وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا فِيْهِمْ مُّنْذِرِيْنَ
Wa laqad arsalnā fīhim munżirīn(a).
Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus (rasul) pemberi peringatan di kalangan mereka.
dan sungguh, Kami telah mengutus para rasul pemberi peringatan di kalangan mereka tentang ancaman murka dan siksa Allah, namun mereka mendustakannya.
Lalu Allah mengutus kepada umat-umat dahulu itu nabi-nabi dan rasul-rasul untuk menegakkan agama tauhid, menjalankan amar ma‘ruf nahi munkar. Nabi-nabi itu merupakan pemberi peringatan yang berjuang untuk meluruskan jalan hidup manusia yang menyimpang dari fitrah kejadiannya. Mereka menunjukkan kepada kaumnya jalan yang hak dan yang batil, jalan yang baik dan yang buruk, serta mengingatkan kepada mereka azab yang akan menimpa bila mereka tidak mau meninggalkan kesesatan dan tidak mau tunduk kepada kebenaran yang dibawa rasul-rasul.
Tetapi nabi-nabi dan rasul-rasul itu ditentang, didustakan dan dimusuhi, bahkan ada di antara mereka yang dianiaya sampai dibunuh. Kehadiran para rasul di tengah-tengah mereka itu dipandang sebagai gangguan bagi kemantapan kehidupan mereka, karena itu mereka tetap dalam kesesatan dan kegelapan. Kesudahannya datanglah azab Tuhan menimpa mereka sebagaimana diterangkan Allah dalam firman-Nya:
فَاَمَّ ثَمُوْدُ فَاُهْلِكُوْا بِالطَّاغِيَةِ ٥ وَاَمَّا عَادٌ فَاُهْلِكُوْا بِرِيْحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍۙ ٦ (الحاۤقّة)
Maka adapun kaum Samud, mereka telah dibinasakan dengan suara yang sangat keras, sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin. (al-Ḥāqqah/69: 5-6)
Akṡar al-Awwalīn أَكْثَرُ اْلأَوَّلِيْنَ (aṣ-Ṣāffāt/37: 71)
Akṡar al-awwalīn terdiri dari dua kata, akṡar yang berarti lebih banyak, kebanyakan, atau mayoritas, dan al-awwalīn yang berarti para pendahulu atau orang-orang sebelumnya. Dengan demikian, akṡar al-awwalīn bermakna kebanyakan orang-orang terdahulu. Dalam konteks ayat di atas, Allah menjelaskan bahwa kebanyakan orang-orang terdahulu, yaitu orang-orang yang hidup sebelum kemunculan suku Quraisy, adalah orang-orang yang sesat karena menolak kebenaran. Padahal, waktu itu Allah telah mengutus para penyeru kebenaran dan pemberi peringatan di antara mereka.














































