اَوَاٰبَاۤؤُنَا الْاَوَّلُوْنَۗ
Awa ābā'unal-awwalūn(a).
Apakah nenek moyang kami yang terdahulu (akan dibangkitkan pula)?”
dan apakah nenek moyang kami yang telah terdahulu mati akan dibangkitkan pula?”
Allah menunjukkan keingkaran kaum musyrikin terhadap peristiwa-peristiwa pada hari Kiamat. Kejadian-kejadian pada hari Kiamat itu membingungkan akal mereka. Mereka sama sekali tidak dapat mengerti apa yang dikatakan Nabi Muhammad bahwa tulang-belulang yang berserakan dan sudah menjadi tanah dapat dihidupkan kembali. Lebih mengherankan mereka lagi adalah kebangkitan nenek moyang mereka yang sudah lama terkubur dalam bumi, yang tidak ada bekasnya lagi, sehingga dengan demikian nenek moyang mereka itu tidak dapat hidup kembali. Semua ini ditanyakan mereka kepada Nabi saw.
Ṭīn Lāzib طِيْنٍ لَازِبٍ (aṣ-Ṣāffāt/37: 11)
Aṭ-Ṭīn artinya tanah yang bercampur air, sedangkan al-lāzib artinya sesuatu yang menempel dengan yang lain. Pernyataan ini adalah satu fase dari fase-fase penciptaan Nabi Adam. Fase berikutnya adalah fase tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk(Hama' masnūn). Fase terakhir adalah fase “Tembikar”(ṣalṣāl kalfakhkhār). Setelah itu Allah menghembuskan roh kepadanya.













































