Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 47 - Surat Aż-Żāriyāt (Yang Menerbangkan)
الذّٰريٰت
Ayat 47 / 60 •  Surat 51 / 114 •  Halaman 522 •  Quarter Hizb 53 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Makkiyah

وَالسَّمَاۤءَ بَنَيْنٰهَا بِاَيْىدٍ وَّاِنَّا لَمُوْسِعُوْنَ

Was-samā'a banaināhā bi'aidiw wa innā lamūsi‘ūn(a).

Langit Kami bangun dengan tangan (kekuatan Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskan(-nya).

Makna Surat Az-Zariyat Ayat 47
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Tidak hanya berkuasa mengazab umat yang durhaka dan ingkar pada ajaran nabi, Allah juga kuasa menciptakan langit dan alam semesta. Dan langit yang terhampar luas di atas kepalamu itu Kami bangun dengan kekuasaan Kami Yang Mahadahsyat dan Mahasempurna, dan Kami benar-benar memiliki kekuasaan yang tidak terbatas sehingga tidak ada yang dapat menghalangi Kami untuk meluaskannya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan bahwa Allah swt telah menciptakan langit dengan bentuk indah yang menyatakan keagungan kekuasaan-Nya seperti diangkat-nya langit di atas dengan kekuasaan-Nya, dijadikan laksana atap yang tinggi dan kokoh. Dan Allah swt kuasa atas semua itu, Dia tidak pernah lelah atau lesu dan tidak pernah pula merasa letih.

Secara tidak langsung ayat ini menyanggah ucapan orang-orang Yahudi yang mengatakan, bahwa Allah swt menjadikan langit dan bumi selama 6 (enam) hari, namun pada hari ketujuh Allah beristirahat dan berbaring di ‘Arasy-Nya karena letih.

Kata ‘langit’ banyak digunakan dalam berbagai ayat Al-Qur’an. Kata ini, dalam beberapa ayat mempunyai arti alam semesta. Demikian pula halnya pada ayat di atas.

Alam semesta bukanlah sesuatu yang statis. Alam semesta adalah sesuatu yang dinamis, selalu berubah, dan meluas. Hal ini terungkap setelah ilmu astronomi mengalami kemajuan yang sangat pesat. Keadaan demikian ini ternyata sudah disebutkan dalam Al-Qur’an 14 abad yang lalu, ketika ilmu astronomi masih sangat primitif.

Sampai dengan permulaan abad ke-20, alam semesta hanya diketahui sebagai sesuatu yang tercipta pada suatu saat yang tidak dapat diketahui masanya, dan mempunyai bentuk seperti apa yang dilihat saat ini. Penelitian, observasi dan perhitungan-perhitungan dengan menggunakan teknologi modern yang tersedia, mengungkapkan bahwa alam semesta memiliki permulaan, dan sampai saat ini secara teratur terus meluas.

Alam semesta adalah kosmos, yaitu ruang angkasa serta semua benda langit yang terdapat di dalamnya, termasuk semua galaksi (tata bintang), baik yang sudah diketahui maupun belum diketahui manusia.

Alam semesta, atau alam raya, tidak dapat dibayangkan luasnya. Para ilmuwan mengukur jarak di alam semesta dengan ukuran tahun cahaya. Satu tahun cahaya sama dengan 9,46 triliun km. Bagian alam semesta paling jauh yang sudah “diketahui” manusia adalah pada jarak 15 milyar tahun cahaya. Pada jarak itu ditemukan banyak gugus super galaksi yang jumlahnya tak terhitung. Bintang yang paling dekat dengan matahari berjarak sekitar 4,3 tahun cahaya dari bumi. Matahari dan semua bintang yang dapat kita lihat dengan mata telanjang terdapat dalam gugus galaksi tatasurya, atau dinamakan gugus bimasakti. Di seluruh alam raya ini, terdapat bermiliar galaksi yang sedang bergerak saling menjauh dengan cepat.

Galaksi diperkirakan memenuhi ruang angkasa sampai jarak 10.000 juta tahun cahaya dari bumi. Jika dalam satu detik, cahaya menempuh jarak  200.000 km, berapa luas ruang angkasa sebenarnya?

Allah meluaskan alam raya sebegitu luasnya sejak diciptakan. Meluasnya alam terus berlangsung sepanjang masa. Hal ini sesuai dengan teori ekspansi yang menyebutkan bahwa nebulae, calon bintang, menjauh dari galaksi bimasakti dengan kecepatan yang berbeda-beda. Bahkan, benda-benda langit dalam satu galaksi pun sedang saling menjauh satu sama lain.

Para peneliti mulai melakukan penelitian mengenai pergerakan benda-benda langit pada tahun 1920-an. Diyakini bahwa pada tahun 1920-an merupakan momentum penting dalam perkembangan astronomi modern. Pada tahun 1922, ahli fisika Rusia, Alexander Friedman, menghasilkan perhitungan yang menunjukkan bahwa struktur alam semesta tidaklah statis. Ia menyebutkan bahwa penyebab sekecil apa pun cukup untuk menyebabkan struktur alam semesta mengembang atau mengerut menurut Teori Relativitas Einstein. George Lemaitre, seorang ahli kosmologi dari Belgia, adalah orang pertama yang menyadari arti perhitungan Friedman. Berdasarkan perhitungan ini, Lemaitre, menyatakan bahwa alam semesta mempunyai permulaan dan alam mengembang sebagai akibat dari sesuatu yang telah memicunya.

Pemikiran teoritis kedua ilmuwan ini tidak menarik banyak perhatian. Pemikiran ini barangkali akan terabaikan, jika tidak ditemukan bukti pengamatan baru yang mengguncangkan dunia ilmiah pada tahun 1929. Pada tahun itu, ahli astronomi Amerika, Edwin Hubble, membuat penemuan paling penting dalam sejarah astronomi. Ketika mengamati sejumlah bintang melalui teleskop raksasanya, dia menemukan bahwa cahaya bintang-bintang itu bergeser ke arah ujung merah spektrum. Pergeseran itu berkaitan langsung dengan perubahan jarak bintang-bintang dari bumi. Peng-amatannya menemukan bahwa suatu galaksi yang berjarak satu juta tahun cahaya dari bumi sedang bergerak menjauh pada kecepatan 168 km per tahun. Alam semesta, dimana benda-benda langitnya secara teratur bergerak saling menjauhi, mengindikasikan bahwa alam semesta itu sendiri juga sedang mengembang.

Pengamatan pada tahun-tahun berikutnya mengungkapkan dan mengkonfirmasi dugaan tersebut. Bintang-bintang tidak hanya menjauh dari bumi; mereka juga menjauhi satu sama lain. Satu-satunya kesimpulan yang dapat diturunkan dari temuan ini adalah bahwa alam semesta sedang "mengembang". Suatu konfirmasi kepada pernyataan yang ada di dalam Al-Qur’an, jauh sebelum hal itu diketahui oleh umat manusia.

Penemuan ini mengguncangkan landasan model alam semesta yang diyakini pada saat itu. Temuannya ini diakui dunia. Namun perhitungannya dianggap salah, dan direvisi kemudian.

Menurut sementara ilmuwan, suatu saat nanti, diperkirakan alam raya ini tidak lagi berkembang. Ia akan mengkerut dan kembali menyatu seperti semula. Kalau peristiwa ledakan dahsyat yang menjadi tanda terbentuknya aneka planet, dan berpisahnya langit dan bumi, dinamai Big Bang; maka penyusutan dan penyatuan alam raya dinamai Big Crunch.

Isi Kandungan Kosakata

1. Bi’aidin بِأَيْدٍ (aż-Żāriyāt/51 : 47)

Kalimat bi'aidin terbentuk dari dua kata yaitu bi sebagai ḥarfu jar dan aid. Kata aid adalah bentuk jamak dari kata yad yang berarti tangan. Kata aid berasal dari kata āda-ya'īdu-aidan yang berarti kekuatan baik secara fisik atau non fisik. At-ta‘yīd berarti menguatkan, dalam firman-Nya “Iż ayyadtuka birūḥil-quds. Dalam ayat ini Allah berfirman: Wassamā'a banaināhā bia'idin. (Dan langit Kami bangun dengan “tangan-tangan” Kami). Rajulun ayyidun artinya lelaki yang sangat kuat. Iyād adalah sesuatu yang bisa menguatkan dan menjaga.

Dalam konteks ayat ini, ulama salaf memahaminya dengan tangan, tetapi tangan-tangan tersebut hanya Allah yang mengetahui dan tidak serupa dengan tangan-tangan makhluk-Nya. Sebagian ulama memahaminya dalam arti kuasa, dan ada juga yang mengartikannya dengan nikmat. Kata ini memang digunakan dalam dua makna di atas secara kiasan atau majazi. Yang pasti makna hakiki tidak mungkin dimaksudkan disini karena Allah Mahasuci dari sifat kemakhlukan. Oleh karena itu, makna ayat ini bisa berarti Allah Mahakuasa, kekuasaan-Nya teramat luas yang apabila tujuh samudera dijadikan tinta untuk menuliskan kekuasaan-Nya maka tidaklah cukup. Kekuasaan yang tidak ada batasan dan tidak ada tandingannya. Langit, bumi, dan alam semesta merupakan bukti atas kekuasaan-Nya yang tidak bertepi. Kalimat ini juga bisa berarti Allah Mahaluas nikmat-Nya, sehingga tidak ada satu pun yang tidak memperolehnya. Dan betapa pun Dia menganugerahkannya kepada setiap wujud maka yang terambil hanya bagaikan setetes dari air samudera.

2. Mūsi‘ūn مُوْسِعُوْنَ (aż-Żāriyāt/51: 47)

Kata al-Mūsi‘ūn merupakan bentuk jamak dari kata mūsi‘ yang berasal dari kata wasi‘a yang memiliki arti keluasan. Dari sini lahir makna seperti kaya, cukup, mampu, meliputi, langkah yang panjang dan sebagainya.

Dalam ayat ini Allah menjelaskan tentang kemahaluasan ilmu dan kekuasaan yang dimiliki-Nya. Kekuatan dan kemahaluasan ini sangat jelas terlihat pada penciptaan langit yang demikian kokoh dan serasi. Samā'. dalam arti lintasan bintang-bintang atau planet, maupun kumpulan dari planet-planet yang disebut dengan galaksi yang menghimpun miliaran bintang atau apa pun itu namanya, kesemuanya menjelaskan tentang kemahaluasan ciptaan dan ilmu Allah. Kemahaluasan ini mengisyaratkan tentang perbendaharaan rezeki Allah yang telah dinyatakan dalam ayat sebelumnya. Sebagian ulama mengisyaratkan bahwa kata lamūsi‘ūn mengindikasikan adanya beberapa rahasia ilmiah. Di antaranya bahwa Allah menciptakan alam ini dengan kekuasaan-Nya. Alam semesta ini menyimpan rahasia yang teramat luas dan tak terbatas. Yang kita lihat dengan kasat mata hanyalah sebagian kecil dari kemahaluasan tersebut. Ayat ini juga menunjukkan bahwa meluasnya alam terus berlangsung sepanjang masa atau dalam teori modern disebut dengan teori ekspansi. Menurut teori ini, nebula di luar galaksi tempat kita tinggal menjauh dari kita dengan kecepatan yang berbeda-beda, bahkan benda-benda langit dalam suatu galaksi pun saling menjauh satu sama lainnya. Jadi wa innā lamūsi‘ūn berarti “Sesungguhnya Kami Maha Memperluas alam raya ini.”

3. Al-Māhidūna الْمَاهِدُوْنَ (aż-Żāriyāt/51: 48)

Kata al-māhidūn adalah bentuk jamak dari kata al-māhid yang berasal dari kata mahada yang berarti sesuatu yang dipersiapkan bagi seorang bayi. Al-Qur’an menggunakannya pada kisah Nabi Isa yang mampu berbicara ketika dalam buaian/ayunan “Kaifa nukallimu man kāna fil-mahdi ṣabiyyā” (Maryam/19: 29). Al-Mahd atau al-mihād adalah sebutan untuk tempat yang dibentangkan atau dihamparkan, (Ṭāhā/20: 53, az-Zukhruf/43: 10)

Pada ayat ini Allah swt menjelaskan bahwa dengan kekuasaan-Nya Dia menjadikan bumi sebagai tempat hunian manusia dalam keadaan terham-par dan Dia adalah sebaik-baik penghampar.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto