لَقَدْ جِئْنٰكُمْ بِالْحَقِّ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كٰرِهُوْنَ
Laqad ji'nākum bil-ḥaqqi wa lākinna akṡarakum lil-ḥaqqi kārihūn(a).
Sungguh, Kami benar-benar telah datang kepada kamu dengan (membawa) kebenaran, tetapi kebanyakan kamu benci kepada kebenaran itu.
Ayat-ayat yang lalu menggambarkan siksaan yang amat pedih yang di rasakan di dalam neraka oleh orang-orang yang kafir terhadap wahyu-wahyu Allah. Ayat berikut menggambarkan pengingkaran orang-orang Mekah terhadap kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami melalui rasul yang telah Kami utus dan wahyu-wahyu yang Kami turunkan benar-benar telah membawa kebenaran yang amat sempurna kepada kamu yang bersumber dari Kami, tetapi kebanyakan di antara kamu benar-benar benci pada kebenaran itu sehingga kamu tidak mau mempercayainya.
Kepada orang-orang yang sedang diazab dalam neraka itu dikatakan, “Hai orang-orang kafir, sesungguhnya Kami telah menerangkan semua yang benar dan jalan yang lurus dengan perantaraan rasul-rasul dan kitab-kitab Kami pada waktu kamu di dunia dahulu. Akan tetapi kamu tidak menerima kebenaran itu, bahkan kamu membenci kebenaran itu serta orang-orang yang mengikuti kebenaran itu. Karena itu, celakalah dirimu sekarang dan sesalilah sendiri, pada saat semua penyesalan tidak berguna lagi dan tobat telah pula tertutup.
Mublisūn مُبْلِسُوْنَ (az-Zukhruf/43: 75)
Kata mublisūn adalah isim fa‘il dalam bentuk jamak dari mublis, dari fi‘il (kata kerja) ablasa yang berarti duka cita, putus asa dan bingung. Kata mublisūn dan yang seakar dengannya disebutkan 5 kali dalam Al-Qur’an, yaitu dalam Surah ar-Rūm/30: 12, 49, al-An‘ām/6: 44, al-Mu'minūn/23: 77 dan az-Zukhruf/43: 75.
Surah az-Zukhruf/43: 75 tersebut berbicara dalam konteks siksaan terhadap para pendurhaka yang mantap kedurhakaannya ketika mereka berada dalam wadah siksaan neraka Jahanam yang meliputi seluruh totalitasnya dan yang akan mereka alami selama-lamanya, tidak akan dihentikan atau diringankan siksa itu dari mereka dan akhirnya mereka didalamnya lunglai tidak mampu melakukan apa pun, karena mereka semua telah berputus asa.

















































