Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 51 - Surat An-Nūr (Cahaya)
النّور
Ayat 51 / 64 •  Surat 24 / 114 •  Halaman 356 •  Quarter Hizb 36.25 •  Juz 18 •  Manzil 4 • Madaniyah

اِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذَا دُعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَّقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Innamā kāna qaulal-mu'minīna iżā du‘ū ilallāhi wa rasūlihī liyaḥkuma bainahum ay yaqūlū sami‘nā wa aṭa‘nā, wa ulā'ika humul-mufliḥūn(a).

Sesungguhnya yang merupakan ucapan orang-orang mukmin, apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar ia memutuskan (perkara) di antara mereka,522) hanyalah, “Kami mendengar dan kami taat.” Mereka itulah orang-orang beruntung.

Makna Surat An-Nur Ayat 51
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Lain halnya dengan penolakan kaum munafik saat diajak berhukum kepada Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya ucapan orang-orang mukmin yang beriman dengan mantap apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nyaagar Rasul memutuskan perkara di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat pada keputusan apa pun yang ditetapkan oleh Rasul.” Mereka itulah orang-orang mukmin sejati, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Orang-orang yang benar-benar beriman apabila diajak bertahkim kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka tunduk dan patuh menerima putusan, baik putusan itu menguntungkan atau merugikan mereka. Mereka yakin dengan sepenuh hati tidak merasa ragu sedikit pun bahwa putusan itulah yang benar, karena putusan itu adalah putusan Allah dan Rasul-Nya. Tentu putusan siapa lagi yang patut diterima dan dipercayai kebenaran dan keadilannya selain putusan Allah dan Rasul-Nya? Demikianlah sifat-sifat orang-orang yang beriman benar-benar percaya kepada Allah dan Rasul-Nya dan yakin sepenuhnya bahwa Allah Yang Mahabenar dan Mahaadil.

Isi Kandungan Kosakata

1. Mu’riḍūn مُعْرِضُوْنَ (an-Nūr/24:48)

Lafal mu’riḍūn merupakan bentuk jamak dari lafal mu’riḍ, terambil dari kata ‘araḍa yang merupakan antonim dari lafal ṭūl (panjang) yang berarti lebar. Awalnya lafal ini digunakan pada jism kemudian dijadikan ungkapan untuk selain jism. ‘Araḍa memiliki makna yang banyak, di antaranya adalah mengemukakan, memamerkan atau mendemonstrasikan, seperti firman Allah QS 2:31 “ṡumma ‘araḍahum ‘ala al-malāikah” (kemudian Adam mengemukakan kepada para malaikat). ‘Araḍa juga diartikan dengan barang-barang kenikmatan duniawi yang bersifat fana (al-Anfāl/8:67). ‘Araḍa juga diartikan dengan awan seperti yang disebutkan dalam al-Aḥqāf/46:24. Al-’Urḍah adalah penghalang (al-Baqarah/2:224). Ba’īr ‘urḍah berarti unta itu menjadi penghalang dalam perjalanan. A’raḍa juga berarti berpaling, menghindar, menolak atau membuang. Dalam ayat ini, dijelaskan mengenai sifat orang-orang munafik dalam bertahkim kepada Rasul. Sikap mereka adalah tatkala mereka dipanggil untuk datang agar Rasul mengadili di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang bahkan mereka lebih senang bertahkim kepada selain Allah dan Rasul-Nya.

2. Muẓ’inūn مُذْعِنِيْنَ (an-Nūr/24: 49)

Secara etimologis, muẓ’inūn berarti patuh. Dalam konteks ayat di atas, Allah menjelaskan sikap orang-orang munafik yang menolak kebenaran dakwah Rasulullah. Kendati mereka mengaku beriman, mereka tetap saja berpaling dari putusan Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kebenaran ada di pihak mereka, mereka akan datang kepada Rasulullah dengan patuh.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto