Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 134 - Surat An-Nisā' (Perempuan)
النّساۤء
Ayat 134 / 176 •  Surat 4 / 114 •  Halaman 99 •  Quarter Hizb 10.5 •  Juz 5 •  Manzil 1 • Madaniyah

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ ثَوَابَ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللّٰهِ ثَوَابُ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا ࣖ

Man kāna yurīdu ṡawābad-dun-yā fa ‘indallāhi ṡawābud-dun-yā wal-ākhirah(ti), wa kānallāhu samī‘am baṣīrā(n).

Siapa yang menghendaki pahala dunia, maka di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Makna Surat An-Nisa' Ayat 134
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Barang siapa di antara kalian, wahai manusia, menghendaki pahala di dunia ini sebagai ganjaran atas perbuatan baik dan amal saleh yang telah ia lakukan, maka ketahuilah bahwa di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat, yang lebih baik dan lebih tinggi nilainya daripada apa yang ia dapatkan di dunia ini. Lalu mengapa ia meminta yang lebih rendah, tidak meminta yang lebih tinggi nilainya? Dan hendaklah hamba-Nya memohon kepada-Nya kebaikan dunia dan akhirat karena Allah Maha Mendengar apa yang diucapkan dan didoakan hamba-hamba-Nya, Maha Melihat apa yang diperbuat mereka.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini memberi peringatan kepada orang yang melupakan tujuan hidup yang sebenarnya, agar menyadari bahwa tujuan hidup mencari kebahagian dunia saja adalah tujuan yang tidak benar dan hasil yang akan diperolehnya adalah rendah sekali, karena hidup di dunia tidak akan kekal. Orang serupa ini adalah orang munafik yang apabila berjumpa dengan orang yang beriman, ia berpura-pura mengaku beriman, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Pahala yang diterima dari Allah adalah lebih tinggi, karena meliputi pahala dunia dan pahala akhirat. Karena itu seharusnyalah Muslimin berjuang untuk mencapai kedua pahala itu secara seimbang, tidak hanya tertarik pada kepentingan dunia saja, yang sifatnya sementara. Berusaha untuk memperoleh pahala dunia dan pahala akhirat, sebenarnya adalah tujuan yang mudah dilakukan, bukan tujuan yang berada diluar kesanggupan manusia; dan tujuan ini tergambar dalam firman Allah yang menjadi doa orang yang beriman.

وَمِنْهُم ْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ ٢٠١

”... Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (al-Baqarah/2:201).

Agama Islam menuntun pemeluk-pemeluknya untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, kedua-duanya merupakan limpahan rahmat dan karunia Allah yang harus dicapai.

Allah Maha Mendengar akan bisikan hati hamba-hamba-Nya dan Maha Mengetahui segala urusan mereka. Oleh sebab itu seharusnyalah kaum Muslimin berusaha mendekatkan diri kepada Allah, baik dengan lisan atau dengan perbuatan. Dengan demikian mereka akan mempunyai jiwa yang bersih dan dapat membatasi diri dalam setiap usahanya dan perjuangannya agar mencapai keridaan Allah dan hidup berbahagia dunia dan akhirat.

Isi Kandungan Kosakata

as-Samāwātاَلسَّمٰ وَاتْ (an-Nisā’/4: 131)

As-Samāwāt yaitu kata bentuk jamak dari as-samā’ yang artinya sesuatu yang di atas, namun bisa diartikan dengan langit. Al-Qur’an menggunakan kata samāwāt dalam bentuk jamak dan sering juga menggunakan kata samā’ dalam bentuk mufrad. Namun kata arḍ tidak ada yang dalam bentuk jamak. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa jumlah langit maupun bumi adalah tujuh (aṭ-Ṭalāq/65:12). Namun ulama berbeda pendapat dalam menguraikan 7 langit dan 7 bumi. Lingkungan hidup manusia ialah benda-benda langit dan benda-benda bumi. Pada ayat 131 ini Allah menegaskan bahwa apa yang ada di langit dan yang ada di bumi adalah kepunyaan Allah. Bahkan nyawa dan anggota tubuh kita adalah juga kepunyaan Allah dan berlaku hukum Allah yaitu setiap saat dapat diambil kembali oleh Allah. Jadi apa yang kita katakan; ini rumahku, ini tanahku, ini mobilku, ini istriku dan ini anakku, adalah hanya ungkapan kebiasaan manusia, pada hakikatnya adalah kepunyaan Allah. Benda-benda dan orang-orang tersebut adalah amanat dari Allah untuk kita pelihara dan dimanfaatkan serta dididik secara baik-baik sesuai dengan ketentuan dan hukum agama Islam. Dalam ayat 131 ini diberi petunjuk bahwa sebagaimana telah diperintahkan kepada Ahli Kitab, kepada kita orang-orang mukmin pun diperintahkan untuk memelihara benda-benda dan orang-orang yang telah diamanatkan kepada kita, kita harus bertakwa, menjaga diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan penderitaan kita atau orang lain, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto