لَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ ذٰلِكَ جَزَاۤءُ الْمُحْسِنِيْنَۚ
Lahum mā yasyā'ūna ‘inda rabbihim, żālika jazā'ul-muḥsinīn(a).
Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhannya. Itulah balasan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.
Sebagai penghargaan dari Allah, mereka memperoleh apa saja yang mereka kehendaki yang terdapat di sisi Tuhannya. Demikianlah karunia yang besar sebagai balasan dan anugerah bagi orang-orang yang berbuat baik.
Mereka akan memperoleh pahala dan kehormatan di sisi Allah yang selalu mereka taati dan sembah. Di dalam surga, mereka akan memperoleh apa saja yang mereka kehendaki di sisi Allah. Dalam beberapa hadis yang sahih dijelaskan bahwa dalam surga mereka akan menjumpai berbagai nikmat yang belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbayang dalam hati. Itulah balasan bagi mereka yang selalu mengutamakan amal kebajikan, dengan hati yang ikhlas dalam keadaan sembunyi atau terang-terangan, yang selalu menjaga amal perbuatan dan ucapan mereka, baik mengenai soal berat atau ringan, yang besar maupun yang kecil. Mereka menghadapi semua itu dengan penuh rasa tanggung jawab.
1. Maṡwā مَثْوًى (az-Zumar/39: 32)
Kata maṡwā berasal dari kata kerja ṡawā-yaṡwī, yang artinya bertempat tinggal. Dengan demikian, maṡwa dapat diartikan sebagai tempat tinggal. Pada ayat ini, kata tersebut dipergunakan untuk menyebut neraka yang merupakan tempat tinggal bagi mereka yang kafir atau melakukan kejahatan. Ini artinya, bahwa para pendosa kelak pasti mendapat balasan dari setiap kejahatan yang dilakukannya. Balasan itu berupa hukuman atau siksaan di neraka Jahanam.
2. Al-Muḥsinīn الْمُحْسِنِيْن َ (az-Zumar/39: 34)
Kata al-muḥsinīn berasal dari kata kerja aḥsana-yuḥsinu-iḥsān, yang artinya melakukan kebaikan. Rasulullah saw menjelaskan makna iḥsān sebagai “beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan bila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu”. Dengan demikian, perintah ihsan bermakna perintah melakukan kegiatan positif, seakan-akan pada saat itu engkau melihat Tuhan, atau merasa diawasi oleh-Nya. Kesadaran akan adanya pengawasan melekat ini mendorong seseorang untuk selalu ingin berbuat sebaik mungkin. Al-Muḥsinīn merupakan ism fā‘il. Penggunaan demikian memberi pengertian bahwa yang disebut muḥsin adalah orang-orang yang selalu berbuat kebaikan secara terus-menerus. Oleh karena itu, mereka layak mendapat balasan dari Allah seperti yang mereka inginkan.
















































