وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Wa in ta‘uddū ni‘matallāhi lā tuḥṣūhā, innallāha lagafūrur raḥīm(un).
Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Begitu banyak nikmat dan karunia yang Allah anugerahkan kepada kalian, baik di langit, darat, air, maupun dalam diri manusia; semua demi kemaslahatan dan kebaikan manusia. Dan jika kamu, wahai manusia, berkumpul dan bersama-sama memakai alat-alat tercanggih sekalipun untuk menghitung nikmat Allah kepada kalian, niscaya kamu sam-pai kapan pun tidak akan mampu menghitung jumlah-nya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun atas kesalahan-kesalahanmu, Maha Penyayang kepadamu sehingga Dia tidak memutus nikmat-Nya kepadamu meski kamu mendurhakai dan mengingkari-Nya.
Allah lalu menegaskan bahwa apabila manusia mau menghitung nikmat-Nya, tentu mereka tak akan dapat menentukan jumlahnya karena pikiran manusia itu sangat terbatas, sedangkan nikmat Allah begitu luas. Oleh sebab itu, kewajiban manusia hanyalah mensyukuri nikmat-nikmat itu dan memanfaatkannya untuk memenuhi keperluan hidupnya dan berkhidmat kepada masyarakat sesuai dengan tuntunan dan keridaan Allah.
Di akhir ayat ditegaskan bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Pengampunan disebut dalam ayat ini karena kebanyakan manusia mensyukuri sebagian kecil dari nikmat yang mereka terima, sedangkan nikmat-nikmat yang sangat luas mereka lupakan begitu saja. Penyebutan kata-kata Maha Penyayang menunjukkan bahwa Allah tidak akan memberikan hukuman kepada mereka dengan segera karena keingkaran mereka terhadap nikmat Allah yang Mahaluas itu.
Yub‘aṡūn يُبْعَثُوْنَ (an-Naḥl/16: 18)
Masdarnya al-ba‘ṡ artinya mengirim dari satu tempat ke tempat lain, membangkitkan, menggerakkan untuk berjalan, dan sebagainya. Al-ba‘ṡ menurut Ragīb al-Asfaḥāni dibagi menjadi dua, satu bersifat kemanusiaan seperti kata ba‘aṡal-insān fī ḥājah, artinya seseorang berjalan memenuhi kebutuhannya. Kedua, bersifat ketuhanan yang juga terbagi dua:
a. menciptakan makhluk yang belum pernah ada
b. menghidupkan orang yang sudah mati
Dalam istilah Al-Qur’an penggunaan arti al-ba‘ṡ yang banyak dipakai adalah menghidupkan manusia sesudah mati untuk dihisab. Sehingga yaumul- ba‘ṡ dinamakan pula yaumul-ḥasyr, artinya hari kebangkitan, yaitu hari pengumpulan manusia sesudah dibangkitkan (dihidupkan) untuk diper-hitungkan amal baik-buruknya.






































