وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ اَكْثَرُ الْاَوَّلِيْنَۙ
Wa laqad ḍalla qablahum akṡarul-awwalīn(a).
Sungguh, sebelum mereka (kaum Quraisy), benar-benar telah sesat sebagian besar dari orang-orang yang dahulu.
Orang-orang kafir itu, tidak terkecuali kafir Mekah, mendapati nenek moyang mereka sesat dan mereka dengan serta-merta mengikuti kesesatan tersebut. Dan sungguh, sebelum mereka telah sesat dari hidayah Allah sebagian besar dari orang-orang yang dahulu,
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa sebagian besar umat-umat zaman dahulu sebelum Nabi Muhammad saw telah sesat. Mereka menyembah berhala dan mempersekutukannya dengan Tuhan dan seringkali berbuat kerusakan di atas bumi dengan mengadakan peperangan. Hidup mereka didasarkan atas hawa nafsu dan angkara murka. Pemimpin-pemimpin mereka dan pembesar-pembesar negara berlaku aniaya dan menindas rakyat dengan kerja paksa membangun istana-istana dan kuil-kuil tempat penyembahan berhala dan makam-makam raja. Bahkan ada di antara mereka yang mengaku Tuhan dan rakyat dipaksa menyembah mereka. Demikianlah kisah-kisah umat-umat zaman dahulu seperti kaum ‘Ad, Samud, raja Namrud, Fir‘aun, dan lain-lainnya.
Akṡar al-Awwalīn أَكْثَرُ اْلأَوَّلِيْنَ (aṣ-Ṣāffāt/37: 71)
Akṡar al-awwalīn terdiri dari dua kata, akṡar yang berarti lebih banyak, kebanyakan, atau mayoritas, dan al-awwalīn yang berarti para pendahulu atau orang-orang sebelumnya. Dengan demikian, akṡar al-awwalīn bermakna kebanyakan orang-orang terdahulu. Dalam konteks ayat di atas, Allah menjelaskan bahwa kebanyakan orang-orang terdahulu, yaitu orang-orang yang hidup sebelum kemunculan suku Quraisy, adalah orang-orang yang sesat karena menolak kebenaran. Padahal, waktu itu Allah telah mengutus para penyeru kebenaran dan pemberi peringatan di antara mereka.

















































