سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ اَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ اَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْۗ لَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ
Sawā'un ‘alaihim astagfarta lahum am lam tastagfir lahum, lay yagfirallāhu lahum, innallāha lā yahdil-qaumal-fāsiqīn(a).
Sama saja bagi mereka apakah engkau (Nabi Muhammad) memohonkan ampunan untuk mereka atau tidak, Allah tidak akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum fasik.
Allah mengingatkan Nabi bahwa sama saja bagi mereka, orang munafik yang tetap dalam kemunafikannya hingga mati, apakah engkau wahai Nabi Muhammad memohonkan ampunan untuk mereka, atau engkau tidak memohonkan ampunan bagi mereka, Allah tetap saja tidak akan mengampuni mereka yang mati dalam keadaan munafik; sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik, yaitu orang-orang yang terus menerus berbuat dosa hingga pikiran dan mereka tertutup dari cahaya Allah.
Allah menerangkan bahwa bagi orang-orang munafik, dimintakan ampunan atau tidak, sama saja. Allah tidak akan mengampuni mereka. Dia telah menetapkan mereka termasuk orang-orang yang celaka karena perbuatan mereka yang bergelimang dosa dan menunjukkan dengan jelas kemunafikan serta keingkaran di dalam hati mereka yang disembunyikan. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang fasik yang kerjanya hanya berbuat jahat, tidak memperhatikan nasihat-nasihat yang baik, dan tidak akan menyadari peringatan yang diberikan kepadanya. Perkataannya penuh kebohongan dan keingkaran yang keterlaluan, sebagaimana Allah berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّارٌ
Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar. (az-Zumar/39: 3)
Firman Allah:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ
Sesungguhn ya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas dan pendusta. (Gāfir/40: 28)
Dan firman Allah:
اِسْتَغْفِ رْ لَهُمْ اَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْۗ اِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً فَلَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَهُمْ ۗذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ ࣖ ٨٠
(Sama saja) engkau (Muhammad) memohonkan ampunan bagi mereka atau tidak memohonkan ampunan bagi mereka. Walaupun engkau memohonkan ampunan bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu karena mereka ingkar (kafir) kepada Allah dan rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (at-Taubah/9: 80)
1. Lawwaw Ru’ūsahum لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ (al-Munāfiqūn/63: 5)
Lawwaw ru’ūsahum terdiri dari dua kata, yaitu lawwaw dan ru'ūsahum. Yang pertama, lawwaw, merupakan kata kerja untuk orang ketiga dalam jumlah banyak (mereka). Sedang bentuk tunggalnya adalah lawā, yang artinya mengalihkan atau memalingkan wajah dari mitra bicara. Sebagian ulama membaca kata ini dengan lawaw, tanpa memberi syiddah pada huruf wāw, tetapi mayoritas qurrā’ (ahli bacaan Al-Qur’an) membacanya dengan syiddah, yaitu lawwaw. Bacaan seperti ini mengandung arti bahwa pengalihan wajah atau arah ketika berbicara itu terjadi berulang-ulang. Yang kedua, ru’ūsahum dari kata ru’ūs, yang merupakan bentuk jamak dari ra’s, yang artinya kepala. Dengan demikian istilah yang terdapat pada ayat ini diartikan bahwa orang-orang munafik itu akan berupaya untuk memalingkan wajah atau mengalihkannya ketika diajak bicara. Perilaku demikian menunjukkan bahwa mereka menolak ajakan Rasulullah saw.
2. Yanfaḍḍū يَنْفَضُّوْا (al-Munāfiqūn/63: 7)
Yanfaḍḍū aslinya yanfaḍḍūna, merupakan kata kerja untuk orang ketiga jamak, yang bentuk tunggalnya adalah yanfaḍḍu, artinya adalah mereka berpencar. Pada ayat ini kata tersebut diartikan sebagai keterpencaran yang bernuansa keburukan, yaitu berpencar atau berpisah dalam keadaan menderita, karena kemiskinan dan penderitaan yang mereka alami. Inilah yang diinginkan orang-orang munafik terhadap para sahabat yang taat dan loyal kepada Rasulullah saw. Ketaatan mereka telah mengusik kaum munafik, sehingga bantuan tidak akan diberikan agar mereka tetap menderita.

















































