وَلَا تَجْعَلُوْا مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۗ اِنِّيْ لَكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ
Wa lā taj‘alū ma‘allāhi ilāhan ākhar(a), innī lakum minhu nażīrum mubīn(un).
Janganlah kamu mengadakan tuhan lain bersama Allah. Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu.”
Dan untuk kembali kepada-Nya janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain untuk disembah selain Allah. Sungguh, aku merupakan seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untuk kebaikan dan kesejahteraanmu.
Kemudian Allah swt dalam ayat ini melarang manusia menjadikan sesuatu sembahan di samping-Nya. Karena segala sesuatu selain Allah tidak patut disembah. Pada akhir ayat ini Allah swt memerintahkan kepada rasul-Nya agar menegaskan bahwa ia sesungguhnya pemberi peringatan yang sebe-narnya dari Allah, untuk menyampaikan peringatan akan adanya siksaan Allah bagi siapa saja yang menjadikan suatu makhluk sebagai tujuan ibadat dan disembah. Dalam ayat yang sama artinya Allah swt berfirman:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا
Barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (al-Kahf/18: 110)
1. Bi’aidin بِأَيْدٍ (aż-Żāriyāt/51 : 47)
Kalimat bi'aidin terbentuk dari dua kata yaitu bi sebagai ḥarfu jar dan aid. Kata aid adalah bentuk jamak dari kata yad yang berarti tangan. Kata aid berasal dari kata āda-ya'īdu-aidan yang berarti kekuatan baik secara fisik atau non fisik. At-ta‘yīd berarti menguatkan, dalam firman-Nya “Iż ayyadtuka birūḥil-quds. Dalam ayat ini Allah berfirman: Wassamā'a banaināhā bia'idin. (Dan langit Kami bangun dengan “tangan-tangan” Kami). Rajulun ayyidun artinya lelaki yang sangat kuat. Iyād adalah sesuatu yang bisa menguatkan dan menjaga.
Dalam konteks ayat ini, ulama salaf memahaminya dengan tangan, tetapi tangan-tangan tersebut hanya Allah yang mengetahui dan tidak serupa dengan tangan-tangan makhluk-Nya. Sebagian ulama memahaminya dalam arti kuasa, dan ada juga yang mengartikannya dengan nikmat. Kata ini memang digunakan dalam dua makna di atas secara kiasan atau majazi. Yang pasti makna hakiki tidak mungkin dimaksudkan disini karena Allah Mahasuci dari sifat kemakhlukan. Oleh karena itu, makna ayat ini bisa berarti Allah Mahakuasa, kekuasaan-Nya teramat luas yang apabila tujuh samudera dijadikan tinta untuk menuliskan kekuasaan-Nya maka tidaklah cukup. Kekuasaan yang tidak ada batasan dan tidak ada tandingannya. Langit, bumi, dan alam semesta merupakan bukti atas kekuasaan-Nya yang tidak bertepi. Kalimat ini juga bisa berarti Allah Mahaluas nikmat-Nya, sehingga tidak ada satu pun yang tidak memperolehnya. Dan betapa pun Dia menganugerahkannya kepada setiap wujud maka yang terambil hanya bagaikan setetes dari air samudera.
2. Mūsi‘ūn مُوْسِعُوْنَ (aż-Żāriyāt/51: 47)
Kata al-Mūsi‘ūn merupakan bentuk jamak dari kata mūsi‘ yang berasal dari kata wasi‘a yang memiliki arti keluasan. Dari sini lahir makna seperti kaya, cukup, mampu, meliputi, langkah yang panjang dan sebagainya.
Dalam ayat ini Allah menjelaskan tentang kemahaluasan ilmu dan kekuasaan yang dimiliki-Nya. Kekuatan dan kemahaluasan ini sangat jelas terlihat pada penciptaan langit yang demikian kokoh dan serasi. Samā'. dalam arti lintasan bintang-bintang atau planet, maupun kumpulan dari planet-planet yang disebut dengan galaksi yang menghimpun miliaran bintang atau apa pun itu namanya, kesemuanya menjelaskan tentang kemahaluasan ciptaan dan ilmu Allah. Kemahaluasan ini mengisyaratkan tentang perbendaharaan rezeki Allah yang telah dinyatakan dalam ayat sebelumnya. Sebagian ulama mengisyaratkan bahwa kata lamūsi‘ūn mengindikasikan adanya beberapa rahasia ilmiah. Di antaranya bahwa Allah menciptakan alam ini dengan kekuasaan-Nya. Alam semesta ini menyimpan rahasia yang teramat luas dan tak terbatas. Yang kita lihat dengan kasat mata hanyalah sebagian kecil dari kemahaluasan tersebut. Ayat ini juga menunjukkan bahwa meluasnya alam terus berlangsung sepanjang masa atau dalam teori modern disebut dengan teori ekspansi. Menurut teori ini, nebula di luar galaksi tempat kita tinggal menjauh dari kita dengan kecepatan yang berbeda-beda, bahkan benda-benda langit dalam suatu galaksi pun saling menjauh satu sama lainnya. Jadi wa innā lamūsi‘ūn berarti “Sesungguhnya Kami Maha Memperluas alam raya ini.”
3. Al-Māhidūna الْمَاهِدُوْنَ (aż-Żāriyāt/51: 48)
Kata al-māhidūn adalah bentuk jamak dari kata al-māhid yang berasal dari kata mahada yang berarti sesuatu yang dipersiapkan bagi seorang bayi. Al-Qur’an menggunakannya pada kisah Nabi Isa yang mampu berbicara ketika dalam buaian/ayunan “Kaifa nukallimu man kāna fil-mahdi ṣabiyyā” (Maryam/19: 29). Al-Mahd atau al-mihād adalah sebutan untuk tempat yang dibentangkan atau dihamparkan, (Ṭāhā/20: 53, az-Zukhruf/43: 10)
Pada ayat ini Allah swt menjelaskan bahwa dengan kekuasaan-Nya Dia menjadikan bumi sebagai tempat hunian manusia dalam keadaan terham-par dan Dia adalah sebaik-baik penghampar.

















































