اَللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَۙ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ۚ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُدَى اللّٰهِ يَهْدِيْ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ هَادٍ
Allāhu nazzala aḥsanal-ḥadīṡi kitābam mutasyābiham maṡāniy(a), taqsya‘irru minhu julūdul-lażīna yakhsyauna rabbahum, ṡumma talīnu julūduhum wa qulūbuhum ilā żikrillāh(i), żālika hudallāhi yahdī bihī may yasyā'(u), wa may yuḍlilillāhu famā lahū min hād(in).
Allah telah menurunkan perkataan yang terbaik, (yaitu) Kitab (Al-Qur’an) yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang.662) Oleh karena itu, kulit orang yang takut kepada Tuhannya gemetar. Kemudian, kulit dan hati mereka menjadi lunak ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dibiarkan sesat oleh Allah tidak ada yang dapat memberi petunjuk.
Allah telah menurunkan perkataan yang memiliki susunan kata dan kandungan paling baik, yaitu Al-Qur’an yang serupa keindahan susunan antara ayat-ayatnya lagi disebut berulang-ulang baik redaksi, hukum, pelajaran, maupun kisahnya agar membawa pengaruh kuat pada diri pembacanya. Allah menurunkan Al-Qur’an yang gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya ketika mendengar peringatan dan ancaman di dalamnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah dan mendengar berita serta janji yang menggembirakan. Itulah petunjuk Allah bagi orang-orang yang mau mendengarkan; dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa dibiarkan sesat dari jalan kebenaran oleh Allah lantaran lebih memilih jalan kesesatan dan berpaling dari kebenaran daripada mengikuti tuntunan Rasulullah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi-nya petunjuk dan menuntunnya menuju jalan kebenaran.
Allah menerangkan bahwa Dia menurunkan perkataan yang paling baik, yaitu Al-Qur’an yang mulia, sebahagian ayat-ayatnya mempunyai kemiripan baik dalam menjelaskan hukum-hukum, kebenaran, pelajaran, mengemukakan hujah, hikmah-hikmah, dan sebagainya, sebagaimana beberapa bagian air menyerupai beberapa bagian udara, beberapa bagian suatu negeri menyerupai beberapa bagian negeri yang lain. Karena ada suatu kisah diulang-ulang menyebutnya di beberapa tempat, demikian pula perintah-perintah, larangan-larangan, dan sebagainya. Orang-orang yang beriman, bila mereka mendengar bacaan Al-Qur’an meremang bulu romanya, dan bergoncang hatinya karena takut kepada Allah. Hal itu mendorong hati mereka mengikuti semua perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan-Nya. Jiwa mereka menjadi hidup, semangat mereka bertambah untuk melaksanakan amal-amal yang saleh dan berjihad di jalan-Nya.
Dengan Al-Qur’an, Allah memberikan petunjuk kepada hamba-hamba-Nya, membimbing orang-orang yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus serta mempertebal iman di dalam hatinya. Tetapi orang yang disesatkan hatinya, mereka hampa dan kosong, mereka tidak akan memperoleh manfaat sedikit pun dari Al-Qur’an itu.
1. Li al-Qāsiyah Qulūbuhum لِلْقَاسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ (az-Zumar/39: 22)
Kata qāsiyah adalah isim fā‘il dari kata qasā-yaqsū-qaswatan yang berarti keras. Pada mulanya kata ini digunakan untuk hati, dan selanjutnya ia digunakan untuk segala hal. Kata arḍ qāsiyah berarti tanah yang tidak bisa menumbuhkan suatu tanaman. Kata qaswah juga bisa digunakan untuk menyifati waktu, seperti kata ‘amun qasiyyun yang berarti tahun kekeringan, dan seperti kata lailah qāsiyah yang berarti malam yang sangat gulita.
Kata qulūb adalah jamak dari kata qalb. Kata qalb secara fisik berarti jantung, dan secara spiritual berarti hati. Makna kedua inilah yang dimaksud pada kata ini. Kata qalb terbentuk dari kata qalaba-yaqlibu-qalban yang berarti membalik. Kalimat qalaba al-arḍ berarti ia membalik tanah atau membajak. Hati atau jantung disebut qalb karena ia berbolak-balik dari satu kondisi ke kondisi lain. Qaswatul qalbi berarti hilangnya kelembutan, rahmat, dan ketundukan dari hati. Dan yang dimaksud dengan al-qāsiyah qulūbuhum di sini adalah orang-orang yang hatinya telah menjadi keras dan berpaling dari peringatan Allah, yaitu Al-Qur’an.
2. Taqsya‘irru تَقْشَعِرُّ (az-Zumar/39: 23)
Kata taqsya‘irru adalah fi‘il muḍāri‘ dari iqsya‘arra-yaqsya‘irru-i qsyi‘rāran. Ia terbentuk dari kata qasy‘ara-yuqasy‘iru-qasy ‘aratan. Kata ini hanya sekali disebut di dalam Al-Qur’an, yaitu pada ayat ini. Kalimat taqsya‘irru maknanya berkisar pada mengerut, menggigil, gemetar, dan menjadi kasar. Dan yang dimaksud di sini adalah gemetar karena takut terhadap ancaman yang terdapat di dalamnya.















































