolong, berarti ia telah menyimpang dari jalan yang lurus.

Isi Kandungan Kosakata

1. Marḍātī مَرْضَاتِى (al-Mumtaḥanah/60: 1)

Kata marḍātī adalah isim maṣdar yang berasal dari kata raḍiya-yarḍā yang berarti merasa rela, senang, puas, dan setuju. Raḍiyallāhu ‘anhu artinya semoga Allah meridainya dengan memberikan rahmat padanya. Raḍiya juga berarti memandang baik dan membenarkan sesuatu. Kata ini sudah menjadi bahasa Indonesia yaitu rida. Antonimnya adalah as-sakhaṭ yang berarti benci atau kemurkaan. Rida dari seorang hamba kepada Allah adalah dengan mendapatkan kepuasan terhadap ketentuan yang telah ditetapkan-Nya, sedangkan rida Allah kepada hamba-Nya adalah hamba tersebut menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Allah akan rida jika melihat hamba-Nya taat dan patuh pada-Nya. Raḍiyallāhu ‘anhum wa raḍū ‘anhu (al-Mā’idah/5: 119) artinya Allah merasa rida dengan perbuatan-perbuatan mereka dan mereka pun merasa puas terhadap nikmat yang telah dicurahkan Allah kepada mereka.

Ayat ini menjelaskan larangan agar orang-orang beriman tidak menjadikan musuhnya dan musuh Allah sebagai teman akrab hanya karena rasa kasih dan sayang mereka terhadap saudara-saudaranya. Ayat ini diturunkan berkaitan dengan seorang sahabat di Medinah yang menulis surat kepada saudaranya yang kafir untuk memberitahukan perihal akan datangnya Rasulullah ke Mekah. Allah mengingatkan bahwa walaupun dalam hati seorang Mukmin ada rasa sayang terhadap saudaranya yang kafir, tetapi hal tersebut tidak menjadikannya sebagai teman setia (auliyā’). Karena orang-orang kafir sebenarnya telah berbuat ingkar kepada kebenaran yang dibawa Muhammad dengan mengusirnya beserta orang-orang beriman. Janganlah hal tersebut (menjadikan teman setia) dilakukan, jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Nya dan mencari keridaan-Nya.

2. Yaṡqafūkum يَثْقَفُوْكُمْ (al-Mumtaḥanah/60: 2)

Lafal Yaṡqafūkum adalah bentuk fi‘il muḍāri‘ (kata kerja yang menunjukkan masa kini dan masa mendatang) yang dihubungkan dengan kata ganti orang kedua (kum) yang berasal dari kata ṡaqifa-yaṡqafu yang berarti pintar dalam menangkap dan mengerjakan sesuatu. Rajul ṡaqif artinya seseorang yang pandai memahami sesuatu. Ṡaqiftu każā artinya aku mendapatkannya setelah merenungi. Ṡaqāfah artinya kebudayaan yang menunjukkan kepada kepintaran suatu kaum. Tetapi kemudian lafal ini digunakan pada idrāk (penemuan) walaupun tidak ada padanya kemahiran tersebut. Ṡaqafa disini berarti menangkap dan menemukannya. Waqtulūhum haiṡu ṡaqiftumūhum (dan bunuhlah mereka dimanapun kalian menemukannya). Aṡ-Ṡaqāf berarti besi atau kayu yang dibuat kampak atau tombak sebagai alat berperang.

Dalam ayat ini Allah menjelaskan tentang alasan jangan menjadikan orang-orang kafir sebagai teman setia yaitu bahwa perlakuan mereka tidak akan sama dengan perlakuan orang-orang beriman kepada mereka. Jika orang-orang kafir menangkap orang Mukmin, pasti mereka akan menjadikanmu sebagai musuh dan menyakitimu sampai kamu kembali ke dalam agama mereka.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto