يَوْمَ يَقُوْمُ الرُّوْحُ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ صَفًّاۙ لَّا يَتَكَلَّمُوْنَ اِلَّا مَنْ اَذِنَ لَهُ الرَّحْمٰنُ وَقَالَ صَوَابًا
Yauma yaqūmur-rūḥu wal-malā'ikatu ṣaffā(n), lā yatakallamūna illā man ażina lahur-raḥmānu wa qāla ṣawābā(n).
Pada hari ketika Rūḥ743) dan malaikat berdiri bersaf-saf. Mereka tidak berbicara, kecuali yang diizinkan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan dia mengatakan yang benar.
Tidak ada yang mampu berbicara langsung dengan Allah pada hari ketika ruh, yaitu Jibril, dan para malaikat lain yang berdiri bersaf-saf secara teratur dengan penuh tunduk dan khusyuk. Mereka, baik Jibril atau lainnya, tidak berani berkata-kata karena khidmatnya situasi saat itu, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berkata kepada-Nya, dan dia hanya mengatakan sesuatu yang benar dan diridai Allah.
Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa pada hari Kiamat itu Malaikat Jibril dan para malaikat lainnya berdiri bersaf-saf menunggu perintah Allah. Mereka tidak berkata apa pun kecuali setelah diberi izin oleh Allah Yang Maha Pemurah. Kata-kata yang mereka ucapkan pun ketika itu hanya kata-kata yang benar.
1. Ṡawāban صَوَابًا (an-Naba’/78: 38)
Ṡawāb artinya benar, baik pelakunya maupun sasarannya. Ini berarti bahwa para malaikat, yang diizinkan berbicara di depan Allah untuk memintakan syafaat bagi manusia, tidak meminta tanpa izin Allah dan yang diminta tidak sesuatu yang mustahil dikabulkan-Nya.
2. Turāban تُرَابًا (an-Naba’/78: 40)
Turāban artinya tanah. Kata kerjanya tariba artinya “amat miskin” sehingga seakan-akan terhempas ke tanah. Dari kata itu terdapat dalam Al-Qur′an kata matrabah artinya keterhempasan ke tanah karena sangat miskinnya. Ungkapan atraba artinya merasa cukup, karena dia mempunyai harta benda sebanyak butir-butir tanah di bumi.
















































