ثُمَّ اَدْبَرَ يَسْعٰىۖ
Ṡumma adbara yas‘ā.
Kemudian, dia berpaling seraya berusaha (menantang Musa).
Kemudian dia berpaling dari kebenaran seraya berusaha menantang Nabi Musa untuk bertanding melawan para pesihir yang didatangkannya dari seluruh pelosok Mesir.
Kemudian Allah menerangkan bahwa Fir‘aun tetap membangkang dan tidak mau mengikuti ajakan Nabi Musa sehingga Musa terpaksa memperlihatkan mukjizat-mukjizatnya. Lalu Musa memperlihatkan kepada Fir‘aun mukjizat yang besar yaitu tongkat menjadi ular dan telapak tangan yang bersinar terang. Meskipun begitu, Fir‘aun masih mengingkari kenabian Musa dan tetap bersikap durhaka dan menentang Allah. Kemudian Fir‘aun berpaling dan berusaha untuk mengadakan perlawanan kepada Musa.
Nakāl نَكَالَ (an-Nāzi‘āt/79: 25)
Nakāl artinya siksaan. Terambil dari kata kerja nakala yang artinya ‘lemah’. Nakāl berarti “siksaan” karena siksaan itu membuat orang lemah tak berdaya. Dalam Al-Qur’an juga terdapat kata ankāl, bentuk jamak dari nakl, yang secara harfiah berarti “kekang” atau “tambatan” hewan, karena keduanya membuat hewan itu harus patuh dan tentu saja tersiksa. Dalam Surah al-Muzzammil/73: 12 disebutkan bahwa Allah memiliki alat-alat untuk menyiksa dan neraka bagi orang kafir: inna ladainā ankālan wa jaḥīman (sungguh, di sisi Kami ada belenggu-belenggu (yang berat) dan neraka yang menyala-nyala). Juga terdapat kata tankīl yang merupakan maṣdar dari nakkala (menyiksa).












































