وَتَرَكْنَا فِيْهَآ اٰيَةً لِّلَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ الْعَذَابَ الْاَلِيْمَۗ
Wa taraknā fīhā āyatal lil-lażīna yakhāfūnal-‘ażābal-alīm(a).
Kami meninggalkan suatu tanda (kebesaran-Nya702) di (negeri) itu bagi orang-orang yang takut pada azab yang pedih.
Kami turunkan azab sebagai peringatan bagi mereka yang ingkar, dan Kami telah tinggalkan pula padanya, yaitu negeri Nabi Lut, suatu tanda yang sangat jelas tentang kebesaran dan kekuasaan Kami. Kami menjadikannya pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab yang pedih.
Pada ayat ini Allah swt menerangkan, bahwa peristiwa penghancuran kaum Luṭ hendaknya dijadikan peringatan bagi orang-orang yang takut kepada Allah, dan bekas-bekas peristiwa itu dapat dilihat tanda-tandanya yaitu tumpukan batu-batu tempat diturunkan azab yang telah amblas (masuk ke dalam bumi) dan berbentuk sebuah danau yaitu danau Tabariyah (laut mati). Ayat ini mengandung isyarat, bahwa jika pada sebuah kota terdapat unsur kekafiran dan kefasikan yang sudah merajalela, maka jumlah orang mukmin yang sedikit tidak dapat menghalang-halangi datangnya azab, dan bila mayoritas penduduknya terdiri dari umat yang saleh, maka mereka dapat terpelihara dari azab, walaupun terdapat di dalamnya beberapa orang yang durhaka kepada Tuhan.
1. Khaṭbukum خَطْبُكُمْ (aż-Żāriyāt/51: 31)
Kata khaṭbukum terdiri dari dua kata yaitu khaṭb dengan kum sebagai ḍamīr muttasil dari ḍamīr antum, kata ganti yang digunakan untuk menunjukkan antum (ḍamīr mukhāṭab plural). Kata khaṭb adalah bentuk maṣdar dari kata khaṭaba-yakhṭubu yang berarti urusan atau persoalan yang penting. Dalam khaṭb ini ada makna mengajak berbicara. Khaṭaba artinya mengajak seseorang yang dihadapan kita untuk saling berbicara. Khuṭbah diartikan dengan pembicaraan yang di dalamnya berisi nasihat atau petuah-petuah penting. Khiṭbah adalah istilah dalam fiqh yang berarti proses seorang laki-laki meminang atau meminta seorang perempuan untuk dijadikan sebagai calon istrinya. Pada lafal khiṭbah ini ada sesuatu urusan yang dianggap sangat penting. Kalimat “mā khaṭbukum/ka?” adalah kalimat istifhām untuk menanyakan masalah atau urusan yang menjadikannya datang kepadanya.
Dalam ayat ini, kalimat “mā khaṭbukum” digunakan oleh Nabi Ibrahim ketika beliau didatangi tamu-tamu terhormat yaitu para utusan malaikat atas perintah Allah. Ibrahim bertanya,“Apakah urusan yang ditugaskan Allah kepadamu dengan kehadiran kamu kemari wahai para utusan Allah?” Para Malaikat menjawab, “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang sebagian anggota masyarakatnya melakukan kekejian yang melampaui batas dan menjadi tradisi yaitu perilaku homoseksual yang dilakukan kaum Nabi Luṭ. Kami diutus agar segera menimpakan azab kepada mereka berupa ba-tu-batu dari tanah yang ditandai di sisi Tuhan dan dipersiapkan secara khusus untuk membinasakan para pendurhaka.”
2. Musawwamah مُسَوَّمَةْ (aż-Żāriyāt/51: 34)
Kalimat musawwamah adalah isim maf‘ūl dari kata sāma-yasūmu-saum yang arti asalnya adalah pergi untuk mencari sesuatu. Sāmatul-ibil berarti unta itu pergi mencari makanan. Kata samā juga diartikan dengan menandai atau memberikan sesuatu tanda agar lebih mudah diketahui.
Dalam konteks ayat ini artinya Allah menurunkan azab bagi kaum pendurhaka kaum Nabi Luṭ melalui para malaikat dengan menimpakan batu-batu dari tanah. Batu-batu ini ditandai (musawwamah) oleh Allah swt. dan dipersiapkan secara khusus bagi mereka. Dalam ayat lain disebutkan (Hūd/11: 83) batu-batu tersebut berasal dari Sijjīl (batu dari tanah liat yang dibakar. Sayyid Qutub memahaminya bahwa azab tersebut bisa berupa gempa bumi atau letusan gunung berapi yang mengeluarkan batu-batu. Yang pasti bahwa ini adalah pengaturan khusus dari Allah dalam rangka membinasakan kaum Nabi Luṭ yang telah durhaka.
















































