وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّوْنَ وَمَا تُعْلِنُوْنَ
Wallāhu ya‘lamu mā tusirrūna wa mā tu‘linūn(a).
Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu tampakkan.
Dan tidak saja Mahakuasa dan Maha Pencipta, ketahuilah wahai manusia bahwa Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan sembunyikan dalam hatimu, dan Dia mengetahui pula apa yang kamu lahirkan dan nyatakan dalam bentuk ucapan dan tindakan. Tidak satu hal pun yang dapat kamu sembunyikan dari Allah.
Allah swt menjelaskan bahwa Dia Maha Mengetahui segala apa yang dirahasiakan manusia. Maksudnya, Allah mengetahui apa yang ada dalam hati manusia, yang berbeda dengan apa yang mereka ucapkan dan kerjakan.
Meskipun manusia merahasiakan dalam hati mereka apa yang sebenarnya terjadi dan tidak seorang pun yang dapat mengetahuinya, nanti di hari kiamat rahasia itu akan dibukakan Allah bagi siapa saja. Allah akan memberikan pahala kepada orang yang melakukan kebajikan sesuai dengan kebajikannya, dan menghukum orang-orang yang melakukan kejahatan sesuai dengan kejahatannya. Allah sendiri yang akan menanyakan kepada mereka apakah mereka mensyukuri atau bahkan mengingkari nikmat yang telah diberikan-Nya kepada mereka.
Yub‘aṡūn يُبْعَثُوْنَ (an-Naḥl/16: 18)
Masdarnya al-ba‘ṡ artinya mengirim dari satu tempat ke tempat lain, membangkitkan, menggerakkan untuk berjalan, dan sebagainya. Al-ba‘ṡ menurut Ragīb al-Asfaḥāni dibagi menjadi dua, satu bersifat kemanusiaan seperti kata ba‘aṡal-insān fī ḥājah, artinya seseorang berjalan memenuhi kebutuhannya. Kedua, bersifat ketuhanan yang juga terbagi dua:
a. menciptakan makhluk yang belum pernah ada
b. menghidupkan orang yang sudah mati
Dalam istilah Al-Qur’an penggunaan arti al-ba‘ṡ yang banyak dipakai adalah menghidupkan manusia sesudah mati untuk dihisab. Sehingga yaumul- ba‘ṡ dinamakan pula yaumul-ḥasyr, artinya hari kebangkitan, yaitu hari pengumpulan manusia sesudah dibangkitkan (dihidupkan) untuk diper-hitungkan amal baik-buruknya.















































